Tentang Bagaimana Ronaldinho Mengubah Barcelona

Oleh: Ahmad Khadafi - 9 April 2017
Dibaca Normal 4 menit
Ronaldinho bukan hanya seniman bola tanpa tanding, namun penggubah terbesar Barcelona pasca Cruyff.
tirto.id - Dalam hikayat FC Barcelona, ada batasan era yang cukup jelas. Seperti halnya catatan kalender sejarah dunia yang dibagi menjadi Sebelum dan Sesusah Masehi , Barcelona juga punya versinya sendiri: BC dan AC. Bukan Before Century dan After Century tentu saja, melainkan Before Cryuff dan After Cryuff. Era sebelum Johan Cryuff dan sesudahnya. Era di mana Barcelona masih sekadar pesaing Real Madrid di Spanyol menjadi Barcelona yang menjadi rujukan seluruh klub di dunia dalam bentuk yang berkebalikan dari Madrid.

Cryuff bukan saja menyumbangkan empat gelar La Liga, gelar Liga Champions pertama, Piala Winners, Copa Del Rey, Piala Super Eropa, dan Piala Super Spanyol, namun juga membentuk perspektif sepakbola yang akan menjadi cikal bakal Barcelona yang kita kenal sekarang. Barcelona dengan segala hal yang mengerikan untuk lawan-lawannya.

Akan tetapi, era After Cryuff yang merupakan era pencerahan ini, tidak akan berarti apa-apa tanpa satu sosok yang mengubah Barcelona secara radikal yang sekarang kita kenal. Bukan melalui komposisi taktik atau revolusi manajemen secara brutal, melainkan dengan cara sederhana memainkan sepakbola di atas lapangan: Ronaldinho.

Dengan senyum yang terus menggores di pipi dan gigi yang menyembul keluar di sela bibirnya. Ajakan tarian samba di sudut lapangan usai mencetak gol. Tawa ngakak yang keluar setelah melewatkan bola di selangkangan pemain lawan atau melakukan trik-trik ajaib yang seolah-olah membuat kita sangsi apakah bola sekarang memang terbuat dari balon udara?

Tarian kakinya—baik saat memainkan bola atau melakukan perayaan gol—seolah-olah membuat Nou Camp menjadi Dinseyland. Arena bermain. Mengembalikan sepakbola ke khittahnya sebagai arena bersenang-senang. Membawa kembali ingatan orang-orang soal bagaimana seharusnya olahraga ini dimainkan. Bukan dengan muka ditekuk serius, tapi dengan kegembiraan. Sosok yang menunjukkan, inilah sepak bola paripurna yang dibutuhkan sekarang: menyenangkan!

“Semuanya berubah untuk Barcelona,” ujar Joan Laporta, Presiden Barcelona, saat memberikan pidato kedatangan Ronaldinho.

Musim panas 2003, nama Ronaldinho terus menggema di telinga para manajer klub-klub besar dunia. Alasannya sederhana, satu tahun sebelumnya, anak muda ini membantu Ronaldo Nazario Da Lima dan Rivaldo, dua pemain hebat saat itu, mencapai laga puncak Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan. Sekaligus membantu Brasil menyematkan bintang kelima di atas emblem mereka di Yokohama.

“Saya bermain untuk Brasil pada era yang fantastis. Saya bermain dengan para pahlawan saya,” kata Ronaldinho. “Setiap kali saya dipanggil timnas untuk bermain bersama mereka, hal itu adalah mimpi yang jadi kenyataan.”

Bahkan sampai Ronaldinho sudah jadi pemain pro sekalipun, ia perlu memukul pipi dan mencubit dirinya sendiri untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi saat bermain bersama Ronaldo atau Romario. “Setiap kali saya mencium pipi Ronaldo, memeluk Romario, melihat Rivaldo, melihat saya berada di tempat yang sama dengan Roberto Carlos atau Cafu, itu menjadi momen yang sangat emosional bagi saya. Mereka akan selalu jadi pahlawan saya,” ujar Ronaldinho.

Akan tetapi, menarik tentu saja mengetahui dari siapa sebenarnya inspirasi Ronaldinho belajar memainkan bola penuh trik-trik tersebut. Ronaldo dan Rivaldo tentu saja jadi beberapa di antaranya, tapi Diego Maradona adalah jawaban yang mengejutkan.

“Saya selalu menikmati permainannya, termasuk semua yang dia lakukan setelah pertandingan,” jelas Ronaldinho. “Dia (Maradona) punya teknik yang berbeda dari pemain lainnya. Saya tidak bisa seperti dirinya yang bisa melakukan keeping-ball dengan buah jeruk, selain karena ibu saya tidak ingin saya membuang makanan tentunya.”

Ronaldinho memang tidak bisa bermain di semifinal dan final Piala Dunia 2002 karena akumulasi kartu merah di laga sebelumnya. Namun namanya tetap dikenal karena satu hal: bermain luar biasa melawan Inggris di perempatfinal. Tentu kita tidak sedang membicarakan umpannya kepada Rivaldo yang berujung gol penyama kedudukan, melainkan soal lengkungan ajaib dari tendangan bebas sejauh 40 meter yang memecundangi David Seaman dan membuat gol Michael Owen di babak pertama jadi sia-sia.

Komentar-komentar pun bermunculan, bahwa Ronaldinho pasti tidak sengaja. Gol itu terlalu indah jika disengaja. Pasti cuma keberuntungan. Sayangnya, Roberto Carlos akan jadi sosok pertama yang siap jadi pengacara bagi Ronaldinho untuk membela bahwa gol tersebut memang betulan ajaib karena sudah direncanakan sejak awal.

