Bagaimana Energi Gelombang Tsunami Bisa Mencapai Daratan?

Kapal Sabuk Nusantra 39 yang terdampar ke daratan akibat gempa dan tsunami di desa Wani, Pantai Barat Donggala, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Oleh: Tony Firman - 2 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Di daerah laut dalam, gelombang tsunami bisa melesat bergerak menuju darat sekitar 700-800 kilometer per jam. Kecepatannya menurun ketika semakin mendekati daratan yang dangkal.
tirto.id - Belum genap dua bulan gempa besar di Lombok berkekuatan 7 magnitudo pada awal Agustus akibat aktivitas Sesar Naik Flores, giliran wilayah Kota Palu dan Kabupaten Donggala yang diguncang gempa besar berkekuatan 7,4 magnitudo karena aktivitas sesar Palu-Koro pada Jumat (28/9) sore.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) merilis, pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer pada 27 kilometer timur laut Donggala terjadi pukul 17.02 WIB dan berpotensi tsunami.

Lima menit setelah gempa besar, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami pada pukul 17.22 dengan status Siaga (tinggi potensi tsunami 0,5 - 3 meter) di Pantai Donggala bagian barat, dan status Waspada (tinggi potensi tsunami kurang dari 0,5 meter) di Pantai Donggala bagian utara, Mamuju bagian utara dan Kota Palu bagian barat.

Gelombang tsunami dilaporkan menerjang Pantai Talise di Palu dan pantai di Donggala sekaligus membenarkan beberapa video yang viral beredar mengenai tsunami di Palu dan Donggala. Berdasarkan keterangan saksi mata yang berada di Pantai Palu, tinggi air laut saat tsunami mencapai 1,5 meter. Laporan lain mengatakan gelombang tsunami mencapai enam meter di Donggala.

Akibat guncangan gempa besar disertai terjangan tsunami, sebagian besar permukiman dan infrastruktur rusak berat. Menurut BNPB, sampai Senin (1/10), jumlah korban meninggal sementara yang jenazahnya berhasil ditemukan mencapai 844 orang. Sedangkan menurut data Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT), jumlah korban meninggal mencapai 1.203 jiwa.

Tsunami di Indonesia memang bukan fenomena baru. Menengok catatan ke belakang, ada begitu banyak kejadian gempa disusul gelombang tsunami yang menerjang berbagai wilayah. Tinggi gelombang dan jangkauannya saat menyapu daratan juga bervariasi.


Tsunami Flores pada 1992, misalnya. Tsunami ini menyapu daratan sejauh 300 meter dengan ketinggian gelombang 25 meter. Tsunami Aceh (2004), yang ketinggian gelombang bervariasi dari tiga sampai 30 meter, menyapu daratan sejauh tiga sampai empat kilometer. Adapun Tsunami Mentawai pada 2010 menyapu daratan sejauh 450 meter dengan ketinggian gelombang antara tiga setengah sampai 17 meter.



Riak Kecil Menjadi Gelombang Tinggi Besar

Tsunami adalah gelombang air laut yang terbentuk karena aktivitas gempa bumi atau letusan gunung api di bawah laut. Tsunami juga bisa terjadi ketika sebuah meteor jatuh ke laut. Namun, penyebab yang paling umum adalah gempa bumi.

Tapi bagaimana sebenarnya energi gelombang tsunami dari titik gempa di laut bisa sampai ke daratan? Mengapa tinggi gelombang serta jangkauan sapuan ke daratan bisa berbeda-beda meski dalam satu peristiwa yang sama?

Saat gempa di dasar laut terjadi, dasar laut terbagi menjadi dua bagian yang bergeser secara vertikal, menciptakan suatu patahan atau sesar. Dalam waktu sepersepuluh detik, patahan dapat mencapai 5-10 meter. Dari sinilah energi tsunami bermula. Aktivitas gerakan patahan itu membuat air di dasar laut dipaksa naik dan menimbulkan riak di permukaan dalam waktu singkat. Swedish Meteorological and Hydrological Institute menyebutkan bahwa kenaikan gelombang laut di permukaan biasanya hanya beberapa desimeter hingga satu meter saja. Namun, panjang gelombang yang terbentuk bisa puluhan hingga ratusan kilometer.

Kuat-tidaknya aktivitas gempa di dasar laut juga mempengaruhi energi tsunami itu sendiri. Jika tsunami dihasilkan dari gempa besar di area yang lepas dan luas, maka panjang gelombang akan lebih besar. Namun jika tsunami disebabkan oleh gempa kecil, panjang gelombang akan relatif pendek.


Setelah gelombang terbentuk dengan energi yang terkumpul, tsunami mulai bergerak menjauh dari pusat gempa dan memulai perjalanannya menuju daratan. Bentuknya seperti air kolam yang dilempar batu dan menciptakan gelombang spiral yang bergerak menuju tepian.

Gelombang tsunami biasanya juga sulit terlihat oleh kapal-kapal di tengah lautan dan tercampur dengan gelombang lautan pada umumnya. Di daerah laut dalam, gelombang tsunami bisa melesat bergerak menuju darat sekitar 700-800 kilometer per jam, hampir menyampai kecepatan pesawat jet.

Makin dekat dengan daratan, kecepatan gelombang perlahan menurun. Hal ini disebabkan oleh topografi dasar laut yang makin dangkal sehingga gelombang seperti direm.

Namun, di sinilah titik perubahan radikal terjadi. Energi perlambatan laju gelombang tsunami karena laut dangkal berubah menjadi peningkatan tinggi gelombang secara dramatis yang juga disebut dengan efek shoaling. Ketika kedalaman laut tinggal 10 meter, biasanya kecepatan tsunami turun drastis menjadi sekitar 50 kilometer per jam. Namun, tinggi gelombang bisa membesar hingga lima meter.

Topografi bawah laut pula yang membuat tinggi rendahnya gelombang tsunami bisa bervariasi, meski masih dalam satu rombongan. Saat gelombang tsunami mencapai daratan, energi pembawa volume air yang sangat besar inilah yang akhirnya menyebabkan kehancuran dan menyapu segala yang ada.

Dalam kasus tsunami di Palu dan Donggala, sejauh ini belum bisa diketahui secara pasti berapa jangkauan sapuan gelombang tsunami yang mencapai daratan.

"Saat ini kita belum tahu karena belum ada yang memetakan. Biasanya nanti dipetakan, disurvei atau dari hasil foto satelit," jelas Sutopo ketika dimintai komentar oleh Tirto (1/10). "BNPB sudah minta agar segera dicarikan citra satelit resolusi tinggi dari satelit apapun," tandasnya.


Sutopo turut menjelaskan bahwa faktor topografi pantai juga sangat mempengaruhi daya jangkau sapuan gelombang tsunami di daratan. Jika pantai dibatasi langsung dengan bukit, maka gelombang air hanya berkutat di sekitar pantai karena menabrak bukit. Namun, sapuan tsunami akan lebih besar jika topografi cenderung datar, atau saat gelombang merangsek ke sungai yang bermuara di lautan, di mana sapuan tsunami akan lebih jauh masuk ke daratan.

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight