Ancaman Mutasi Virus Akibat Klorokuin dan Avigan

Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga (kanan) menyerahkan kotak berisi obat Chloroquine kepada Dirut RSPI Sulianti Saroso dr. Moh. Syahril di Jakarta, Sabtu (21/3/2020). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/pras.
Oleh: Aditya Widya Putri - 27 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Masih banyak misteri tentang sifat-sifat virus Corona yang belum diketahui. Salah langkah sedikit saja dalam memutus pencegahan dan pengobatan bisa berdampak fatal di masa depan.
Sebagai virus jenis baru, masih banyak sifat dari SARS-CoV-2 yang jadi misteri. Berbagai penelitian anyar terus muncul mengungkap sifat dan konon jenis obat penawarnya. Beberapa obat secara terbatas memberi efek positif melawan COVID-19, tapi di sisi lain ancaman mutasi virus juga turut mengintai.

Sudah sejak Desember 2019 dunia berperang bersama melawan pandemi COVID-19. Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan situasi terkini terdapat 186 negara terdampak wabah, dengan jumlah kasus terkonfirmasi lebih 294 ribu, dan tingkat kematian mencapai 12,9 ribu jiwa.

Ancaman infeksi SARS-CoV-2 sangat nyata. Virus ini memang tak semematikan virus SARS atau MERS tapi ia mampu menyebar lebih cepat dibanding kedua jenis virus korona tersebut, sehingga cocok untuk menebar teror kepada musuh. Orang yang tidak memiliki gejala pun bisa menginfeksi orang lain tanpa sadar.

Bahkan penelitian terbaru terbitan The Lancet menyebut virus COVID-19 mampu bertahan di saluran pernapasan sampai 37 hari. Kesimpulan tersebut didapat dari analisis 191 pasien di Rumah Sakit Jinyintan dan Rumah Sakit Paru-paru Wuhan pada 31 Januari 2020. Dari sampel tersebut diketahui bahwa rata-rata durasi pelepasan virus mencapai 20 hari.

Namun sejumlah sampel kecil pada tiga pasien menunjukkan sisa virus pada saluran pernapasan setelah 37 hari. Artinya pasien yang dikarantina atau lolos karantina 14 hari tetap bisa berpotensi menularkan virus COVID-19. Masih terkait transmisi tanpa disadari, penelitian lain ikut mengungkap cara mengidentifikasi para pembawa virus tanpa gejala.

“Di Korea Selatan, 30 persen pasien positif mengalami anosmia,” kata Nirmal Kumar dari Lembaga Rhinologi Inggris, Clare Hopkins, dikutip dari Business Insider.


Anosmia adalah kondisi ketika seseorang tiba-tiba kehilangan respon dari indra penciuman. Orang dengan kondisi anosmia sangat berisiko menjadi pembawa virus yang tidak terdeteksi. Apalagi infeksi pada orang-orang ini bisa dikatakan ringan dan tidak memiliki gejala. Pasca-ditemukannya sifat baru dari infeksi SARS-CoV-2, orang dengan gejala tersebut harus diisolasi mandiri, setidaknya selama tujuh hari.

Kemudian fakta anyar selanjutnya adalah soal media penyebaran virus. Jika sebelumnya WHO mengonfirmasi bahwa COVID-19 menyebar melalui percikan (droplet) dan menempel kuat pada permukaan kasar seperti kayu, kain, dan kulit, maka studi yang terbit di New England Journal of Medicine menambahkan kriteria lain. Virus COVID-19 bisa bertahan di udara.

“SARS-CoV-2 bisa mengudara selam tiga jam pada udara yang tenang,” demikian tulis penelitian tersebut.

Ukuran virus COVID-19 sangat kecil, yakni sekitar 1-5 mikrometer, setara lebar rambut manusia dipilah jadi 30 bagian. Karakteristik barunya menyebut virus korona bisa melayang di udara pada kondisi tertentu, yakni suhu dan kelembapan rendah. Namun, menurut WHO, hanya tim medis yang berisiko mendapat penularan lewat mekanisme ini.

Ketika melakukan tindakan medis aerosol (zat yang menggantung di udara) seperti ventilasi dan nebulizer, maka virus akan mendapat kekuatan tambahan untuk hidup di udara. Kemudian penularan bisa terjadi lewat penumpukan aerosol di baju hazmat, atau alat pelindung diri lainnya.


