Di era digital dengan kemajuan teknologi seolah menggantikan peran orang tua dalam mengasuh buah hatinya. Anak-anak jadi jamak memainkan ponsel pintar atau tablet di rumah, pinggir jalan, atau di transportasi umum secara berlebihan. Sementara orang tua mereka juga sibuk melakukan pekerjaan lain yang dianggap tak kalah penting dari anaknya.

Survei yang dilakukan oleh babies.co.uk sebuah situs seputar bayi yang berbasis di Birmingham, Inggris pada 2013 yang berjudul “Babies Using Smartphones?” mendapati sebanyak 55 persen orang tua membiarkan anaknya menggunakan smartphone atau tablet.

Dari jumlah tersebut, sebesar 30 persen membolehkan perangkat digunakan hanya di bawah 1 jam per hari. Namun, ada 14 persen orang tua memberi kelonggaran pada anaknya untuk memainkan smartphone atau tablet selama empat jam atau lebih dalam sehari.

Namun, saat bermain bersama anak, apakah orang tua boleh memanfaatkan gawai?

"Zaman sekarang kita tidak bisa menghindari lagi bahwa yang namanya gadget menjadi bagian dari keseharian kita. Tinggal porsinya dibagi, tidak boleh terlalu banyak, mainan lain dilupakan," kata psikolog anak Ayoe Sutomo, M.Psi. di Jakarta, Selasa (11/12/2018) dilansir Antara.

Ayoe tak menampik melalui gadget anak bisa mendapatkan stimulasi berupa kognitif bahkan emosi bila gadget dimainkan bersama orangtua. Namun, tak cukup untuk stimulasi motorik seperti halnya jika anak bemain di luar, bermain bola misalnya.

"Stimulasi oleh gadget memang betul stimulasi kognitif ketika memainkan permainan warna dan sebagainya. Ada simulasi emosi dan kognitif. Tetapi apakah mendapatkan stimulasi motorik kasarnya, seperti bermain di luar? Main bola? Itu hal berbeda," papar dia.

"Tidak dilarang (memanfaatkan gadget) tetapi diatur porsinya agar seimbang sehingga simulasi orangtua pada anak maksimal," sambung Ayoe.

Dia tak menyarankan penggunaan gadget untuk usia di bawah 3 tahun. Sementara untuk anak usia di atas 6 tahun, pemakaian gadget maksimal 15 menit adalah hal yang dia sarankan.

Selain itu, dalam menggunakan barang-barang teknologi, terdapat suatu istilah bernama screen time. Secara sederhana, screen time merupakan lama waktu seseorang memelototi layar perangkat teknologi, seperti TV, ponsel, maupun perangkat lainnya. Pustipa Dwi Permatasari, seorang guru di Sekolah Kembang, Kemang, Jakarta, menuturkan bahwa seiring usia bertambah, screen time juga akan bertambah.

“Ada yang namanya screen time. Semakin besar usia anak, semakin lama screen time-nya. Anak balita maksimal sejam untuk melihat layar (screen time), layar TV, handphone, komputer itu cuma sejam dalam 24 jam. Itu sudah termasuk video call, nonton, dan lain-lain,” kata Puspita.

Screen time wajib didampingi orang tua. Tidak boleh ditinggal,” kata Puspita menambahkan.

Bila anak merengek meminta tambahan screen time, menurut Puspita, orang tua harus tegas menolak permintaan itu. Screen time, tidak boleh berlebih sesuai dengan usia anak.