Bukan Cuma Bambu Runcing: Narasi Bopeng di Tiap Tikungan Revolusi

Infografik Bukan Sekadar Bambu Runcing
Ilustrasi Pramoedya Ananta Toer. tirto.id/Sabit
Oleh: Irfan Teguh - 11 Agustus 2019
Dibaca Normal 4 menit
Sebagaimana novel Surabaya karya Idrus yang 'memberaki' gambaran heroik revolusi, sejumlah cerpen Pramoedya Ananta Toer juga menghamparkan kisah yang kurang lebih sama.
tirto.id - Istilah “Angkatan 45” mula-mula dicetuskan oleh Rosihan Anwar dalam tulisannya di majalah Siasat edisi 9 Januari 1949. Angkatan ini, oleh sebagian kalangan, kerap diejek sebagai generasi pembuat kisah-kisah bambu runcing alias cerita perang kepahlawanan, oleh karena itu Idrus—penulis novel Surabaya dan kumpulan cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma—menolak penamaan “Angkatan 45”.

Padahal seperti ditulis H.B. Jassin dalam pengantar Percikan Revolusi (1950) karya Pramoedya Ananta Toer, lapangan perhatian Angkatan 45 “seluas penghidupan, dan dari pusat soal-soal mereka melihat dunia sekelilingnya. Dalam kempaan suasana keadaan mereka menemukan dirinya dan belajar melihat sampai ke inti segala, dikuliti dari kepalsuan dan ketidakperluan”.

Angkatan ini tak selamanya memproduksi narasi kepahlawanan yang tanpa cela. Revolusi memang bukan ladang kebajikan yang menerakan lukisan hitam putih. Idrus lewat novel Surabaya memberi contoh yang brilian tentang bagaimana amuk revolusi tak lebih dari sekadar mabuk merayakan peralihan zaman.

Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram) yang amat takzim kepada prosa-prosa Idrus, juga membeberkan hal serupa dalam karya-karyanya, baik novel maupun kumpulan cerpen, seperti misalnya dalam Percikan Revolusi + Subuh.

“Angkatan revolusi melihat segala dari pusat derita, mereka tidak hanya mengenal dan mengetahui, tapi juga mengalami dan merasai pada badan dan jiwa. Tidak ada jarak antara obyek dan subyek,” imbuh Jassin.

Tahun 1945, seperti para pemuda yang lain, Pram keranjingan militer. Ia masuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai Prajurit II dan ditempatkan di Cikampek pada kesatuan Banteng Teruna. Sampai 1946 ia berada di sana dan terlibat dalam pelbagai pertempuran dengan tentara Inggris. Karir militernya sampai perwira pers dengan pangkat letnan II.


Menurut Andries “Hans” Teeuw—pakar sastra dan budaya Indonesia asal Belanda—Pram tak betah di militer dan memilih berhenti dari dinas ketentaraan. Pram merasa kecewa yang pangkalnya adalah “karena tidak tahan melihat pertentangan-pertentangan di dalam tentara dan korupsi yang merajalela”.

Alasan keluarnya Pram jelas tak menggambarkan kehidupan tentara pejuang yang ideal. Dalam pusarannya, seperti yang Pram rasakan, revolusi kemerdekaan memang menghadirkan narasi bopeng dalam tiap tikungannya.

Salah satu cerpen Pram yang terasa amat menggambarkan pengalamannya selama menjadi tentara adalah “Dendam”. Sebuah laporan dari seorang tentara yang awalnya merasa bangga dapat berseragam militer di zaman mabuk revolusi, namun kemudian perasaannya merasa lemah melihat pembantaian dengan mata kepalanya sendiri.

“Karena itu aku pun pergi ke stasiun. Mengapa ‘kan tidak? Selalu dan selalu manusia suka memperlihatkan kelebihannya. Apalagi kalau kenyataan yang telanjang itu diberi fantasi sedikit: aku pemuda revolusioner,” tulisnya.

Lihat, kebanggaan itu begitu mudah dipanggul hanya dengan kata-kata “pemuda revolusioner”. Namun dalam kebanggaannya, tokoh aku yang menjadi narator dan mengisahkan pengalamannya senantiasa diliputi pertanyaan, kesinisan, sekaligus ketakutan atas situasi yang berlaku saat itu.

“Mengapa bersorak? Aku tak tahu. Hanya kurasai kemabokan yang membenam, menarik dan mendesak-desak. Orang lain pun demikian pula halnya. Semua bersorak. Semua mabok. Bersorak untuk bersorak. Bersorak untuk mabok-memabokkan,” ungkapnya melihat rakyat mengiringi para tentara yang hendak berangkat ke medan laga.


Sedetik kemudian pertanyaan-pertanyaan itu berubah menjadi iba dan kesinisan. Menurutnya, para prajurit yang dengan rela menyabung nyawa di garis depan itu, kelak jika mereka pulang dengan kekalahan dan luka atau invalid di sekujur tubuhnya, orang-orang akan dengan mudah menyebutnya sebagai “prajurit peuyeum” alias serdadu lembek.

Jika datangnya dalam keadaan mati, dibawa di atas usungan serta tubuhnya mulai membusuk, orang-orang juga akan gampang mengatakan “pahlawan bangsa” dengan memberikan sedikit penghormatan.

Di titik ini, revolusi bukan sekadar menelanjangi para pejuang yang mabuk menelan situasi baru yang bebas dan berlaku ugal-ugalan seperti dalam Surabaya-nya Idrus, tapi juga sikap culas masyarakat yang menjadi penonton atas persabungan di garis depan.