Obat Penawar COVID-19

Setelah dulu di Indonesia sempat ramai kabar rimpang-rimpangan seperti jahe, temulawak, dan kunyit bisa menyembuhkan COVID-19. Kini Presiden Joko Widodo berinisiatif memesan obat Klorokuin dan Avigan masing-masing sebanyak dua juta dan tiga juta butir untuk penanganan wabah. Keputusan ini dipertanyakan beberapa pihak.

Masalahnya, Jokowi dianggap tidak fokus pada pencegahan, tapi jor-joran di tingkat pengobatan--yang bahkan belum disepakati secara global. Kedua obat itu baru diujikan secara terbatas dan ternyata memberikan efek mutasi virus. Klorokuin memang telah disetujui secara medis sejak tahun 1955, namun untuk pengobatan malaria, lupus, dan rheumatoid arthritis.

Dalam penelitian aslinya, disebutkan Klorokuin punya potensi kuat sebagai profilaksis (pencegahan). Hasil dari uji coba pada pasien COVID-19 di sepuluh rumah sakit di Beijing, obat ini mampu membantu penurunan demam dan mencegah kerusakan paru-paru.

“Klorokuin efektif dalam mencegah infeksi SARS-CoV-2 dalam kultur sel ketika ditambahkan 24 jam sebelum infeksi,” ungkap studi yang terbit pada Virology Journal (2005).

Pemberian Klorokuin 3-5 jam pasca-infeksi berfungsi sebagai penghambat infeksi. Sementara Avigan, obat yang dikembangkan oleh anak perusahaan Fujifilm, yakni Fujifilm Toyama Chemical, lazim digunakan untuk mengobati influenza. Sebagai penawar SARS-CoV-2, Avigan telah melewati uji klinis di Wuhan dan Shenzhen dengan melibatkan 340 pasien.

Para dokter di Jepang ikut menggunakan obat tersebut dalam studi klinis pasien COVID-19. Dikabarkan oleh The Guardian, uji klinis hanya menunjukkan efek berarti pada pasien dengan gejala ringan hingga sedang. Avigan bekerja dengan cara mencegah virus berkembang biak, sehingga tidak efektif ketika diberikan pada orang dengan gejala berat.

“Kami memberi Avigan kepada 70-80 orang, tetapi tampaknya tidak berfungsi baik ketika virus sudah berlipat ganda,” ungkap Kementerian Kesehatan Jepang, masih dilansir dari The Guardian.


Mutasi Virus

Krorokuin dan Avigan sama-sama bekerja dengan merusak kualitas replikasi RNA dari SARS-CoV-2 menjadi tidak stabil, sehingga menghambat infeksi. Tapi masalahnya di saat bersamaan ketika kualitas replikasi virus RNA tidak stabil, maka virus berisiko bermutasi menjadi lebih agresif.

Studi terbatas pada klorokuin menyertakan risiko mutasi virus di masa depan. Mutasi virus bisa saja membuat virus kebal terhadap obat yang sama. Di kemudian hari jika terdapat wabah infeksi lain maka orang yang pernah terpapar obat ini berisiko kebal obat. Akibatnya ia harus menggunakan dosis obat yang lebih tinggi dengan harga yang lebih mahal.



Efek lain klorokuin secara jangka panjang bisa membikin kerusakan retina. Ahli Farmakologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati menambahkan, kerusakan pada mata akan membuat penglihatan menjadi buram. Pasien pengguna obat ini seperti penderita lupus atau autoimun misalnya, mereka harus memeriksakan fungsi mata dan jantung secara berkala.

“Pada jantung denyutnya jadi tidak stabil. Jadi efek samping cukup banyak terutama kalau dipakai dalam jangka waktu lama dan dosis tinggi,” ujarnya kepada Tirto.

Apalagi sejak kabar Klorokuin dan Avigan tersiar, dikhawatirkan masyarakat mengonsumsi obat secara sembarang. Terbukti persediaan Klorokuin dan Avigan langsung kosong di pasaran karena masyarakat Indonesia memborong obat-obat tersebut di apotek. Tirto juga sempat mengecek ketersediaan kedua obat tersebut di apotek terdekat seperti Century dan K-24, dan ternyata ludes.

Meski semua kebijakan terkait COVID-19 ada di tangan pemerintah, termasuk penggunaan Klorokuin dan Avigan, perlu juga diperhitungkan ancaman mutasi virus di masa mendatang. Jika saat itu tiba, Indonesia bisa menghadapi kewalahan yang sama seperti sekarang.

Baca juga artikel terkait COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight