Misbar

Star Wars: The Rise of Skywalker Mengucapkan Salam Perpisahan

Star Wars: The Rise of Skywalker. instagram/starwars
Oleh: Faisal Irfani - 29 Desember 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sajian tarungnya tetap memukau. Sayang, rusak karena beberapa blunder J.J. Abrams.
tirto.id - Dalam episode teranyarnya, The Rise of the Skywalker, Star Wars masih berpijak pada narasi yang sama sebagaimana dua film terdahulu: pertempuran antara kelompok Resistance dan First Order. Resistance mewakili orang-orang yang menginginkan galaksi damai. Sebaliknya, First Order menjadi wajah tirani yang mendambakan kekuasaan mutlak di tatanan alam semesta.

Pertarungan yang melibatkan Rey (Daisy Ridley) dan Kylo Ren (Adam Driver) juga tetap diteruskan. Rey memegang lightsaber berwarna biru, yang merepresentasikan simbol—sekaligus harapan—akan eksisnya Jedi setelah Luke Skywalker (Mark Hamill) tiada. Satunya, Kylo, memakai pedang merah yang merupakan citra kebengisan, amarah, serta ambisi untuk menyamai leluhurnya: Darth Vader.

Bisa dibilang, rivalitas mereka kali ini semakin dalam dan berliku, semenjak pertama kali dimunculkan pada episode The Force Awakens (2015) dan berlanjut di The Last Jedi (2017). Tak sekadar getol—dan mahir—bertarung, baik Rey maupun Kylo kian terlibat pada relasi emosional yang ganjil.

Tapi, yang menjadikan The Rise of the Skywalker beda adalah bahwa Sith, yang digambarkan lewat Emperor Palpatine (Ian McDiarmid), akhirnya kembali dimunculkan dalam porsi cukup besar—setelah terakhir di episode Revenge of Sith (2005). Kelompok Resistance harus menemukan mereka—di sebuah daerah bernama Exogol—dan menghancurkannya agar agenda Sith untuk melenyapkan galaksi tidak terealisasi.


Memilih episode Star Wars yang paling bagus—atau setidaknya berkesan—bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap segmen, yang memuat tiga film, menawarkan ciri khas masing-masing.

Di fase pertama, atau original story, misalnya, Star Wars dianggap penting karena melawan arus industri perfilman Hollywood yang pada masa itu dipenuhi film-film bertema kekerasan dan seks. Perang galaksi, pesawat luar angkasa, serta adu lihai pedang bercahaya menjadi daya tarik baru yang kelak dirayakan publik.

Di saat bersamaan, original story milik Star Wars turut pula melahirkan deretan karakter yang kelak menyabet status ikonik. Luke Skywalker, Princess Leia (Carrie Fisher), Lando Calrissian (Billy Dee Williams), Darth Vader, sampai Han Solo (Harrison Ford) adalah beberapa di antaranya. Dan, oh, Millenium Falcon!

Dua dekade berselang, Star Wars lahir dalam wujud The Phantom Menace (2000), Attack of the Clones (2002), dan Revenge of Sith. Fase ini merupakan prekuel dari original story, yang banyak membahas asal-usul munculnya Darth Vader dan cikal bakal kekuasaan Empire.

Kendati dikritik habis-habisan karena dipandang gagal menyajikan kualitas yang sama seperti garapan terdahulu, Star Wars masih meninggalkan warisan yang layak dikenang: kelincahan Master Yoda menggunakan force dan lightsaber-nya kala melawan Palpatine di ruang senat; hingga kebencian yang melumuri diri Anakin sehingga membuatnya tak ragu membantai semua anggota Jedi.

Sedangkan di fase terbaru, bersamaan dengan pindahnya kepemilikan dari Lucasfilm ke Disney, Star Wars hadir dengan pesan pelebur batas: menjadikan perempuan sebagai Jedi sekaligus tokoh sentral dalam setiap episode.


Karakter perempuan di semesta Star Wars sendiri sebetulnya punya peran dan porsi yang cukup signifikan. Sosok Leia hingga Padme Amidala (Natalie Portman), misalnya, berkontribusi besar menentukan alur cerita. Namun demikian, kiprah mereka masih tertutup dengan Luke, Anakin, hingga Han yang kerapkali ditempatkan di “posisi utama”.

Tradisi semacam itu, perlahan, mulai dikikis di trilogi terbaru Star Wars. Sejak Force Awakens, sampai The Rise of Skywalker, Rey memegang kendali dalam perjalanan Star Wars. Rey, mungkin, menjadi satu-satunya Jedi perempuan yang didaulat sebagai tokoh sentral.

