Menuju konten utama

Capaian Swasembada Pangan 2026: Beras-Jagung Kini Tak Lagi Impor

Indonesia kini sudah mencapai swasembada pangan untuk sumber karbohidrat dan protein. Konsumsi nasional bisa dipenuhi tanpa impor.

Capaian Swasembada Pangan 2026: Beras-Jagung Kini Tak Lagi Impor
Petani sedang menanam padi. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebagian besar kebutuhan konsumsi pangan masyarakat kini ditopang produksi dalam negeri. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan pokok strategis Indonesia tergolong tangguh, sehingga dapat dikatakan telah mencapai swasembada pangan.

Hal tersebut bisa dilihat berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 yang disusun Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama kementerian dan lembaga terkait. Dari 10 jenis pangan pokok strategis, 8 komoditas diproyeksikan memiliki ketersediaan yang melampaui kebutuhan nasional, di antaranya beras, jagung, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula.

Perjalanan Swasembada Pangan

Pada tahun 2024, Indonesia masih bergantung pada impor. Bahkan untuk menjaga pasokan nasional, pada tahun tersebut masih mengimpor 4,5 juta ton beras. Jumlahnya naik sekitar 47 persen dari 3,06 juta ton pada 2023.

Kemudian tahun 2025 menjadi momen titik balik. Indonesia berhasil menghentikan impor beras medium, disusul dengan meningkatnya produksi nasional.

Produksi beras mencapai 34,71 juta ton dengan surplus 3,52 juta ton. Pada tahun yang sama, impor jagung pakan, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai, dan bawang merah juga berhenti. Secara hitungan kasar, surplus itu hampir setara dengan volume beras yang diimpor setahun sebelumnya.

Lalu pada tahun 2026 ini, pemerintah mengukuhkan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan. Dibuktikan dengan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menembus rekor, serapan gabah melampaui target, dan carry over stock beras sebanyak 12 juta ton pada tahun ini.

Angka ini sejalan dengan target swasembada pangan Prabowo, di mana sejak awal Pemerintah menempatkan pangan sebagai prioritas utama pembangunan nasional. Swasembada pangan di Indonesia dilihat sebagai fondasi kedaulatan negara, bukan sekadar agenda sektoral.

Swasembada Beras

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) dalam pemaparan RAPBN 2027 mengatakan bahwa Indonesia berhasil mencapai swasembada beras di tahun 2025. Menurutnya, Indonesia berhasil mencatat surplus produksi beras 4,2 juta ton pada tahun itu, berbalik dari kondisi 2024.

Stok yang tersedia pun berlapis. Hingga akhir Juli 2026, pemerintah mencatat standing crop atau padi yang masih di sawah setara sekitar 10 juta ton beras. Stok di rumah tangga, penggilingan, pedagang, industri pengolahan, hingga hotel, restoran, dan kafe ada sekitar 10 juta ton. Ditambah CBP yang dikelola Perum Bulog mencapai 5,25 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, juga menyebut target carry over stock ke 2027 mencapai 16 juta ton.

Dari sisi hulu, diwujudkan melalui keberpihakan Pemerintah kepada petani padi dengan menugaskan Perum Bulog menyerap gabah petani. Sejak 2025, cadangan beras Bulog sepenuhnya dipasok dari hasil panen petani Indonesia, tanpa impor.

Hingga 11 Oktober 2026, realisasi pengadaan beras melalui skema Public Service Obligation (PSO) mencapai 4.131.492 ton setara beras. Angka itu setara 103,29 persen dari target penugasan kepada Perum Bulog sebesar 4 juta ton, sehingga target terlampaui sebelum akhir tahun.

Swasembada Jagung

Selain beras, pemerintah juga menargetkan swasembada jagung. Tercatat bahwa jagung pakan pun berhenti impor sejak tahun 2025, disusul daging ayam ras, telur ayam ras, cabai, hingga bawang merah.

