Bagaimana Penjara Bastille Diserbu dan Memicu Revolusi Perancis?

Oleh: Tyson Tirta - 14 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Penyerbuan Bastille menjadi pertanda dimulainya Revolusi Perancis. Banyak penyerbu yang tidak tahu mengapa penjara itu yang dijadikan sasaran.
tirto.id - Marquis de Sade, filsuf dan sastrawan yang kondang karena karya-karya erotisnya itu, pernah mendekam di penjara Bastille. Di awal Juli 1789, ia dipindahkan ke penjara Charenton, rumah tahanan khusus untuk orang dengan gangguan kejiwaan. Di Bastille, ia meninggalkan tujuh tahanan lain yang masih di sana sampai meledak kerusuhan 14 Juli—peristiwa yang dianggap menjadi titik awal Revolusi Perancis. Sampai sekarang, orang-orang mengenang tanggal itu setiap tahun sebagai "Bastille Day".

Akibat lonjakan utang kerajaan untuk pembiayaan perang dan kegagalan panen pada 1788, anggaran kerajaan Perancis mengalami defisit 20% di awal 1789. Untuk mencari solusi persoalan ini, pada Mei 1789 raja Louis XVI memanggil États Généraux, parlemen rakyat, untuk bersidang.

Kala itu kharisma raja telah menurun drastis dan rakyat mulai gelisah. Setelah sidang parlemen, Louis XVI justru melakukan blunder dengan memecat Menteri Keuangan Jacques Necker. Ia dipecat lantaran dianggap terlalu berpihak kepada kepentingan rakyat. Pemecatannya terjadi pada 11 Juli bersamaan dengan beberapa pejabat lain yang juga dianggap "pro-rakyat" seperti Puységur, Armand Marc, La Luzerne, dan Saint-Priest. Pemecatan massal ini adalah upaya Louis XVI membentuk struktur pemerintahan baru yang memihak kepadanya.

Berita pemecatan Necker dan kawan-kawan tersebar sehari setelahnya. Pada 12 Juli, para orator mulai membakar semangat massa. Satu satu orang yang berpidato hari itu adalah Camille Desmoulins, jurnalis dan politisi kelahiran Paris berusia 29.

Sepanjang hari, Desmoulins bertindak dengan penuh percaya diri dan bertahan hingga sore sekitar pukul tiga lewat. Ia meyakinkan massa untuk mulai berani melawan dan bersiap-siap seandainya kerusuhan besar terjadi. Bersamanya, ada juga Georges Danton, yang belakangan menjadi kolega politiknya.


Merobohkan Simbol Tirani

Paris dilanda suasana mencekam. Sébastien Hardy, pemilik toko di Rue Saint Jacques yang tak jauh dari Bastille, menuliskan dalam catatan hariannya mengenai situasi panas di Paris. Hardy mencatat, di hari itu ribuan orang mulai turun ke jalan. Rumor beredar bahwa massa akan menyerbu penjara Bastille, yang dianggap sebagai simbol keangkuhan dan tirani kerajaan.

Mendengar rumor tersebut, Bernard René Jourdan, komandan utama penjara Bastille, menginstruksikan bawahannya untuk memperkuat amunisi dengan tambahan 250 barel mesiu. Ia tahu persis bahwa kekuatan pertahanan Bastille sangat lemah dibandingkan dengan banyaknya jumlah massa yang mulai mempersenjatai diri dengan apa saja. Lemahnya pertahanan Bastille itu awalnya tak disadari massa.


Pagi hari 14 Juli 1789, tepat hari ini 229 tahun lalu, massa yang terdiri dari para sans-cullotes—golongan ketiga dalam hierarki masyarakat Perancis—menyerbu Hôtel des Invalides tanpa menemukan musuh yang serius. Charles-François Virot, gubernur Invalides, menyerah tanpa perlawanan berarti. Ia sudah mengukur kekuatan rakyat yang tak mungkin dibendung lagi. Hanya satu korban jiwa dalam penyerbuan itu.

Penyerbuan Hôtel des Invalides punya tujuan khusus yaitu merebut berbagai amunisi dan senjata yang cukup banyak jumlahnya. Dari sana, rakyat bergerak ke Bastille.

Di hari kerusuhan itu, penjara Bastille hanya dihuni 7 orang narapidana. Mereka adalah kriminal biasa yang ditangkap karena pelanggaran ringan. Empat orang merupakan penipu dan pemalsu dokumen, dua orang mengalami gangguan kejiwaan, dan satu orang lagi adalah kriminal kelas teri.