Yang paling menggiriskan dari laporan prajurit ini adalah tentang pembantaian terhadap seorang haji, mata-mata yang membikin pasukan republik celaka: tak kurang 11 orang meregang nyawa.

Saat ia tertangkap, pelbagai pukulan, tendangan, dan rupa-rupa senjata tajam menghujaninya, namun rupanya ia mempunyai ilmu kebal. Pasukan yang kalap lalu menyeretnya dengan mobil dan tubuh mata-mata itu terpontal-pontal di aspal dan bebatuan. Namun lagi-lagi ia tidak terluka.

Seorang serdadu yang membawa pedang samurai kecil kemudian berteriak “kembali jadi tanah!” Setelah itu pedangnya mampu membobol pertahanan si mata-mata: perutnya terburai.

Ia kemudian ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Dan malam hari anjing-anjing menggonggong mengerubuti bangkai mata-mata itu. Si prajurit tak kuasa menyaksikan peristiwa mengerikan, ia pun buru-buru masuk ke tangsi.

Belum sempat ia tidur, lonceng tangsi berbunyi: perintah berangkat ke garis depan. Si prajurit menggigil.

“Sekali ini pergi jualah aku—pergi untuk dibunuh, pergi untuk membunuh. Badanku bergemam sebentar. Seperempat jam kemudian barisan berangkat. Dan pembunuhan berjalan terus,” pungkasnya.



Cerita Bermula dari Lapar

Sekali waktu di pengujung masa revolusi, dalam sebuah pencarian lemari buku, seorang lelaki diikuti seorang perempuan. Sudah lima toko ia datangi, tapi harganya tak ada yang cocok alias kemahalan.

“Tuan perlu lemari?” tanya perempuan yang terus mengikutinya.

“Betul, nyonya,” jawabnya.

“Saya bisa menunjukkan pada tuan, lemari yang bagus dan murah,” timpalnya.

Lalu perempuan itu pergi menyusuri jalan dan gang demi gang, sementara si lelaki mengikutinya. Muara perjalanan adalah sebuah rumah besar kuno yang sudah terlalu usang, buruk, lebih buruk dari kandang delman.

Perempuan itu lalu menunjukkan sebuah lemari kayu setinggi satu setengah meter dan lebar hampir tiga meter. Ukirannya burung merak dan bunga-bunga aneka macam.

“Alangkah bagus,” gumam si lelaki.

Menurut nyonya yang menawarkannya, lemari itu adalah peninggalan suaminya untuk menyimpan buku dan barang-barang kuno. Pada masa pendudukan Inggris, lemari itu turut dibawa mengungsi ke Padalarang, Plered, dan Purwakarta.

Saat perempuan itu mengatakan harga yang ia tawarkan, tangan si lalaki terlepas dari pintu lemari. Dari dalam lemari, seekor kucing tanpa kepala dan sudah dikuliti, lepas dan jatuh ke lantai.

“Tuan, anak-anak itu harus kuat dan mereka membutuhkan daging, anak-anak harus kuat tubuhnya,” ucap si nyonya.

Si tamu hanya mengiyakan, sementara lalat mulai mengerubungi bangkai kucing itu. Seorang anak si perempuan yang masih bayi menangis, lalu yang lain menangis juga, maka ramailah rumah itu oleh tangis anak-anak. Calon pembeli mengeluarkan uang untuk membeli lemari dan diberikan kepada salah satu anak yang menangis itu, lalu ia pergi.


Perang hanya menyisakan kalaparan. Lemari yang tersisa dari deru pertempuran, yang dijadikan tempat penyimpanan bangkai kucing, akhirnya tak dapat lagi menyembunyikan daging bangakai kucing, kebutuhan anak-anaknya yang kelaparan.

Lewat cerpen yang bertajuk “Lemari Antik” itu Pram kembali menyajikan sebuah kisah tentang revolusi yang bukan hamparan kepahlawanan. Perang usai, para pengkhinat dan pahlawan mati, yang tersisa hanya rakyat yang kelaparan, yang jarang terhidu narasi sejarah selain penggambaran antrean beras di sejumlah kliping surat kabar dan film.

Cerpen “Masa”, sebagaimana “Lemari Antik” yang terhimpun dalam Percikan Revolusi (1951), juga menggugat revolusi: bocah dua belas tahun keluar masuk penjara, tanpa pendidikan, tanpa bapak, perutnya kosong!

Mula-mula bocah itu bersama kawannya membawa sebuah becak yang dipenuhi lawon di Pasar Baru, Jakarta. Apa sebab? Baju mereka sendiri compang-camping, sementara terdapat bergulung-gulung kain yang tak mereka miliki.

Kesempatan kedua terjadi di Harmoni. Sebuah tas di atas mobil terbuka ia sambar, sial isinya hanya surat-surat. Ia buang tas itu dan seorang bocah lain yang bernama Maliki tengah mandi, maka ia dicokok tanpa tahu perkara. Tak lama kemudian ia pun kena tangkap dan dijebloskan bersama para pesakitan dengan rupa-rupa latar belakang.

“Dan mereka juakah yang nanti turut bertanggungjawab pada negaranya,” gumam seseorang yang lebih dewasa saat mendengarkan cerita dari mulut bocah itu.

Beberapa cerpen ini, membuat Pram sebagaimana Idrus yang melumuri taman bunga pertempuran Surabaya dengan kotoran sapi, juga tak silau dengan mabuk revolusi. Ia bahkan terus menggugat perang lewat sejumlah cerpen lain tentang para kombatan yang invalid harapannya, justru setelah kemerdekaan berada di genggaman.

Baca juga artikel terkait REVOLUSI atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight