Misbar

Toy Story 4: Kisah Tentang Penyintas dari Kecanduan untuk Dimiliki

Infografik Misbar Toy Story 4
Toy Story 4. FOTO/imdb
Oleh: Aulia Adam - 30 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
Cerita Toy Story 4 adalah cerita tentang penyintas, yakni Woody, sang mainan yang jadi tokoh utama. Film ini ingin menunjukkan bahwa eksistensi diri tak ada kaitannya dengan bagaimana orang lain memandang kita.
tirto.id - Woody (Tom Hanks), si koboi mainan yang jadi tokoh utama saga Toy Story memang punya fisik yang awet, bahkan setelah nyaris 25 tahun hadir sebagai legenda. Cuma ada dua hal berbeda darinya: Teknologi animasi Pixar yang makin canggih memoles dunia Woody, dan karakternya yang terus berkembang mengeksploitasi kepedihan-kesedihan menjadi mainan anak-anak.

Kini, Woody tak lagi cemburuan dan sinis pada mainan baru, sebagaimana ia memperlakukan Buzz (Tim Allen) di Toy Story, 1995. Saat Bonnie (Madeleine McGraw), pemilik barunya tak sengaja menciptakan mainan dari sampah di hari pertama masuk sekolah, Woody malah bersikap protektif. Forky (Tony Hale)—si mainan yang terbuat dari garpu plastik—betul-betul dijaga Woody setengah mati.

Pasalnya, karena terbuat dari sampah, Forky tak punya alam bawah sadar untuk hidup sebagai mainan seperti Woody dan teman-temannya yang lain. Berkali-kali ia berusaha kabur menuju tong sampah, "tempat paling aman dan nyaman" buat Forky.

Sebagai salah satu mainan tertua, Woody sadar kalau Forky—untuk sementara waktu—akan jadi mainan paling berharga bagi Bonnie, dan ia tak ingin Bonnie kecewa jika suatu waktu garpu plastik itu terangkut truk sampah.

Menjaga Forky rupanya membawa Woody ke petualangan baru.


Mengerikannya Perasaan Ditinggal


Di semesta Toy Story, semua mainan cuma punya satu tujuan dalam hidup immortal-nya yang panjang: Menyenangkan anak-anak pemilik mereka. Lewat tiga film sebelumnya, kita bisa melihat bagaimana motivasi itu yang membawa Woody ke petualangan-petualangan seru.

Namun, alasan yang selalu berhasil menggerakkan petualangan itu sebenarnya agak mengerikan, yakni perasaan takut tergantikan dan ditinggal. Perasaan ini hadir alamiah di benak para mainan dalam semesta Toy Story sebagai efek dari tugas utama mainan yang ingin selalu menyenangkan pemiliknya.

Woody, sejak awal sekali kita kenal, adalah salah satu mainan yang paling gamblang menunjukkan perasaan itu. Ini tampak, misalnya, ketika Buzz hadir, atau lengannya sobek dan perlu dijahit, atau ketika Andy—pemilik terdahulunya sebelum Bonnie—beranjak dewasa dan akan pergi kuliah.

Woody selalu takut ditinggalkan, dan kehilangan jati dirinya sebagai mainan. Perasaan Woody itu tampaknya telah menjadi candu dalam sepanjang hidup sang mainan. Benang merah itu jelas terpilin di Toy Story 1, 2, dan 3. Hingga akhirnya, Woody ikhlas lepas dari tujuan utama hidupnya—bahagia bersama Andy—saat bocah itu merelakan semua mainan masa kecilnya pada Bonnie di ujung Toy Story 3 (2010).


Waktu itu, sepertinya tak ada penutup yang lebih indah selain jadi mainan yang akan terus dirawat oleh pemilik baru buat Woody dkk. Maka, tak heran jika banyak orang menyangsikan kualitas Toy Story 4 yang tiba-tiba hadir lagi sembilan tahun kemudian. Memangnya, petualangan Woody bisa dibawa ke mana lagi?

Kuncinya ternyata ada di Bo Beep (Annie Potts), kawan lama Woody yang sempat hadir di Toy Story pertama. Ia muncul lagi di film keempat ini dengan pengembangan karakter yang segar.

Bo Beep adalah anti-tesis dari ketakutan dan mimpi buruk Woody sebagai mainan. Boneka porselen pengembala itu kini jadi lost toy—sebutan untuk mainan-mainan terbuang yang sudah tak punya pemilik lagi. Ia hidup di taman bermain di salah satu taman hiburan di pinggir kota. Anak-anak ramai berkunjung, dan ada banyak lost toys lainnya di sana. Bo Beep sama sekali kelihatan tak kehilangan arah setelah tak lagi punya pemilik, seperti yang ditakutkan Woody.



Karakter Bo Beep bahkan dipasangi plester untuk merekatkan tangannya yang sudah copot—sebuah detail yang menyindir ketakutan Woody saat lengannya sobek di Toy Story 2, dan ketakutan setengah mati dibuang Andy.

Mereka berdua juga punya dialog tentang apa dan bagaimana sebenarnya menjadi sebuah mainan, dan apakah nilai mereka berkurang dengan atau tanpa anak-anak sebagai pemiliknya. Sejumlah elemen tersebut membuat petualangan Woody kali ini bukan cuma tentang menjaga Forky demi Bonnie, tapi juga menemukan dirinya sendiri setelah lepas dari Andy.

Tak disangka, naskah Toy Story 4 masih mampu mengimbangi tiga pendahulunya yang sudah kepalang sempurna dan saling melengkapi. Setelah menonton, kita tahu mengapa Woody perlu melanjutkan hidupnya dan belajar untuk menyintas dari kecanduan untuk dimiliki yang selalu jadi masalah hidupnya selama seperempat abad terakhir.

Buzz, robot astronot yang sudah jadi sahabat Woody sejak 1995, bahkan merangkum petualangan Woody kali ini dengan sepenggal kalimat melankolis yang dalam ketika salah satu mainan bertanya apakah status Woody berubah jadi lost toy di akhir film.

Kata Buzz, "Woody tak lagi tersesat."

Baca juga artikel terkait FILM ANIMASI atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)


Penulis: Aulia Adam
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight