Menuju konten utama

Sistem Swap Baterai Motor Listrik, Kekurangan dan Kelebihannya

Seiring berkembangnya infrastruktur swap baterai di Indonesia, motor listrik makin dilirik masyarakat. Berikut kelebihan dan kekurangan swap baterai.

Sistem Swap Baterai Motor Listrik, Kekurangan dan Kelebihannya
ilustrasi Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU). ANTARAFOTO/Muhammad Rizky Febriansyah/bay/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ekosistem motor listrik di Indonesia makin memudahkan pengendara melakukan pengisian baterai. Teranyar, berbagai perusahaan menawarkan sistem Battery-as-a-Service (BaaS), ketika baterai terpisah dari kepemilikan kendaraan.

Hal ini berdampak kepada harga muka yang cenderung lebih murah serta proses pengisian baterai yang lebih cepat. Sejumlah perusahaan sudah menyediakan stasiun swap baterai untuk menunjang performa motor listrik.

Seiring berkembangnya infrastruktur swap baterai di Indonesia, motor listrik menjadi pilihan yang makin menarik untuk masyarakat urban yang membutuhkan kendaraan efisien, hemat, dan ramah lingkungan.

Meski demikian terdapat sejumlah kekurangan yang perlu dipertimbangkan para pengguna. Terutama ketersediaan stasiun swap yang hanya tersebar di kota besar, biaya bulanan yang tetap meski jarak tempuh kendaraan sedikit, hingga standarisasi baterai yang belum merata.

Cara Kerja Swap Baterai, Pangkas Waktu Tunggu

Salah satu inovasi terbaru yang mendukung ekosistem motor listrik di Indonesia adalah swap baterai atau penukaran baterai. Metode ini menjawab tantangan utama pengguna motor listrik yang kerap kali memakan waktu lama untuk mengisi daya.

Secara sederhana cara kerja swap baterai hampir mirip dengan pembelian elpiji. Pengguna motor listrik hanya perlu membawa baterai yang sudah habis, untuk ditukar dengan baterai yang telah terisi penuh di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terdekat.

Melansir laman batteryswapstation.com, proses swap baterai ini hanya membutuhkan waktu singkat tergantung pada jenis kendaraan. Khusus mobil penumpang dan truk berat, proses swab baterai sudah menggunakan sistem robotik otomatis, hanya dalam tempo 3 hingga 6 menit.

Jumlah kendaraan listrik berbasis baterai di Indonesia

Pengemudi ojek daring mengganti baterai sepeda motor listriknya di Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU), SPBU Pertamina, Jalan Letjen S. Parman, Jakarta, Kamis (9/10/2025). ANTARAFOTO/Muhammad Rizky Febriansyah/bay/bar

Sementara, kendaraan yang lebih kecil seperti motor listrik dan skuter listrik atau moped hanya perlu melakukan penukaran baterai di loker yang tersedia dengan waktu 40-60 detik.

Waktu tersebut jauh lebih singkat ketimbang mengisi daya baterai di rumah dengan durasi waktu hingga 4-8 jam. Sementara, metode fast charging juga masih memerlukan waktu yang relatif lebih lama, yaitu kurang lebih 30-60 menit.

Secara prosedur, proses swap baterai umumnya mudah dilakukan. Pengendara mengunjungi stasiun swap terdekat lalu menempati lokasi yang telah ditetapkan. Lepaskan baterai kosong dari motor dan masukkan baterai kosong ke dalam mesin penukaran. Setelah itu, ambil baterai yang sudah terisi daya penuh lalu pasangkan ke motor untuk melanjutkan perjalanan.

Kelebihan dan Kekurangan Swap Baterai vs Charger Mandiri

Meski tampak lebih praktis dan memangkas waktu tunggu pengisian, pengendara juga perlu mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan swap baterai.

Secara umum, penggunaan swap baterai dapat mengurangi biaya kendaraan di muka. Model baterai yang digunakan berupa model Battery-as-a-Service (BaaS) alias terpisah dari biaya pembelian.

Dengan begitu pembeli hanya membayar lebih sedikit, karena biaya baterai dihitung sewa dari produsen dengan biaya bulanan. Sedangkan jika pembelian baterai include dengan biaya muka, maka harga komponen baterai diperkirakan di angka 40-50 persen dari total harga motor.

Tak hanya itu, biaya perawatan swap baterai ditanggung oleh perusahaan pengelola. Tarif biaya bulanan yang ditetapkan tersebut sekaligus biaya perawatan.

Perawatan dibebankan kepada stasiun penukaran baterai, maka daya diisi secara perlahan dan dikelola dalam lingkungan yang terkendali. Hal ini penting untuk membantu memperpanjang masa pakai baterai dan mempertahankan performa yang konsisten.

Menghimpun berbagai sumber, SWAP Battery System mematok harga sekira Rp20 ribu untuk jarak 100 km, dengan masa penggunaan 30 hari. Sementara, baterai Oyika dibanderol Rp150 per bulan tanpa kuota km. Berikutnya, ALVA menawarkan paket 0–700 km dengan harga Rp 125 – Rp 150 ribu per bulan.