Peningkatan ini beriringan dengan kinerja produksi jagung nasional yang meningkat. Berdasarkan angka tetap Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 16,16 juta ton, meningkat 6,74 persen dibandingkan tahun 2024.

BPS juga memproyeksikan potensi produksi jagung pada periode Januari-Maret 2026 mencapai 4,94 juta ton, naik 4,18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk keseluruhan 2026, produksi jagung diproyeksikan 18 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional diperkirakan sebesar 16,44 juta ton. Dengan demikian, neraca jagung diproyeksikan mengalami surplus sekitar 1,56 juta ton. Produksi jagung dan garam konsumsi juga dinilai telah mencukupi kebutuhan dalam negeri, kecuali untuk kebutuhan industri.

Selain mendorong produksi, keterjangkauan harga pun terus dijaga agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat, didukung dengan kebijakan pro-petani dan penguatan produksi dari hulu hingga hilir.

Komoditas seperti beras, jagung, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, hingga swasembada gula diproyeksikan tercapai dengan produksi sendiri. Delapan komoditas ini pun dinyatakan telah menjadi capaian swasembada pangan.

Produksi kedelapan komoditas itu diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton, sementara kebutuhan nasional 68,22 juta ton, sehingga ada surplus agregat sekitar 4,69 juta ton. Komoditas yang masih diimpor hanya kedelai dan bawang putih.

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan Indonesia sudah meraih swasembada pangan sumber karbohidrat dan protein. Menurutnya, produksi dalam negeri mampu menopang kebutuhan konsumsi nasional tanpa bergantung pada impor.

Program Swasembada Pangan, Strategi dari Hulu ke Hilir

Pemerintah membangun kembali sistem produksi pangan nasional dari hulu hingga hilir melalui berbagai kebijakan, seperti penyederhanaan regulasi, optimalisasi lahan, cetak sawah baru, hingga kemudahan akses pupuk melalui pembenahan tata kelola pupuk nasional, agar ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan harga bagi petani terjamin.

Di tengah berbagai upaya penguatan sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai level tertinggi dalam 34 tahun.

Capaian ini makin menonjol jika dibandingkan kondisi global. Dalam laporan Food Outlook, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memproyeksikan produksi beras dunia musim 2026/2027 turun menjadi sekitar 552,4 juta ton. Penyebabnya adalah tekanan iklim, menurunnya keuntungan usaha tani, dan berkurangnya luas tanam di negara produsen utama seperti Thailand, Amerika Serikat, Brasil, dan Kamboja.

Menariknya, Thailand dan Vietnam adalah dua negara yang pada 2024 menjadi pemasok terbesar beras impor Indonesia. Thailand menyumbang sekitar 30 persen dari total impor, disusul Vietnam sekitar 28 persen. Kini, di tengah tekanan pasokan global, produksi beras Indonesia diproyeksikan meningkat sehingga memperkuat ketahanan pangan nasional.

Di tengah tren itu, pada laporan Food Outlook FAO edisi Juni 2026, FAO memperkirakan produksi beras Indonesia mencapai 38,6 juta ton pada musim 2026/2027. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh, sekaligus produsen terbesar di ASEAN.

Selanjutnya, dalam satu hingga dua bulan ke depan, pemerintah memprioritaskan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), khususnya NTT, Papua, dan Maluku. Sasaran lainnya adalah pemenuhan gizi bagi sekitar 11 juta ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Bagi Kementerian Pertanian, ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah meningkatnya kesejahteraan petani. Karena itu, kebijakan diarahkan tidak hanya menaikkan hasil panen, tetapi juga menjaga harga gabah di tingkat petani, memperbaiki distribusi pupuk, memperluas mekanisasi, dan mempercepat pembangunan irigasi. Mentan Amran menegaskan program peningkatan produksi akan terus diperkuat agar swasembada pangan menjadi fondasi yang berkelanjutan.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis