Tanggal 1 Suro Jatuh pada Hari Apa: Tradisi Malam Suroan di Jawa

Oleh: Yulaika Ramadhani - 3 Agustus 2021
Dibaca Normal 2 menit
Tahun baru Islam yang jatuh di bulan Muharam ini juga bertepatan dengan awal penanggalan kalender Jawa, yang dimulai dari bulan Suro.
tirto.id - Tanggal satu Muharram atau oleh masyarakat Jawa sering dikenal sebagai satu Suro jatuh pada hari Selasa 10 agustus 2021. Dalam budaya masyarakat Jawa, malam peringatan tahun baru tersebut dianggap sakral.

Tahun baru Islam yang jatuh di bulan Muharam ini juga bertepatan dengan awal penanggalan kalender Jawa, yang dimulai dari bulan Suro.

Satu Muharam atau Suro yang memiliki catatan peristiwa penting di dunia Islam ataupun kebudayaan masyarakat Jawa, telah menjadi latar munculnya berbagai festival atau perayaan untuk memperingatinya.


Djihan Nisa Arini Hidayah dalam Jurnal Ilmiah PPKN IKIP Veteran mengatakan satu Suro atau ‘Suroan’ dianggap sebagai hari besar yang sakral bagi warga Klaten secara turun-temurun, di mana masyarakat kebanyakan mengharapkan bisa mendapatkan berkah pada hari besar ini, ritualnya diistilahkan sebagai ‘Ngalap Berkah’.

Bagi masyarakat Klaten, Suroan merupakan kegiatan berdoa bersama sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan tuhan. Selain itu, tradisi ini dapat mempererat tali persaudaraan.

Pada malam satu Suro, biasanya masyarakat Klaten melakukan kegiatan laku prihatin untuk tidak tidur semalam suntuk atau selama 24 jam.

Kegiatan Suroan di Klaten diisi dengan acara selametan (kenduri) massal serta mengadakan pertunjukan Wayang Kulit semalam suntuk setiap tanggal tujuh Suro.

Perayaan-perayaan saat Muharam memang lekat dengan apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai keagamaan. Selain Klaten, daerah lain di pulau Jawa juga memiliki tradisi berbeda pada saat Muharam.

Seperti Grebek Suro di Ponorogo. Grebeg Suro merupakan kirab mengelilingi benteng keraton, puncaknya adalah pembagian tumpeng raksasa yang disediakan oleh pihak keraton. Tumpeng tersebut merupakan simbol keberkahan untuk masyarakat.

Berbeda dengan Grebeg Suro, ritual di Temanggung, Jawa Tengah, dilaksanakan dengan bernyanyi bersama Kidung Jawi yang berjudul Dhandang Gula, dilanjutkan dengan acara Kacar-kucur dan doa keselamatan bersama yang dipimpin oleh kaur keagamaan.

Selain itu, warga lereng Gunung Semeru di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, melestarikan ritual larung pendam setiap 1 Muharam. Tradisi ini sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Dengan tujuan yang sama, warga Desa Kenjo, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar tradisi adat sapi-sapian dalam menyambut 1 Muharam.

Tradisi-tradisi ini hanya sebagian kecil dari ragam tradisi menyambut 1 Muharam di Jawa. Masyarakat Jawa punya cara masing-masing memperingati sebuah momen yang pada dasarnya tak hanya sebuah pergantian tahun semata.


Untuk tanggal merah hari libur Tahun Baru Hijriah sendiri adalah H+1 atau tepatnya pada tanggal 11 Agustus 2021.

Hal ini seturut dengan ketentuan dalam SKB 3 Menteri Nomor 642 tahun 2020 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2021 yang ditandatangi 18 Juni 2021.

SKB 3 Menteri ini menyatakan bahwa tanggal merah atau hari libur Tahun Baru Islam tidak jatuh pada 10 Agustus, melainkan hari Rabu 11 Agustus 2021.



Selain perubahan tanggal Tahun Baru Muharram 1443 H yang semula jatuh pada hari Selasa tanggal 10 Agustus 2021 menjadi hari Rabu tanggal 11 Agustus 2021, pemerintah juga mengubah hari libur lainnya, seperti:
  • Mengubah Hari Libur Nasional Maulid Nabi Muhammad SAW yang semula jatuh pada hari Selasa tanggal 19 Oktober 2021 menjadi hari Rabu tanggal 20 Oktober 2021.
  • Menghapus Cuti Bersama Hari Raya Natal tanggal 24 Desember 2021.
Link Download SKB 3 Menteri Nomor 642 tahun 2020 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2021.

Baca juga artikel terkait TAHUN BARU ISLAM atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Penyelia: Addi M Idhom
DarkLight