Makin panjang jarak tempuh, perusahaan biasanya bakal menawarkan harga kompetitif, dan cenderung lebih murah jika dibanding jarak dekat.

Motor Listrik Yadea Velax

Motor Listrik Yadea Velax. FOTO/yadea.id

Kualitas baterai yang sudah ditanggung oleh perusahaan menjadikan pengguna terbebas dari degradasi fungsi baterai, yang biasa terjadi bertahap seiring berjalannya waktu penggunaan. Biasanya degradasi fungsi baterai terjadi setelah 3 tahun pemakaian.

Di balik kemudahan tersebut, swap baterai memerlukan biaya operasional rutin meski motor jarang digunakan. Tak hanya itu, keterbatasan jumlah SPBKLU sebagai pusat penukaran baterai perlu dipertimbangkan dengan matang oleh pengguna. Motor listrik pengguna swap baterai sangat bergantung pada keberadaan SPBKLU.

Penukaran baterai membutuhkan ukuran baterai, konektor, dan desain kendaraan yang terstandarisasi. Sampai kini, belum ada standarisasi baterai motor listrik yang dapat memanfaatkan swap baterai.

Umumnya, swap baterai digunakan oleh jenis baterai Lithium Iron. Beberapa model motor listrik dengan sistem baterai swap yang tersedia di Indonesia di antaranya: Smoot Tempur, Smoot Zuzu, Volta 401, Volta Virgo, Volta Mandala, Honda EM1, Honda CUV, serta Electrum H5.

Sementara itu, sejumlah pengendara masih tetap memilih home charging sebagai cara mengisi daya karena alasan tertentu. Pertama, penggunaan baterai home charging disesuaikan dengan jarak tempuh tanpa ada biaya sewa baterai bulanan. Pengguna dapat mengisi baterai kapan saja di rumah, tanpa perlu bergantung pada operasional SPBKLU.

Kendati demikian home charging memerlukan waktu pengisian lebih lama, yakni 4-6 jam dengan jarak tempuh tertentu. Masa tunggu tersebut tentu dapat mengganggu mobilitas pengendara.

Motode ini juga perlu ditunjang oleh daya listrik yang tinggi. Apabila daya listrik rumah hanya cukup untuk kebutuhan harian, maka home charging tidak direkomendasikan.

Seiring waktu, risiko degradasi fungsi baterai juga mengintai home charging. Baterai motor cenderung lebih cepat habis meski indikator menunjukkan telah terisi 100 persen. Degradasi fungsi baterai dapat mempengaruhi akselerasi motor.

Kapan Sistem Swap Jadi Plihan Tepat?

Meski memiliki kekurangan dan kelebihan, sistem swap baterai menjadi pilihan tepat bagi pengendara aktif dengan jarak tempuh di atas 60 km, seperti: ojek online, kurir logistik, dan pengguna daya tempuh harian tinggi lain.

Selain itu, swap baterai juga membuat kendaraan dapat tetap beroperasi lebih lama, tanpa perlu berhenti lama untuk pengisian daya.

Selain itu, pengguna yang tinggal di kos atau apartemen tanpa akses listrik yang memadai dapat memilih swap baterai untuk menunjang kebutuhan mobilitas harian. Keberadaan SPBKLU dan durasi penukaran yang singkat menjadi nilai tawar bagi pengguna.

Sistem swap baterai dapat dipilih bagi pengendara yang ingin mendapatkan biaya kendaraan di muka lebih rendah. Terakhir, pastikan tempat tinggal dekat dengan SPBKLU, pusat perbelanjaan, tempat parkir umum, dan lokasi-lokasi yang sudah bekerja sama dengan penyedia layanan baterai swap.

PAMERAN KENDARAAN DENGAN ENERGI LISTRIK

Pengunjung mencoba kendaraan motor dengan energi listrik saat pameran di Balaikota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/11/2022). ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/hp.

Akan tetapi, jika kebutuhan mobilitas harian sangat pendek, maka lebih baik menggunakan charger mandiri agar biaya baterai bulanan tidak terbuang sia-sia. Hal ini juga berlaku bagi pengguna yang memiliki colokan listrik dengan daya yang memadai.

Di tengah maraknya swap baterai, sebuah penelitian berjudul Grid Impact of Battery Swapping Station for Electric Two-Wheelers in Indonesia karya Tisha Aditya Anggraini Jamaluddin dan tim, menunjukkan bahwa penerapan Battery Swapping Station (BSS) dalam skala kecil sekalipun dapat menyebabkan penurunan tegangan hingga 1,1 persen, peningkatan beban transformator sebesar 30 persen, serta kenaikan beban saluran sebesar 100 persen, terutama pada periode puncak aktivitas penukaran baterai.

Temuan ini menegaskan pentingnya perencanaan infrastruktur yang proaktif dan strategi kesiapan jaringan listrik guna mendukung visi masa depan Indonesia, dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang dapat dikembangkan secara luas. Sifat operasional BBS yang sulit diprediksi menimbulkan tantangan bagi jaringan listrik, khususnya pada jaringan distribusi tegangan rendah.

Baca juga artikel terkait MOTOR LISTRIK atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama