Teori Konflik Sosial Menurut Max Weber dan Pengertiannya

Oleh: Ilham Choirul Anwar - 4 Agustus 2021
Dibaca Normal 1 menit
Max Weber memandang stratifikasi sosial dalam masyarakat memengaruhi munculnya konflik sosial.
tirto.id - Interaksi sosial yang melibatkan hubungan antarindividu dalam masyarakat akan memunculkan dua dampak sisi mata uang, asosiatif dan disosiatif. Dampak asosiatif akan membuat hubungan mereka lebih erat. Sebaliknya, dampak disosiatif menjadi hubungan makin merenggang.

Renggangnya hubungan interaksi tersebut dapat memunculkan konflik sosial. Penyebab utamanya adalah perbedaan di tengah masyarakat dengan beragam pemicunya seperti perbedaan budaya, ketidaksamaan kepentingan, perubahan sosial yang terlampau cepat, hingga perbedaan pemikiran antarindividu.

Beberapa pakar meneliti mengenai konflik sosial ini, salah satunya adalah Max Weber. Menurut Weber, konflik muncul dari keberadaan stratifikasi sosial dalam masyakat.

Setiap stratifikasi tersebut merupakan posisi yang pantas diperjuangkan manusia dan kelompoknya. Hubungan sosial yang menjadi usaha untuk mendapatkan posisi tinggi di dalam masyarakat.

Dalam teori konfliknya, Weber mengemukakan bahwa kekuasaan memiliki arti penting untuk setiap tipe hubungan sosial. Kekuasaan menjadi penggerak dinamika sosial yang menempatkan individu atau kelompok dapat dimobilisasi atau memobilisasi.

Akibat dari kekuasaan dan kepentingannya, secara bersamaan dapat memunculkan konflik. Konflik sosial ini umumnya terjadi kombinasi pentingan dari setiap struktur sosial yang memunculkan dinamika konflik.

Teori yang disampaikan Weber tidak membahas teori konflik secara spesifik. Weber berusaha melakuan analisa kaitan gerakan sosial dengan konflik. Baginya, gerakan sosial bisa memunculkan konflik seperti yang dialami masyarakat pada masa Revolusi Prancis.

Peletak teori konflik yang terkenal bukan hanya Max Weber. Masih ada Karl Marx dan George Simmel yang mengemukakan teori konfliknya masing-masing. Bahkan, antar-teori juga "berkonflik" karena perbedaan pandangan seperti pada pemikiran Karl Marx dan Max Weber.

Melansir Jurnal JIME Volume 3 Nomor 1 (2017) disebutkan, teori konflik menurut Karl Marx menyatakan bahwa perubahan sosial muncul karena terjadi konflik yang akhirnya menghasilkan kompromi berbeda dari keadaan awal. Masyarakat akan terbagi dalam dua kelas yaitu kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin (proletar). Mereka berkonflik karena adanya sifat berbeda dari keduanya.

Sementara dalam Jurnal Fikrah Volume 3 Nomor 1 (2015) disebutkan, konflik antara kelas borjuis dan proletar tidak lepas dari penerapan kapitalisme oleh kaum borjuis. Kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang memungkinkan sebagian indvidu menguasai sumberdaya produktif vital. Kelas borjuis menggunakan akses tersebut untuk meraih keuntungan maksimal dengan memanfaatkan jasa tenaga kelas proletar sebagai buruh.

Max Weber menyanggah pendapat teori konflik Kari Marx terkait materialisme historis tersebut. Materialisme historis yang ada dalam pendapat Marx hanya menekankan perhatian pada satu sisi kelas. Menurut Weber diperlukan penyeimbang dengan juga menekankan peranan faktor gagasan yang menjadi penyebab perubahan sejarah.

Weber memusatkan perhatian dengan memahami pertumbuhan sistem kapitalisme rasional di dunia Barat dalam skala besar. Sebaliknya sistem kapitalisme justru tidak mengalami banyak perkembangan di Timur dan tidak disukai. Weber berpendapat, kekosongan transformasi relijius di Timur menjadipenghalang perkembangan kapitalisme di wilayah tesebut.


Baca juga artikel terkait KONFLIK SOSIAL atau tulisan menarik lainnya Ilham Choirul Anwar
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Dipna Videlia Putsanra
DarkLight