Siapakah Alexei Navalny? Oposisi & Musuh Nomor Satu Vladimir Putin

Oleh: Alexander Haryanto - 26 Januari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Berikut adalah profil dan jejak perlawanan Alexei Navalny, penentang sekaligus musuh nomor satu Presiden Rusia Vladimir Putin.
tirto.id - Puluhan ribu orang di Rusia turun ke jalan pada hari Sabtu, 24 Januari 2021 waktu setempat untuk menentang Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka menuntut Putin agar membebaskan aktivis sekaligus politikus oposisi, Alexei Navalny. Dalam unjuk rasa itu, polisi mengerahkan pasukan anti huru hara dan lebih dari 2.500 orang telah ditahan.

Alexei Navalny ditangkap saat pulang dari Jerman pada 17 Januari lalu. Pihak berwenang memang mengatakan Navalny tinggal di Jerman, tempat dia menghabiskan lima bulan untuk memulihkan diri dari keracunan saraf. Sebagaimana dilansir BBC, dia menuduh presiden memerintahkan agen negara meracuninya pada Agustus 2020 lalu.

Dia pingsan dalam penerbangan tepat di atas Siberia menuju Moskow. Atas hal itu, pesawat langsung melakukan pendaratan darurat dan Navalny dilarikan ke rumah sakit Omsk. Dia mengalami koma. Akhirnya, sebuah badan amal yang berbasis di Jerman membujuk pejabat Rusia agar mengizinkannya diterbangkan ke Berlin untuk melakukan perawatan.

Masih berdasarkan laporan BBC, pada 2 September lalu, pemerintah Jerman mengungkapkan hasil tes yang dilakukan militer menemukan bukti adanya hubungan dengan racun Novichok.

Novichok adalah racun kimia yang hampir membunuh mantan mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya Yulia di Salisbury, Inggris, pada Maret 2018. Selain itu, seorang wanita lokal dinyatakan meninggal karena kontak dengan Novichok.

Kendati demikian, Kremlin Moskow membantah adanya peran negara dalam keracunan Navalny. Tetapi, Putin mengakui bahwa negara sedang mengawasi Navalny karena mata-mata AS membantu Navalny.


Profil dan Jejak Perlawanan Alexei Navalny

Alexei Navalny lahir pada 4 Juni di sebuah desa di Barat Moskow bernama Butyn. Ia dibesarkan di Obninsk dan kuliah di bidang hukum Moscow's Friendship of the Peoples University. Pada 2010, ia menghabiskan satu tahun di AS sebagai Yale World Fellow. Kini, bersama istri dan dua orang putrinya, ia tinggal di Moskow.

Seperti dlaporkan DW, Navalny menjadi tokoh oposisi Rusia yang menonjol dalam mengkritik Presiden Vladimir Putin. Ia mulai terkenal pada tahun 2008 lewat blognya karena mengungkap malpraktek dalam politik Rusia dengan perusahaan-perusahaan besar.

Ia pertama kali ditangkap pada tahun 2011 dan menghabiskan 15 hari di dalam penjara karena peran dan kritiknya dalam rapat umum di Duma Negara (DPR) Rusia atas kemenangan pemilihan parlemen untuk partai pendukung Putin, United Russia. Setelah dibebaskan, ia berjanji akan melakukan protes.

Setelah kembali terpilih sebagai presiden pada 2012, Putin memerintahkan Komite Investigasi Rusia untuk menyelidiki kasus masa lalu Navalny. Setahun kemudian, dia didakwa dan dijatuhi hukuman selama lima tahun atas tuduhan penggelapan di Kota Kirov. Namun, pada hari berikutnya, dia dibebaskan dan hukuman itu ditangguhkan.

Meskipun terlibat dalam masalah hukum, Navalny diizinkan mencalonkan diri dalam pemilihan walikota Moskow 2013. Namun, ia kalah oleh sekutu Putin, Sergei Sobyanin, tetapi ia dinilai sukses besar dalam membangkitkan gerakan oposisi Rusia.

Oleh karena Navalny sering mengkampanyekan anti-Kremlin, ia dilarang tampil di televisi milik negara Rusia. Namun, hal itu justru membuat namanya menjadi besar di media sosial dan blog. Ditopang oleh kemampuan berbicaranya di depan umum, penggunaan bahasa yang mencolok serta ejekan yang lucu terhadap Putin dan para loyalisnya, ia berhasil menjaring banyak pengikut di dunia maya.