Sejak awal, massa menyadari bahwa penyerbuan Bastille bukan bertujuan untuk sekadar membebaskan 7 narapidana itu, melainkan untuk merebut senjata yang disimpan. Sebagian dari mereka bahkan tak tahu kenapa Bastille menjadi sasaran serangan. Karena itu, sebenarnya tak ada yang tahu persis apakah penyerbuan Bastille akan menghasilkan kemenangan bagi sans-cullotes.


Pada sore hari, ratusan sans-cullotes yang bersenjatakan pedang dan peralatan perang lain berkumpul di sekitar Bastille. Pasukan penjaga penjara optimistis dapat membendung massa. Sejarawan Christopher Hibbert dalam The Days of the French Revolution (1980) menggambarkan optimisme Bernard René Jourdan. Dalam instruksi singkatnya kepada Louis de Flue, yang bertugas menahan serbuan rakyat, ia memerintahkan untuk mengancam rakyat dengan 10 pon mesiu yang siap ditembakkan dengan meriam (hlm. 80).

Di zaman itu, konstruksi delapan menara besar yang saling terhubung dengan tembok bertinggi sekitar 30 meter dan tebal 1,5 meter terbilang sangat aman dari serangan luar. Tetapi, di dalam bangunan yang begitu kokoh itu, de Flue hanya membawahi 30 komandan dengan 80 orang tentara yang sudah tua.

Jumlah massa terus bertambah banyak sejak siang. Mereka curiga dengan intrik yang terjadi di dalam penjara. Terlebih ketika sekitar jam 10 pagi Jourdan hanya mengizinkan dua orang utusan dari Hôtel de Ville untuk masuk. Seorang deputi, Thuriot de la Rozière, datang dan menginstruksikan Jourdan untuk mencari jalan terbaik agar tak terjadi pertumpahan darah. Instruksi ini ditolak dengan dalih menunggu perintah langsung dari istana Versailles, kediaman Louis XVI.

Instruksi yang diharapkan tak pernah datang. Versailles sedang ditinggal penghuninya. Pagi itu, raja punya jadwal untuk pergi berburu. Ada sebuah ironi di hari itu. Dalam buku hariannya bertanggal 14 Juli, Louis XVI menulis “zéro” yang dalam bahasa Inggris berarti nothing, merujuk pada hasil berburunya yang tak berhasil menangkap apapun.



Infografik Jelang Penyerbuan Bastille


Lewat pukul 2 siang, tensi semakin meninggi dan jumlah massa kian banyak. Delegasi lain tiba di Bastille. Mereka adalah anggota komite tetap dari Hôtel de Ville. Delegasi dipimpin Delavigne dan Abbé Fauchet yang berharap mampu meredam ketegangan dengan membujuk Jourdan menyerahkan persenjataan kepada milisi yang mewakili seluruh rakyat Paris (hlm. 76). Tawaran ini lagi-lagi ditolak. Akhirnya bentrok fisik pun terjadi.


Mills Whitman menggambarkan penyerangan ini dalam A Biographical History of the French Revolution (1933). Kala itu, massa memaksa bergerak dari area luar penjara menuju ke dalam dengan rusuh. Tak diketahui apakah meriam telah ditembakkan. Tapi ketika massa sudah di dalam, terjadi tembak-menembak sengit antara penjaga dengan penyerbu. Segala upaya pun dikerahkan untuk meredam situasi yang terlanjur kacau (hlm. 59).

Jourdan tak berdaya. Setelah kehabisan tenaga dan amunisi, ia mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Sisa meriam dan mesiu diambil paksa oleh massa dan 7 narapidana dibebaskan. Atas seruan seorang koki bernama Desnot, Jourdan digiring ke Hôtel de Ville tempat ia rencananya akan diadili.

Belum sampai di de Ville, Jourdan terlanjur dibunuh dan kepalanya diarak keliling kota. Ia sempat mengucapkan "biarkan aku mati" sebelum massa ramai-ramai menghajarnya. Beberapa sumber menyebutkan ia sempat berusaha bunuh diri.


Peristiwa kerusuhan Bastille ini menjadi penanda dimulainya Revolusi Perancis dan berakhirnya ancien régime. Setelah dirobohkan, penjara Bastille tak pernah dibangun kembali. Tiga hari kemudian, dari Versailles raja dipaksa berangkat ke Paris dan setuju untuk memanggil kembali menteri Necker.

Kemenangan rakyat Perancis kemudian semakin absah ketika Louis XVI dan istrinya, Marie-Antoinette, dipenggal dengan guillotine pada 1793. Sejak itu, spirit Revolusi Perancis beserta ide-idenya menyebar hampir ke seluruh dunia. Dan setelah lebih dari 200 tahun berlalu, ribuan karya tulis mengenainya telah dipublikasikan.

Baca juga artikel terkait REVOLUSI atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Tyson Tirta
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Dari Sejawat
Infografik Instagram