Shazam: Superhero Juga Harus Super-Sabar

Oleh: Irma Garnesia - 7 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Shazam mengikuti rumus film-film superhero dua dekade terakhir: makin manusiawi, makin baper.
tirto.id - Formula baku kisah superhero: menumpas kejahatan, membela yang lemah, dan menegakkan keadilan. Yang tidak baku setidaknya dua puluh tahun terakhir: si superhero ternyata manusia biasa, punya perasaan dan kehidupan pribadi yang (biasanya) cenderung berantakan sejak jadi superhero.

Demikian pula Shazam. Jalan yang membentuk superhero dan super-penjahat dalam film ini adalah masalah jati diri.

Kisahnya dimulai di New York City pada 1974. Thaddeus Sivana alias Thad adalah bocah yang sering dicemooh oleh ayah dan saudara kandungnya. Ketika mereka sedang berkendara, Thad secara ajaib terbawa ke Rock of Eternity dan bertemu penyihir Shazam. Penyihir gaek itu tengah mencari calon pewaris kekuatan super. Shazam menguji Thad yang sayang gagal karena terpikat kekuatan The Eye of Envy. Ia akhirnya kembali ke dunia nyata dengan kesal dan membuat kericuhan di mobil. Thad sekeluarga pun mengalami kecelakaan yang menyebabkan sang ayah kehilangan satu kaki.

Philadelpia, 2019. Billy Batson (Asher Angel) adalah sosok remaja masak bodoh yang berkali-kali mencoba kabur dari panti asuhan karena ingin menemukan ibu kandungnya. Kali terakhir kabur, Billy ditangkap petugas dan akhirnya diadopsi keluarga Grazers. Di keluarga baru ini, ia tinggal bersama empat anak angkat lain. Meski enggan menerima keluarga barunya, Billy sempat membantu saudaranya, Freddie, untuk mengatasi bullying di sekolah. Kebaikan tersebut membuatnya bertemu Shazam yang telah bertahun-tahun mencari pewaris yang tepat.


Eksplorasi jati diri dalam film yang disutradarai David F. Sandberg bukan kali pertama muncul dalam universe DC. Peter Parker dalam Spiderman (2002) adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama paman Ben dan bibi Mary. Suatu ketika Peter sibuk bereksperimen dengan kekuatan super yang baru ia peroleh sampai-sampai melupakan nasihat pamannya: “Kekuatan besar juga menuntut tanggung jawab besar.” Terbunuhnya sang paman oleh perampok membuat Peter menyesal. Ia pun menempuh jalan sunyi sebagai penumpas kejahatan.

Anda juga bisa menemukan hal yang sama dalam Batman Begins (2005). Setelah orangtuanya tewas dibunuh perampok, Bruce Wayne dibesarkan oleh kepala pelayan keluarga, Alfred Pennyworth. Hingga dewasa, Bruce tetap menyimpan rasa bersalah atas kematian orang tuanya.

Elemen cerita anak yatim piatu yang diasuh orangtua angkat juga hadir dalam Shazam. Bedanya tak ada superhero misterius nan muram ala DC. Premis film berdurasi 132 menit ini sederhana: tak mudah jadi superhero. Billy butuh latihan lama agar jadi manusia super, mulai dari belajar terbang hingga menggunakan kekuatannya untuk menghadapi musuh.

Anomali DC?

DC dan Warner Bros kembali bekerja sama dalam menggarap Shazam. Karakter Shazam diciptakan oleh Bill Parker and C.C. Beck pada tahun 1939. Namun, saat itu namanya bukan Shazam, melainkan Captain Marvel. Ia adalah salah satu superhero paling terkenal dari Fawcett Comics pada 1940-an, bahkan sempat dibuatkan film pada 1941.

Marvel Studio belum lama ini juga merilis Captain Marvel yang diperankan oleh Brie Larson. Perebutan nama superhero ini juga tak lepas dari perang dingin DC dan Marvel. Pada 1972, DC Comics membeli lisensi Captain Marvel dari Fawcett. Mereka ingin membangkitkan kembali Captain Marvel yang dianggap masih populer di kalangan pembaca komik. Sayangnya, DC sudah terlambat. Sebab, Marvel telah membuat komik dengan judul “Captain Marvel” pada 1967.

Pengadilan memutuskan DC tak bisa menggunakan judul "Captain Marvel" pada komiknya, tetapi boleh tetap menggunakan nama itu pada tokohnya. Pada 2011, DC mengalah dan akhirnya mengganti nama sang pahlawan super menjadi "Shazam", sesuai dengan judul komik. Hal itu dilakukan agar tidak membingungkan pembaca.