Kiprah Rey, dalam menyelamatkan semesta raya dari kepungan First Order, masih dipertahankan di The Rise of Skywalker. Bersama Finn (John Boyega) dan Poe (Oscar Isaac), Rey mendapatkan tanggung jawab untuk mencegah kerusakan yang ditimbulkan dari serangan First Order dan ancaman kebangkitan kelompok Sith.

Sepanjang dua jam lebih, saya dimanjakan dengan petualangan yang mengasyikkan, sebagaimana trademark produk yang lahir dari kepala George Lucas ini. Efek visual yang mewah sekaligus penuh presisi membungkus pelbagai adegan: kepungan Stromtroopers, tembakan yang berhamburan di luar angkasa, hingga gerak mesin penghancur planet milik Star Destroyer. Tiap elemen dirancang secara detail dan rapi oleh J.J. Abrams selaku sutradara beserta bala krunya.

Tapi, tak dapat dipungkiri, daya tarik episode ini adalah pertarungan antara Rey dan Kylo. Adu pedang—juga kekuatan force—di antara keduanya selalu bernas. Misalnya, seperti saat Rey menghancurkan pesawat Kylo di gurun pasir dengan sekali tebasan lightsaber. Gerak Rey sungguh elegan, memukau, dan mungkin terbaik ketimbang Jedi yang lain. (Maaf, Master Yoda.)

Yang paling monumental, tentunya, adegan tatkala keduanya beradu lightsaber di tengah gulungan ombak dan bangkai Death Star—yang hancur di Return of the Jedi (1983). Sinematografi yang mumpuni serta scoring John Williams yang membahana telah membuat perkelahian keduanya terlihat begitu magis.

Sayangnya, impresi baik tersebut dirusak dengan beberapa blunder yang diambil Abrams. Yang paling mengganggu yakni bagaimana karakter utama Kylo dan Ren mudah sekali dihidupkan dari kematian hanya dengan bermodalkan force masing-masing.


Saya sebetulnya sudah berada di titik klimaks manakala lightsaber menembus tubuh Kylo di tengah film. Keputusan yang berani, pikir saya. Akan tetapi, semua musnah setelah melihat Kylo disembuhkan—tak jadi mati—oleh kemampuan force kepunyaan Rey.

Hal sama juga terjadi saat giliran Rey yang meninggal usai bertarung dengan Palpatine. Ini bakal jadi scene yang menawan, gumam saya, karena karakter utama—terlebih dalam jagat Star Wars—dimatikan di akhir film yang happy ending.

Ternyata saya keliru. Kylo datang, lalu menyelamatkan Ren, dan keduanya pun berciuman—sebelum akhirnya Kylo tewas sebab kehabisan force.

Mood saya seketika hancur.



Kritikus film Pauline Kael pernah mengatakan bahwa menyaksikan Star Wars tak ubahnya seperti “menyaksikan anak-anak ketagihan datang ke pertunjukan sirkus.” Star Wars, Kael bilang, adalah tentang “perasaan nostalgia yang menuntut kita sejenak kembali ke masa kecil.”

Pernyataan Kael tak salah. Visi jembar Lucas yang ingin menyajikan film bertema fantasi dan mengangkat narasi kepahlawanan telah melambungkan nama Star Wars. Tak hanya itu, Star Wars memberikan ruang bagi banyak orang untuk mengais nostalgia masa kecil.

Star Wars menghibur publik dengan aksi baku tembak, adu balap pesawat tempur luar angkasa, efek visual serba meriah, hingga anekdot yang menyebut konflik utama dalam Star Wars sebenarnya adalah soal drama keluarga, alih-alih pertarungan rezim diktator melawan pemberontak.

Orang-orang mendadak ingin jadi Leia, Luke, atau Han Solo yang karismatik. Sementara yang lain berhasrat bisa menaiki Millenium Falcon dan menjalankan misi menyelamatkan galaksi.

Pada akhirnya, The Rise of Skywalker menutup petualangan yang berjalan lebih dari empat dekade itu. Mungkin, kelak, Disney akan membuat semesta epos Star Wars yang baru, panjang, sekaligus megah dengan segala kompleksitasnya. Namun, saya meyakini bahwa semua tak terasa sama tanpa kehadiran Leia, Luke, atau pertarungan Sith melawan Jedi.

Baca juga artikel terkait STAR WARS atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Film)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight