Binge Watching & Bahaya Menonton Film dan Serial Secara Maraton

Kontributor: Yonada Nancy, tirto.id - 25 Des 2019 08:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Binge watching menyebabkan seseorang kesulitan mengontrol berapa banyak waktu yang ia habiskan untuk menonton
tirto.id - Menghabiskan waktu untuk menonton seharian di rumah selama libur atau akhir pekan bisa jadi sebuah alternatif hiburan yang mudah dan murah. Apalagi saat ini tidak sulit mengakses film melalui website maupun aplikasi streaming seperti Netflix, Iflix, Viu, Hulu, dan sebagainya.

Cukup bermodal koneksi internet dan perangkat seperti laptop, ponsel, atau televisi, kegiatan menonton film di rumah bisa dinikmati. Namun, ada hal yang patut diwaspadai dari kegiatan ini, yakni binge watching.

Binge watching biasanya terjadi saat seseorang 'maraton film' atau menghabiskan seluruh episode film dalam satu waktu tanpa henti. Jenis film yang rawan menyebabkan binge watching adalah film yang memiliki banyak episode seperti anime, drama korea, hingga serial..

Kondisi ini dapat membuat seseorang terus menerus menekan tombol 'play' untuk menghabiskan seluruh episode film tersebut. Akibatnya, seseorang yang mengalami binge watching menghabiskan waktu menonton lebih lama dari waktu normal.

Penyebab kecaduan menonton tiap episode film

Para ahli sepakat bahwa penyebab binge watching erat kaitannya dengan kondisi mental seseorang. Hal ini pula yang mendasari para ahli untuk mencari tahu penyebab seseorang kecanduan dan menonton secara maraton seluruh episode sebuah film.

Danesh A. Alam, MD. seorang psikiater di Northwestern Medicine Behavioral Health Services mengatakan bahwa kecanduan 'maraton film' disebabkan oleh produksi dopamin atau hormon kebahagiaan.

Pelepasan dopamin membantu seseorang merasa senang serta memiliki efek mirip dengan yang diinduksi oleh zat adiktif. Semakin seseorang melakukan maraton film, semakin banyak dopamin yang dihasilkan, sehingga semakin kuat pula keinginan untuk terus menonton film tersebut.

"Perilaku dan pikiran kita, ketika diulangi dari waktu ke waktu, dapat menjadi pola dan kebiasaan saraf yang sebenarnya yang sulit untuk dihancurkan atau diubah," kata Alam seperti yang dilansir dari Northwestern Medicine.

Tidak heran jika 73 persen penonton Netflix melaporkan bahwa mereka merasa bahagia ketika mengalami binge watching.

Binge watching menyebabkan seseorang kesulitan mengontrol berapa banyak waktu yang habiskan untuk menonton. Seseorang dengan kondisi ini cenderung merasa harus terus menghabiskan lebih banyak waktu menonton untuk mengalami tingkat kepuasan yang sama.

Beberapa kasus bahkan menyebabkan seseorang menjadi defensif, mudah tersinggung, atau merasa tidak masuk akal ketika diminta untuk berhenti menonton.

Masalah tidur

Masalah tidur merupakan sebuah kondisi yang paling umum dialami ketika melakukan binge watching. Sebuah studi yang melibatkan 423 orang dewasa muda berusia antara 18 hingga 25 tahun menyebutkan bahwa, binge watching terbukti secara signifikan menyebabkan masalah tidur.

Setidaknya 80 persen partisipan mengaku bahwa mereka mengalami insomnia, kelelahan, terbangun di malam hari, hingga tidur berjalan selama melakukan binge watching.

Para ahli menilai hal ini karena ketika menonton film, apalagi dalam waktu yang lama, merangsang aktivitas dan kewaspadaan otak. Setiap alur cerita, aksi, visual, dan seluruh elemen konten film menciptakan gairah pra-tidur yang dapat mengganggu kemampuan otak untuk tertidur. Otak menjadi bersemangat sehingga sulit membuatnya beristirahat.

Meningkatkan risiko kematian dini

Banyak orang setuju bahwa terlalu banyak duduk dan menonton tanpa melakukan aktivitas fisik bukanlah hal yang baik untuk kesehatan. Sejalan dengan kasus binge watching kegiatan ini menyebabkan masalah kesehatan yang cukup serius, seperti penyakit jantung.

Sebuah penelitian di Spanyol, yang melibatkan 13.284 lulusan muda menyebutkan bahwa terlalu banyak menonton meningkatkan risiko kematian dini.

Penelitian ini berjalan selama 8,2 tahun dan menemukan sebanyak 97 kematian, dengan 19 kematian karena penyebab kardiovaskular, 46 dari kanker serta 32 dari penyebab lainnya.

Risiko kematian dua kali lipat lebih tinggi untuk peserta yang melaporkan menonton TV tiga jam atau lebih dalam sehari dibandingkan dengan mereka yang menonton satu jam atau kurang.

"Temuan kami menunjukkan orang dewasa dapat mempertimbangkan untuk meningkatkan aktivitas fisik mereka, menghindari periode menetap yang lama, dan mengurangi menonton televisi tidak lebih dari satu hingga dua jam setiap hari" Miguel Martinez-Gonzalez, MD, Ph.D., MPH, profesor di Departemen Kesehatan Publik Universitas Navarra yang terlibat dalam penelitian ini.

Kendalikan diri

Waktu menonton yang dianjurkan oleh para ahli adalah tidak lebih dari tiga jam dalam sehari. Karena itu perlu untuk mengendalikan diri untuk tidak menonton lebih dari waktu yang dianjurkan.

Dalam artikelnya, Michael J Breus Ph.D. seorang psikolog dari The American Academy of Sleep Medicine menyebutkan tiga tips untuk mencegah binge watching.

Tips pertama tidak menonton sendirian. Sebuah survei di Inggris menyebutkan bahwa 56 persen orang yang menonton sendiri melakukan binge watching. Sehingga mencari teman menonton, seperti saudara, teman, atau keluarga akan sangat membantu mengurangi kecenderungan binge watching.

Tips kedua adalah dengan tidak menonton di tempat gelap. Hal ini menyebabkan layar perangkat menjadi satu-satunya fokus perhatian yang mana sulit terputus.

Menonton di tempat terang, selain lebih bagus untuk kesehatan mata, memungkinkan pandangan seseorang teralihkan untuk melakukan sesuatu selain menonton, seperti mengobrol dengan keluarga, membaca majalah yang belum selesai dibaca, atau menelepon teman.

Tips ketiga yakni membatasi diri sendiri dengan berkomitmen untuk hanya menonton satu atau dua episode. Untuk meningkatkan komitmen ini, sampaikan kepada teman atau keluarga untuk menelepon atau mengajak beraktivitas bersama ketika waktu menonton sudah habis.


Baca juga artikel terkait MENONTON FILM atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Yulaika Ramadhani

DarkLight