Aliansi PKS & Partai Berkarya Dianggap Ompong Belaka

Oleh: Bayu Septianto - 21 November 2019
Dibaca Normal 1 menit
PKS hanya dianggap "ingin menunjukkan diri menjadi katalisator sekaligus menjadi pelopor kekuatan politik oposisi" saat bertemu Berkarya.
tirto.id - Satu-satunya partai politik di parlemen yang tegas menyatakan diri sebagai oposisi adalah PKS. Gerindra telah bergabung dalam gerbong pemerintahan, sementara PAN dan Demokrat, sampai sekarang, masih abu-abu.

Dalam kondisi tersebut, PKS mendapat kawan baru yang punya visi sama, yaitu jadi oposisi: Partai Berkarya. Sikap itu disampaikan Selasa (19/11/2019) kemarin, ketika Berkarya berkunjung ke markas PKS di Jakarta.

"Kami tak ingin membiarkan PKS sendirian [jadi oposisi] dalam situasi perpolitikan yang sekarang ini," tegas Sekretaris Jenderal (Sekjen) Berkarya Priyo Budi Santoso.

Dalam pertemuan itu, Partai Berkarya langsung dipimpin Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang menjabat ketua umum. Tommy didampingi Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto yang tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri.

Sementara yang menyambut adalah Presiden PKS Sohibul Iman, didampingi Ketua Majelis Syuro Salim Segaf Aljufri, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, Sekjen PKS Mustafa Kamal, serta beberapa pejabat teras lain.


Pernyataan bahwa Berkarya akan berada di barisan yang sama dengan PKS juga disampaikan Tommy.

"Kalau [kebijakan] tidak baik, tentunya kami akan menyuarakan juga untuk rakyat, bagaimana yang lebih baik dan bagaimana juga solusinya. Itu yang akan kami lakukan," ujar Tommy.

Percuma

Berkarya sebenarnya pernah berada satu gerbong yang sama dengan PKS, juga Gerindra, PAN, dan Demokrat kala mengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai capres-cawapres pada Pemilihan Presiden 2019.

Bedanya empat partai itu lolos dan Berkarya--sebagai partai yang baru pertama kali ikut pemilu--tidak. Mereka hanya dapat suara 2.929.495 (2,09 persen).

Persis karena itulah pernyataan "siap jadi oposisi" tidak akan berdampak. Kritik-kritik terhadap pemerintahan, bagi sebuah partai, paling cocok lewat wadah parlemen.


PKS pasti paham perkara ini. Namun, menurut Direktur Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo, mereka tetap menerima Berkarya dengan lapang dada karena "ingin menunjukkan diri menjadi katalisator sekaligus menjadi pelopor kekuatan politik oposisi."

Kepada reporter Tirto, Rabu (20/11/2019), dengan mendekati Berkarya, PKS juga tampak berupaya meraup ceruk pemilih Prabowo-Sandiaga pada Pilpres 2019, terutama pemilih yang kecewa dengan sikap Prabowo dan Partai Gerindra karena memilih menjadi bagian dari pemerintahan.

"Itu yang mau ditangkap oleh PKS," Karyono menegaskan.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Demokrasi dan Partai Politik Dedi Kurnia Syah Putra punya pendapat lain. Menurutnya momen ini dapat digunakan PKS untuk memperkuat soliditas partai saat sejumlah eks kadernya membentuk partai baru, yakni Partai Gelora. PKS, kata Dedi, tak ingin mantan mitranya pada Pilpres 2019 itu justru mendekat ke Gelora.

"Sangat mungkin PKS gusar. Itulah mengapa mereka giat mencari mitra politik," kata Dedi kepada reporter Tirto.


Meski punya maksud tersembunyi, bagi Dedi, PKS tidak akan terlalu serius bermitra dengan Berkarya atas alasan ideologis. Berkarya bagaimanapun dibentuk oleh anak Soeharto dan membawa pula ideologinya, sementara PKS berawal dari orang-orang yang dulu melawan Soeharto.

"Rasanya sulit dipercaya hal itu bisa terwujud," ujar Dedi.

Presiden PKS Sohibul Iman mengaku "membutuhkan Berkarya" terutama terkait "pembentukan opini." Bagi mereka ini tetap dapat dilakukan meski Berkarya "tidak punya hak suara."

"Mereka memberikan penguatan-penguatan untuk mengkritisi pemerintah dan juga pressure kepada pemerintah. Itu juga sangat bermanfaat," kata Sohibul, Selasa (19/11/2019).

Baca juga artikel terkait PKS atau tulisan menarik lainnya Bayu Septianto
(tirto.id - Politik)

Reporter: Bayu Septianto
Penulis: Bayu Septianto
Editor: Rio Apinino
DarkLight