tirto.id - Sebuah video beredar di media sosial Instagram mengklaim adanya penyelundupan solar bersubsidi di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan diduga melibatkan jaringan yang terhubung dengan pejabat tinggi pemerintahan.
Video tersebut disebarkan oleh akun Instagram @leychazulay (arsip) pada Minggu (11/10/2026). Video berdurasi 59 detik tersebut menggambarkan suasana di area pelabuhan peti kemas. Di sisi kiri terlihat sebuah kapal tanker besar bersandar di dermaga, berdampingan dengan antrean panjang truk tangki bahan bakar berwarna merah-putih berlogo Pertamina yang dijaga ketat oleh sejumlah personel bersenjata lengkap.
“Berita viral hari ini, kawasan Tanjung Priok jakut kembali menjadi sorotan setelah muncul dugaan praktik penyelundupan solar bersubsidi yang disebut-sebut melibatkan jaringan bisnis gelap. Dalam sebuah operasi, aparat dilaporkan berhasil mengagalkan sejumlah truk pengangkut solar yang diduga hendak dialihkan ke sebuah kapal tanker untuk kemudian dikirim ke luar negeri. Kasus ini semakin menjadi perhatian karena muncul dugaan adanya keterlibatan jaringan yang terhubung dengan Oknum Pejabat Tinggi Pemerintahan.
Jika terbukti, praktik tersebut berpotensi menimbulkan kerugian negara dalam jumlah sangat besar. Aparat pun didesak untuk mengusut kasus ini secara menyeluruh, termasuk menelusuri siapa saja yang berada di balik dugaan jaringan mafia energi tersebut. Publik ini menunggu langkah tegas aparat.
Apakah benar ada pejabat atau pihak berpengaruh yang berada di balik praktik ini? Semua harus dibuktikan melalui proses hukum dan penyelidikan yang transparan. Tekan like, komen, dan bagikan video ini sebanyak-banyaknya jika kalian setuju. Semua para mafia harus diberantas saja.” Begitu narasi diucapkan dalam video.
Sampai artikel ini ditulis pada Kamis (15/10/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 7682 tanda suka, 1672 komentar, 2462 kali dibagikan, dan 141 ribu kali ditayangkan.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Instagram @adelia71159 dan @alunggunawan75 yang menampilkan video serupa terkait penyelewengan solar bersubsidi di Tanjung Priok.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

Penelusuran Fakta
Untuk menelusuri kebenaran klaim, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) dengan menggunakan mesin pencarian Google. Hasilnya tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.
Lebih lanjut, Tirto memperhatikan video dengan seksama. Tirto menemukan beberapa kejanggalan, seperti bentuk fisik truk tangki yang tidak realistis, badan tangki tampak bersambung rapat tanpa jarak antar kendaraan.
Selain itu, terdapat distorsi tipografi khas rekayasa kecerdasan buatan (AI), seperti tulisan "PERTAMINA" pada truk bagian depan yang cacat dan tidak terbaca jelas secara presisi. Detail lain seperti arah bayangan personel yang tidak konsisten dengan sudut cahaya matahari serta struktur derek pelabuhan di latar belakang yang tampak acak dan tidak fungsional.
Kemudian, Tirto memeriksa keaslian video dengan menggunakan Hive Moderation untuk mendeteksi penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam video tersebut. Berdasarkan hasil deteksi AI di Hive Moderation oleh Tirto, persentase penggunaan AI atau peluang konten itu adalah video deepfake mencapai 99,9 persen.
Selain itu, video ini tampak tidak natural dan terdapat label “Konten AI”. Label ini adalah penanda kalau konten tersebut merupakan hasil modifikasi atau sintetis yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan. Klasifikasinya suara atau visual disunting atau dibuat secara digital.
Dalam pemberitaan Tirto sebelumnya, klaim serupa pernah beredar mencatut nama Ahmad Sahroni yang ditulis pada 5 Oktober 2025. Klaim tersebut disebarkan oleh akun Instagram pada Kamis (4/9/2025).
Di dalam video tampak banyak truk tangki milik Pertamina berjejer di sebuah pelabuhan yang diklaim Tanjung Priok. Video juga memperlihatkan anggota TNI sedang mengerumuni truk seolah-olah tengah melakukan pemeriksaan.
Pihak Pertamina dalam keterangan resminya juga menyebut kalau video yang beredar di media sosial tersebut adalah konten buatan AI. Narasinya pun mereka bantah.
“Berdasarkan Konten yang tersebar, maka disinyalir konten tersebut adalah produk AI dilihat dari tampilan dan narasinya,” tulis Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso kepada Tirto, Jumat (5/9/2025).
Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk terus melakukan verifikasi terhadap konten-konten yang beredar. “Pertamina mengimbau untuk selalu melakukan verifikasi pada konten-konten yang dihasilkan oleh Artificial Intelligence."
Dalam pernyataannya Fadjar juga mengungkapkan kalau Pertamina melaksanakan bisnis mengacu pada tata aturan dan hukum serta perundang-undangan yang berlaku. “Pertamina mengutuk keras segala praktik bisnis yang melanggar aturan dan kepatuhan dalam hal kepentingan pribadi atau golongan,” tambahnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa visual dalam video serupa bukan dokumentasi autentik operasi aparat, melainkan konten buatan AI yang dikemas menyerupai peristiwa nyata. Karena itu, video tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa penggerebekan penyelundupan solar sebagaimana dinarasikan benar-benar terjadi.
Melansir ANTARA, penyalahgunaan solar bersubsidi di kawasan Tanjung Priok dan Jakarta Utara memang pernah diungkap aparat pada 25 Mei 2022. ANTARA melaporkan, Bareskrim Polri mengamankan kapal Permata Nusantara V di perairan Tanjung Priok. Kapal tersebut menjadi barang bukti dalam kasus penyalahgunaan solar bersubsidi yang diungkap di Pati, Jawa Tengah. Polisi saat itu menyebutkan telah menetapkan 12 orang sebagai tersangka dalam perkara di Pati.
Selain itu menurut Medcom.id, pada 3 September 2022 dituliskan laporan terkait pengungkapan penimbunan 2,7 ton solar bersubsidi di kawasan Berikat Nusantara, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Polisi mengungkap seorang tersangka menggunakan truk trailer yang telah dimodifikasi untuk mengangkut solar dari sejumlah SPBU. Solar tersebut kemudian dipindahkan ke tangki penampungan.
Kedua pemberitaan tersebut mendokumentasikan kasus nyata pada 2022. Namun, keberadaan kasus terdahulu tidak membuktikan bahwa video yang beredar sekarang merekam kejadian baru.
Begitu pula, narasi mengenai keterlibatan pejabat tinggi pemerintahan dan pengiriman solar ke luar negeri tidak dapat dibenarkan karena tidak didukung dengan informasi dari media kredibel.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran, video yang menampilkan dugaan penyelundupan solar bersubsidi di Tanjung Priok adalah konten visual manipulatif (altered video).
Video tersebut merupakan hasil buatan AI yang menyerupai kejadian nyata dan bukan dokumentasi autentik operasi aparat.
Faktanya, aparat memang pernah mengungkap kasus penyalahgunaan solar bersubsidi di Tanjung Priok dan Jakarta Utara pada 2022. Namun, fakta historis itu tidak membuktikan adanya operasi baru ataupun keterlibatan pejabat tinggi pemerintahan seperti yang dinarasikan dalam video.
Dengan demikian, klaim dalam video tidak dapat dijadikan bukti terjadinya penyelundupan baru atau keterlibatan pihak berpengaruh.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id


