Stanberg patut diapresiasi karena kesabarannya menjajaki proses pendewasaan Billy sebagai pahlawan super. Bertransformasi menjadi superhero (yang diperankan Zachary Levi) tak serta merta menjadikan Billy orang dewasa. Mentalnya masih bocah belasan tahun. Ia harus mengatur gejolak emosinya yang kerap kali membuatnya kewalahan menghadapi si musuh besar, Thad (diperankan Mark Strong).

Pemilihan Zachari Levi sebagai Shazam sudah jelas mengesankan film ini tidak akan serius dan njlimet seperti film DC lainnya. Levi sudah biasa berperan di film-film santai yang mengharuskannya bernyanyi dan menari seperti Alvin and The Chipmunk (2009) dan Tangled (2010). Untungnya tidak ada adegan bernyanyi dan menari di Shazam. Aksi superhero Levi juga bisa disaksikan di serial televisi Chuck (2007-2012) di mana ia berperan sebagai konsultan rahasia bagi CIA dan NSA. Bedanya, di situ ia bermain sebagai agen yang polos, yang bahkan tidak tahu cara berkelahi. Tingkah kocak kekanak-kanakan ala Chuck pun kurang lebih sama dengan Shazam.

Shazam adalah perspektif menarik jika ingin melihat film DC yang lebih humoris dan menyenangkan. Shazam seolah ingin menawarkan citra lain yang berbeda dari film-film DC yang cenderung suram. Tapi Shazam bukanlah hidangan utama DC tahun ini. Ia ‘cuma’ hidangan pembuka sebelum masuk ke menu utama, yaitu Joker yang akan rilis Oktober nanti.

Infografik Misbar Shazam
undefined


Superhero yang Makin Baperan

Sejak tahun 2000-an, superhero Hollywood digambarkan lebih manusiawi dan lebih baper. Mereka jatuh cinta, patah hati, dan lebih sensi ketika musuh menyinggung anggota keluarganya. Sebut saja kisah Peter Parker dan Mary Jane dalam Spiderman (2002). Ia harus menyembunyikan jati dirinya sebagai superhero demi melindungi bibinya, Mary, dan Mary Jane. Green Goblin sebagai lakon jahat juga dengan jelas mengungkapkan bahwa cara menghancurkan Spiderman adalah dengan menyakiti orang-orang yang disayanginya.

Gelombang tersebut berlanjut di Batman v Superman: Dawn of Justice (2016). Batman yang lagi asik-asiknya menghabisi Superman terkejut luar biasa ketika Superman mengatakan “Selamatkan Martha!” Ternyata nama ibu mereka sama. Batman yang tadinya beringas pun berangsur-angsur luluh. Superman pun selamat.

Contoh lainnya adalah Justice League (2017). Ingat ketika Batman membalikkan omongan Wonder Woman yang menyuruhnya move on? “Kamu bersembunyi selama seabad, jadi tidak usah menyuruhku move on.” Wonder Woman, keturunan Amazon yang diciptakan Zeus untuk melindungi umat manusia, rupanya tak kunjung move on dari dari Steve Trevor yang sudah meninggal ketika Perang Dunia I berakhir.

Justice League juga menampilkan Superman yang baru bangkit dari kubur dan menyerang semua superhero, termasuk Batman. Ia mengulangi kata-kata “Kamu bisa berdarah?” yang dulu diucapkan Batman ketika hampir membunuhnya. Adegan dramatis itu terhenti ketika Lois Lane menghampiri Superman, yang bahkan langsung membawa kabur sang kekasih dan melepaskan Batman yang hampir remuk.

Shazam juga tak luput dari kesan superhero baperan, apalagi ia adalah remaja yang masih labil dan sedang mencari jati diri.

Film ini juga bukannya tanpa cela. Adegan alter ego Billy membagikan kekuatan pada saudara-saudaranya terlihat tidak efektif. Ketika Billy masih berusaha menemukan cara yang tepat mengalahkan musuh-musuhnya, bahkan setelah latihan berkali-kali, kok bisa keempat saudaranya cepat beradaptasi menjadi manusia super?

Ah, barangkali DC tak punya ekspektasi tinggi untuk Shazam. Jika tujuan DC adalah membuat pahlawan yang tidak melulu misterius dan punya masa lalu super kelam, tujuan tersebut tentu berhasil. Namun jika Anda penggemar sejati DC, lebih baik tunggu Joker Oktober nanti.

Baca juga artikel terkait RESENSI FILM atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Film)


Penulis: Irma Garnesia
Editor: Windu Jusuf