“Itu memang tampak seperti sebuah umpan silang, tapi itu benar-benar disengaja,” ujar Roberto Carlos. “Kami telah melihat Seaman selalu mengambil langkah kecil ke depan dan membuatnya rentan untuk kena bola chip. Ronaldinho mengatakan kepada kami tentang apa yang akan ia lakukan (kepada Seaman) selama babak pertama.”

Paris Saint Germain, klub labuhan pertama Ronaldinho di Eropa, menjadi terlalu kecil sejak Piala Dunia 2002 selesai. Dua klub besar pun bertarung untuk mendapatkan tanda tangannya: Manchester United dan Barcelona.

Rencana kepergian David Beckham dari United membuat Sir Alex Ferguson membutuhkan sosok yang sesuai untuk menggantikan sang megabintang. Skenario awalnya adalah, Beckham pergi ke Barcelona dan Old Trafford mendatangkan Ronaldinho.

Joan Laporta dan Sandro Rosell, capres dan cawapres Barcelona, saat itu berjanji akan mendatangkan Beckham ke Nou Camp. Saat itu, diperlukan stimulus bagi para supporter Barcelona untuk melupakan perginya Luis Figo ke Santiago Bernabeu dengan mendatangkan pemain “Nomor 7” yang sama bagusnya—paling tidak secara reputasi.

Sayang sekali, Florentino Perez, Presiden Madrid jauh lebih cepat mencuri Beckham. Tidak mau dipermalukan, setelah terpilih dan janjinya kelihatan akan gagal, Laporta dan Rosell pun sekuat tenaga merayu Ronaldinho dengan bantuan sponsor utama Barcelona; Nike. Pada akhirnya, kedatangan Sir Alex Ferguson menemui kakak Ronaldinho ke Paris, Roberto Assis de Moreira, jadi sia-sia belaka. Komentar negatif pun bermunculan.

“Saya tidak ingin jadi tidak sopan, namun setiap pemain yang tidak ingin dibeli oleh Manchester United perlu untuk memeriksakan isi kepalanya,” ejek Roy Keane melihat manajernya sudah jauh-jauh ke Paris tapi dicampakkan begitu saja oleh agen Ronaldinho.

Satu minggu kemudian United mendapatkan gantinya. Seorang anak muda dari Sporting Lisbon yang akan jadi kompetitor abadi untuk “murid terbaik” Ronaldinho di Barcelona pada masa depan.

infografik ronaldinho


Musim pertama Ronaldinho di Barcelona tidaklah begitu lancar. Pada musim 2003/2004, hanya menang enam kali dari 18 pertandingan bukanlah tanda-tanda bagus. Beruntung, di paruh musim berikutnya, kedatangan Edgar Davids dari Juventus membantu banyak Ronaldinho untuk membawa Barcelona kembali ke jalur yang benar. Kedatangan “The Pittbull”—julukan Davids—benar-benar membuat nyaman Ronaldinho saat harus sendirian mengacak-acak pertahanan tim lawan tanpa perlu khawatir dengan pertahanan.

Bersama Frank Rijkaard, Ronadinho berubah jadi sosok yang menyenangkan dan mengerikan dalam waktu yang sama. Mengobrak-abrik kuartet bek terbaik di dunia, Alesandro Nesta, Paolo Maldini, Jaap Stam, dan Cafu, pada laga semifinal Liga Champions 2006 melawan AC Milan. Membuat Sergio Ramos dan Iker Casilass tidak akan bisa melupakan mimpi buruk saat standing ovation publik Barnabeu malah ditujukan untuk sosok yang mempermalukan mereka. Sampai membesarkan sosok yang akan jadi satu-satunya pemain terbaik dunia yang pernah dilahirkan oleh La Masia.

Ronaldinho adalah sosok yang mengangkat keterpurukan Barcelona sepeninggal Johan Cryuff. Tidak bermaksud mengerdilkan kontribusi Carles Puyol, Xavi Hernandez, atau Samuel Etoo, akan tetapi harus diakui tanpa kehadirannya di Barcelona pada musim panas 2003, bukan tidak mungkin kita akan gagal menjadi saksi sebuah tim yang bisa begitu dominan selama satu dekade ke belakang.

Orang-orang mungkin membicarakan Josep Guardiola, tapi tanpa Ronaldinho di era sebelumnya, Guardiola tidak akan punya siapapun yang bisa diandalkan untuk jadi kepingan terakhir dalam taktik revolusionernya. Dialah Lionel Messi, sosok yang begitu disayang Ronaldinho. Mata seorang jenius memang tidak bisa luput saat menilai jenius lainnya.

“Saya pikir dialah alasan klub ini berubah. Barcelona tidak bekerja dengan cukup baik sebelum dia mengubah semuanya di sini,” jelas Lionel Messi, “Klub ini seharusnya berterima kasih kepada Ronaldinho atas apapun yang pernah dia lakukan.”

Meminjam pidato Laporta saat menyambut kedatangan Ronaldinho ke Barcelona 2003 lalu, “Semuanya berubah bukan hanya untuk Barcelona, namun juga untuk sepakbola.”

Baca juga artikel terkait BARCELONA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Khadafi
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Ahmad Khadafi
Penulis: Ahmad Khadafi
Editor: Ahmad Khadafi