Wapres daripada Soeharto

Adam Malik: Wartawan yang Bikin Pening Soeharto

Oleh: Petrik Matanasi - 12 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Seperti Soeharto, hitungannya Adam Malik pun juga lulusan SD. Meski lulusan SD keduanya orang cerdas di bidangnya masing-masing.
tirto.id - Ketika Adam Malik dan beberapa tokoh jurnalis pergerakan nasional mendirikan Kantor Berita Antara di Jakarta pada 1937, Soeharto masih bocah belasan tahun.

Tiga tahun kemudian, waktu Adam Malik memimpin Antara sambil aktif berpolitik di Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), Soeharto baru saja teeken (mendaftar masuk) menjadi anggota Tentara Kerajaan Belanda (KNIL). Setahun kemudian, Soeharto jadi sersan di KNIL.

Ketika Adam Malik jadi kepala bagian di kantor berita zaman Jepang, Soeharto meneruskan kariernya di dinas militer sukarela Jepang, PETA. Setelah revolusi, Adam Malik berkarier juga sebagai diplomat. Sementara Soeharto terus di militer Republik. Mereka punya satu kesamaan: bisa mencapai posisi puncak walau ijazah mereka tidak bisa dibilang tinggi.


Soeharto hanya lulus Schakel School (sekolah lanjutan), yang menerima lulusan Volkschool (sekolah dasar tiga tahun). Lulusan Schakel School, ijazahnya disetarakan dengan lulusan sekolah dasar tujuh tahun untuk pribumi, Hollandsch Inlandsch School (HIS). Di HIS ini pula, Adam Malik bersekolah.

Jadi, jika dilihat dari ijazahnya, Soeharto dan Adam Malik hanya lulusan sekolah dasar. Meski di masa kini tampak remeh, pada sebelum 1940-an, bisa sekolah hingga level SD adalah sebuah keberuntungan.

Menteri yang Mendinginkan

Adam Malik adalah satu dari Tritunggal penting dalam pemerintahan awal Orde Baru bersama Soeharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Di awal Orde Baru, Adam malik pernah menjadi Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II merangkap Menteri Luar Negeri pada 18 Maret 1966, ketika Surat Perintah 11 Maret 1966 dipegang oleh Letnan Jenderal Soeharto. Setelah 9 hari menjabat Waperdam II, Adam Malik berganti jabatan lagi menjadi Wakil Perdana Menteri Urusan Sosial Politik dan masih merangkap Menteri Luar Negeri.

Di awal Orde Baru, Adam Malik adalah Menteri Luar Negeri Indonesia yang memperbaiki hubungan Indonesia dengan Malaysia yang runyam di era-era Konfrontasi Ganyang Malaysia. Pria kelahiran Pematangsiantar, Sumatera Utara ini juga punya andil dalam pembentukan ASEAN. Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara ini menghadirkan rasa aman bagi Malaysia yang sebelumnya dimusuhi oleh Presiden Soekarno karena dianggap proyek Nekolim Kerajaan Inggris.

Setelah menjadi menteri, Adam Malik menjadi orang penting juga di Parlemen pada era 1970-an. Ketika menjadi Ketua DPR/MPR Adam memberi kabar gembira bagi Soeharto. Seperti diakui Soeharto dalam Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya (1989:331), Adam Malik bilang pada Soeharto, “Menurut perhitungan matematik, Pak Harto sudah dapat dipastikan terpilih kembali.”

Bagaimana tidak terpilih, ABRI mendukung Soeharto. Begitu juga Golongan Karya (Golkar).


Ketika Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang jadi Wapres enggan menjabat kembali, Soeharto memilih Tritunggal yang lain, yakni Adam Malik sebagai wakilnya.

“Ternyata kerjasama dengan Adam Malik selama jabatan saya (1978-1983), juga bisa, sekalipun tempo-tempo Bung Adam Malik, sebagai seorang politikus, membuat statement yang kurang serasi.”

