tirto.id - Warga menceritakan pengalaman mereka terkait kejadian banjir di Cipaganti, Bandung. Salah satu warga, Lina Kusmiati (59), menilai banjir kali ini merupakan banjir terparah. Sebab, Lina mengaku baru kali itu rumah yang ditempati selama 59 tahun di Jalan Siliwangi RT 09 RW 01, Cipaganti, Coblong, jebol diterjang air dari tanggul yang runtuh.
"Pertama kali kejadian dan separah ini," kata Lina lirih saat diwawancara tirto.id di kediamannya, Sabtu (31/10/2026) siang.
Lina mengingat hujan turun tiga kali. Pertama hujan sempat turun saat Magrib, lalu mereda. Kedua, air di saluran mulai membesar. Ketiga, sekitar pukul 19.30 WIB, hujan turun dengan sangat deras.
Saat itu, ia masih berada di bagian atas rumah. Ia hendak memotret kondisi tanggul di depan masjid atau belakang rumahnya yang memang sedang dalam tahap perbaikan. Namun sebelum sempat mengabadikannya, tanggul itu sudah jebol.
Dari lokasi perbaikan, terdengar suara benturan besi. "Bunyi tang-teng-tong," kenangnya. "Enggak sampai setengah jam, langsung jebol. Airnya langsung ke bawah banget," ujar Lina.
Air tidak masuk dari depan, melainkan memutar lewat pintu belakang dan merendam seisi rumah hingga sedada.
Di dalam rumah, Lina hanya bersama dua anaknya. Dalam kepanikan, ia memprioritaskan dokumen penting. Sebagian pakaian berhasil diselamatkan, namun perabotan seperti kulkas, mesin cuci, dan kasur tidak sempat.
Di tengah arus itu, anak keduanya sempat terjepit lemari yang ambruk terdorong air. Beruntung, tidak ada cedera serius. "Alhamdulillah enggak cedera," ucapnya.
Kini, dinding rumahnya bolong, struktur rusak. Beberapa pekerja proyek bersama petugas kelurahan dan kecamatan telah membantu membersihkan lumpur. Namun, rumah itu belum bisa ditempati.
Malam tadi, Lina dan anak-anaknya mengungsi ke rumah seorang teman di kawasan yang lebih tinggi. Ia belum tahu sampai kapan harus menumpang.
"Penginnya pemerintah cepat memperbaiki rumah saja. Masa mau nebeng terus di rumah orang? Soalnya ibu tidak bisa tidur di rumah," harapnya.
Ia mengaku trauma untuk kembali tidur di lantai bawah. "Kalau di bawah enggak mau, takutnya kejadian lagi, tapi amit-amit ya," kata Lina.
Menurut Lina, rumahnya menjadi yang paling parah terdampak dalam peristiwa tersebut.
Sedangkan, menurut catatan resmi BPBD Kota Bandung menunjukkan, peristiwa jebolnya tanggul di Cipaganti berdampak di area seluas 3 kilometer persegi, dengan total 112 jiwa dari 34 rumah terdampak.
Dari jumlah tersebut, 2 rumah dikategorikan rusak berat, 1 rumah rusak ringan, sementara 10 jiwa terpaksa mengungsi.
Penulis: Ery Chandra
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id
































