Benarkah Termometer Thermal Gun Dapat Merusak Otak?

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 21 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Thermal gun atau termometer dahi bekerja dengan mengeluarkan paparan infra merah di dahi.
tirto.id - Beredar informasi di masyarakat yang menyatakan termometer dahi atau thermal gun dapat merusak otak karena mengandung radioaktif. Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto menepis hal tersebut, ia mengatakan thermal gun tidak berpengaruh terhadap otak.

Secara ilmiah, kata Achmad, para ahli mengatakan, informasi thermal gun dapat merusak otak tidak benar. Fungsi thermal gun adalah mengukur suhu tubuh dengan paparan sinar infra merah.

"[Thermal gun] tidak menggunakan sinar laser, radioaktif semacam X-ray, hanya [menggunakan] infra red. Berbagai informasi mengatakan thermal gun merusak otak ini adalah statement yang salah,” katanya di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (20/7/2020).

Ia menekankan masyarakat jangan terpengaruh informasi soal thermal gun berisi pancaran radioaktif yang dapat merusak struktur otak manusia.

"Mari kita sikapi dengan baik, ini akan membuat masyarakat panik jika tidak dibenarkan. Oleh karena itu inilah yang harus kita jelaskan dan masyarakat agar memakluminya," ujar Achmad.

Thermal gun atau yang dikenal juga dengan termometer dahi bekerja dengan menggunakan infra merah yang muncul saat termometer diarahkan ke dahi.

Kelebihan yang dimiliki termometer dahi adalah dapat merekam suhu dengan cepat dan akurat, serta dapat digunakan pada bayi yang berusia 3 bulan hingga orang dewasa.

Penelitian terbaru menunjukkan termometer ini dapat digunakan pada bayi baru lahir serta memiliki akurasi tinggi untuk digunakan di dubur daripada termometer lainnya. Sayangnya, termometer ini memiliki harga yang cukup mahal dibandingkan dengan termometer jenis lainnya.

Selain thermal gun, berikut beberapa jenis serta fungsi setiap termometer seperti dilansir Mayo Clinic.

  • Termometer Digital
Ini adalah salah satu termometer yang paling mudah ditemui di apotek, termometer digital ini bekerja karena adanya sistem diujung termometer yang disentuh pada bagian tubuh seperti mulut, dubur dan ketiak.

Termometer digital dapat digunakan oleh bayi yang baru lahir hingga orang dewasa. Kelebihan dari termometer ini adalah praktis dan hanya membutuhkan sekitar 1 menit untuk mengetahui suhu tubuh.

Meskipun begitu, termometer ini juga memiliki kekurangan antara lain, jika digunakan pada dubur bayi, maka orang tua sulit mengetahui apakah bayi merasa nyaman menggunakan termometer ini atau tidak.

Selain itu, termometer ini akan memberikan rasa tidak nyaman kepada orang yang bernafas dengan mulut saat mereka juga menggunakan termometer pada mulut mereka. Dan jika setelah makan atau minum disarankan untuk menunggu sekitar 15 menit untuk menggunakannya, karena makanan dan minuman dapat mempengaruhi suhu yang terbaca.

  • Termometer Telinga
Sesuai namanya, termometer ini dapat bekerja jika diletakkan di dalam telinga, dilansir dari Health Direct, termometer ini dapat bekerja sangat cepat yaitu sekitar 1 detik saja untuk pengguna dapat mengetahui suhu tubuh mereka. Namun, termometer ini tidak dapat digunakan oleh semua orang, hanya bayi di atas usia 6 bulan hingga orang dewasa saja yang disarankan untuk menggunakannya.

  • Termometer Dot Digital
Termometer ini akan sangat membantu bagi para ibu untuk mengukur suhu anak. Karena berbentuk seperti dot, anak akan mudah untuk menghisap termometer tersebut. Namun sayangnya termometer ini tidak disarankan untuk bayi yang baru lahir, serta dibutuhkan waktu sekitar 3 hingga 5 menit agar dapat mengetahui suhu tubuh. Dan terkadang, suhu yang ditunjukkan kurang akurat.

  • Termometer Air Raksa
Termometer ini berbentuk tabung dan di dalamnya terdapat air raksa. Namun saat ini termometer air raksa tidak dianjurkan untuk digunakan karena jika tabung itu pecah, maka cairan air raksa dapat membahayakan kesehatan.

Jenis termometer lainnya yang cukup banyak dikenal adalah Termometer Tipe Strip, namun termometer ini juga tidak disarankan untuk digunakan karena pengukur suhu dalam termometer ini sering tidak akurat.


Baca juga artikel terkait TERMOMETER atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Agung DH
DarkLight