Dua orang ini memang beda latar belakang. Adam orang Sumatera, Soeharto Jawa. Adam adalah bagian dari pergerakan nasional dan pernah jadi wartawan, sedangkan Soeharto militer. Di kalangan pergerakan nasional, Adam Malik bukan dari golongan yang koperatif dengan pemerintah kolonial. Sementara Soeharto pernah bekerja dengan pemerintah kolonial sebagai bintara tentara kerajaan di Hindia Belanda.

Latar belakang Adam sebagai wartawan bikin Soeharto merasa sulit. Di antara wapres-wapresnya, nampaknya hanya Adam Malik yang punya latar belakang sebagai wartawan sekaligus bagian dari pergerakan nasional. Sesudah Adam Malik, Soeharto pernah lagi punya Wapres seperti Adam Malik. Soeharto lebih sreg dengan wapres dari militer.

Soeharto, dengan pengakuan di autobiografinya itu seolah mengaku ada sedikit kewalahan dalam bekerjasama dengan Adam Malik. Meski Soeharto harus dibikin pusing, tentu saja Soeharto harus terlihat kompak dengan rekan kerjanya. Maka Soeharto menyebut “tidak ada maksud padanya untuk mempersulit keadaan, tetapi statement-nya itu menyulitkan, artinya, tidak serasi dengan kebijaksanaan pemerintah. Padahal ia berada di dalamnya.”

Salah satu yang menyulitkan itu adalah: pembukaan kembali hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Cina (RRC). Adam Malik seolah hendak membukanya sesegera mungkin, tapi Soeharto merasa perlu membatasinya.

Infografik Seri Wapres Soeharto
Infografik Seri Wapres Soeharto Adam Malik Batubara


Keunikan Adam Malik sebagai Wapres tidak hanya sampai di sana. Di masa lalu, Adam Malik adalah pengikut tokoh komunis, Tan Malaka, dan aktif juga di partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba). Bahkan Adam Malik tersangkut Kudeta 3 Juli 1946, seperti kebanyakan tokoh Murba. Ini tentu tak lazim di negara anti komunis macam Indonesia.


Menariknya lagi, meski punya latar belakang komunis, Adam Malik juga dituduh sebagai agen CIA. Ini pernah ditulis oleh Tim Weiner dalam Membongkar Kegagalan CIA (2008). Weiner mengutip pengakuan perwira CIA bernama Clyde McAvoy soal itu.

"Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik," aku Clyde McAvoy. “Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut."


Sudah pasti tudingan ini dibantah oleh keluarga dan banyak sejarawan, termasuk Taufik Abdullah. Menurut Taufik, tidak masuk akal jika Adam Malik dianggap sebagai agen CIA. Sebab jika mengikuti sejarah hidup dan perjuangannya, Adam Malik merupakan seorang nasionalis yang cenderung sosialis.
"Payah kalau soal itu. Tak masuk akal dia agen CIA mengingat dia adalah nasionalis yang cenderung sosialis. Apalagi dia berbasis sekolah agama pula," sangkal Taufik.

Terlepas dari gonjang-ganjing itu, Adam adalah sosok penting bagi Republik ini. Dari pemerintah Republik Indonesia, Adam Malik memperoleh banyak penghargaan. Dia penerima Bintang Mahaputera kl. IV tahun 1971, Bintang Adhi Perdana kl.II tahun 1973, juga diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 1998. Adam Malik tutup usia karena penyakit kanker pada 5 September 1984.


==========

Menjelang debat calon wakil presiden pada 17 April 2019, Tirto menayangkan serial tentang para wakil presiden yang pernah mendampingi Soeharto. Serial ini ditayangkan setiap hari dari Senin, 11 Maret hingga Sabtu, 16 Maret 2019. Artikel di atas adalah tulisan kedua.

Baca juga artikel terkait WARTAWAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nuran Wibisono