Pada Desember 2016, Navalny mengumumkan dimulainya kampanye secara resmi untuk mencalonkan diri sebagai presiden Rusia pada pemilihan Maret 2018. Namun, tuduhan korupsi yang menurut pendukungnya bermotif politik, membuat dia dilarang mencalonkan diri untuk jabatan publik.

Pada tahun 2016, Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa memutuskan bahwa Rusia telah melanggar hak Navalny atas persidangan yang adil dalam kasus penggelapan di Kirov. Meskipun Mahkamah Agung Rusia sudah membatalkan hukuman lima tahun tersebut, putusan tersebut dikirim kembali ke pengadilan Kirov. Pada 2017, pengadilan ini kembali menjatuhkan hukuman lima tahun penangguhan kepada Navalny.


Pada Februari 2017, demonstrasi antikorupsi di belasan kota di Rusia telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang ditangkap dan Navalny adalah salah satunya. Aksi ini disebut sebagai protes terbesar di ibu kota Rusia sejak 2012. Pemicunya adalah karena laporan Navalny soal hubungan Perdana Menteri Dmitry Medvedev dengan kerajaan properti senilai miliaran euro. Akan tetapi, Navalny dibebaskan 15 hari kemudian.

Pada April 2017, matanya diserang dengan pewarna kimia hijau yang menyebabkan kornea mata kanannya rusak secara permanen. Ia pun dirawat di rumah sakit. Dalam kasus ini, Navalny menuduh pihak berwenang Rusia menghentikan upayanya dalam mencari perawatan medis di luar negeri karena dakwaan penggelapan terhadapnya. Akhirnya, dia diizinkan oleh dewan hak asasi manusia Kremlin untuk melakukan perjalanan ke Spanyol untuk operasi mata.

Pada 2018, Navalny kembali dipenjara selama 30 hari. Tapi, setelah dibebaskan pada bulan September, dia kembali dipenjara 20 hari lagi. Pada April 2019, Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa memutuskan bahwa Rusia sudah melanggar hak-hak Navalny karena menahannya di bawah tahanan rumah selama kasus penggelapan Kirov.

Pada Juli 2019, hanya beberapa minggu setelah dibebaskan dari hukuman penjara 10 hari, Navalny kembali dipenjara selama 30 hari lantaran melanggar undang-undang protes Rusia. Pemimpin oposisi menuduh Rusia meracuninya dengan agen alergi saat di penjara.

Navalny berhasil mengumpulkan jutaan pengikut di YouTube dan media sosial pada akhir Desember 2019. Atas hal itu, polisi menggerebek markas Yayasan Anti-Korupsi miliknya. Stafnya mengatakan, para pejabat ingin menyita peralatan teknologi milik mereka. Namun, beberapa bulan kemudian, Navalny melaporkan bahwa rekening bank dan rekening anggota keluarganya telah dibekukan.

Pada 20 Agustus, juru bicara mengumumkan bahwa Navalny mengalami sakit parah selama penerbangan dari Siberia ke Moskow. Pesawat melakukan pendaratan darurat, dan Navalny dilarikan ke rumah sakit di Omsk Rusia. Ia kemudian dievakuasi ke klinik Charite Berlin. Dokter menyatakan dia koma. Tetapi, rekan Navalny mengklaim dia telah diracuni.

Kurang dari tiga minggu, Navalny terbebas dari koma. Tidak lama kemudian, dia mengunggah pernyataan di Instagram, sembari mengatakan dia berangsur pulih. Pemerintah Jerman mengatakan, hasil penelitian laboratorium di Prancis dan Swedia sama-sama mengkonfirmasi bahwa Navalny telah diracuni oleh agen saraf era Soviet, Novichok.

Setelah pulih, Navalny berjanji kembali ke Rusia walaupun ada peringatan bahwa dia akan ditangkap. Tak lama setibanya di Moskow, dia ditahan polisi. Di sebuah kantor polisi, dia mengatakan "tidak takut pada apa pun." Dia dijatuhi hukuman 30 hari penjara.


Baca juga artikel terkait ALEXEI NAVALNY atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Politik)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Agung DH
DarkLight