Setengah ASEAN di Sepakbola Eropa

Radja Nainggolan, gelandang AS Roma berpaspor Belgia, berayahkan orang Batak. FOTO/GettyImages
Oleh: Iswara N Raditya - 10 Desember 2016
Dibaca Normal 3 menit
Mereka bukan hanya keturunan, tapi benar-benar beribu atau berayahkan orang dari negeri-negeri timur jauh di Asia Tenggara. Inilah orang-orang setengah ASEAN yang terbilang sukses melakoni karier di gemerlapnya sepakbola Eropa.
tirto.id - Piala AFF 2016 sebentar lagi akan memasuki fase puncak yang bakal mempertemukan Indonesia melawan Thailand di final. Namun, meskipun bertitel sebagai ajang sepakbola paling bergengsi di Asia Tenggara, dunia tidak terlalu mengenal aktor-aktor lapangan hijau yang turut ambil bagian di dalamnya.

Tapi, jangan salah. Ternyata ada pesepakbola dari kawasan yang oleh Anthony Reid disebut dengan istilah Tanah di Bawah Angin ini yang kini punya nama di Eropa. Yang berstatus keturunan atau berleluhur dari negara-negara ASEAN bahkan cukup banyak. Sedangkan yang lebih “pribumi” atau memiliki orangtua asli Asia Tenggara juga ada.

Si Kembar Nainggolan

Ketika nama Radja Nainggolan mulai sayup-sayup terdengar pada 2006 silam, banyak orang Indonesia yang bertanya-tanya, siapakah ia? Mengapa nama depan dan marganya cukup familiar? Bagaimana ceritanya kok ada orang Batak yang merumput di Liga Italia?

Kala itu, Radja masih memperkuat Piacenza di Liga Italia Serie B. Sebagaimana marga yang tersemat di nama belakangnya, ia memang orang Batak. Ayah Radja, Marianus Nainggolan, adalah pria Batak asli yang menikah dengan perempuan Belgia bernama Lizi Bogaerts.

Radja dan saudari kembarnya, Riana Nainggolan, tidak terlalu mengenal sang ayah karena berpisah sejak berusia 5 tahun. Baru ketika Radja dan Riana berumur 18 tahun, atau tepatnya pada Desember 2007, keduanya bertemu kembali dengan Marianus. Radja sempat “pulang” ke Indonesia, termasuk ke kampung ayahnya di Sumatera Utara, pada 2013 lalu.

Piacenza adalah klub profesional pertama Radja. Sebelumnya, ia sempat meniti masa juniornya di akademi Germinal Beerschot, klub asal tanah kelahirannya di Antwerp, Belgia. Dari Piacenza, karier sepakbola Radja kian meningkat. Ia akhirnya merumput di Serie A bersama Cagliari yang dibelanya sedari 2010 hingga 2014.

Tampil oke di Cagliari, Radja pun menjadi incaran klub-klub mapan Eropa hingga akhirnya ia menjadi milik AS Roma sampai saat ini. Nama Radja Nainggolan kini meroket. Pelatih tim nasional Belgia, Roberto Martinez, bahkan menyebutnya sebagai salah satu gelandang terbaik dunia berkat penampilan apiknya di Euro 2016 lalu.

Ya, meskipun berdarah asli Batak dan sebenarnya bisa memperkuat Timnas Indonesia, pesepakbola berusia 27 tahun ini memilih bergabung dengan tim nasional Belgia sejak level junior, dari U16, U19, U20, serta U21. Di timnas senior, ia telah mengoleksi 24 caps dan 6 gol.

Keluarga Nainggolan mengukir rekor seiring dipanggilnya Riana ke tim nasional putri Belgia pada 2015. Radja-Riana tercatat sebagai pemain kembar beda kelamin pertama yang memperkuat timnas sepakbola Belgia. Uniknya lagi, Riana dan Radja membela klub yang sama, yakni AS Roma. Riana menjadi anggota tim wanita Giallorossi sejak 2014.

Mulyadi dan Sapulette

Selain Radja-Riana, masih ada orang Indonesia di Serie A. Yang ini masih belia, yakni kiper ketiga Juventus bernama Emil Audero Mulyadi. Pemuda 19 tahun ini lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Ayahnya, Edi Mulyadi, adalah lelaki Indonesia asli, sedangkan sang ibu, Antonela Audero, berasal dari Italia.

Besar kemungkinan, Emil Audero Mulyadi akan memilih Italia ketimbang negara kelahirannya. Ia sudah menjadi kiper timnas Azzurri sejak level U15. Gianlugi Buffon bahkan mendapuknya sebagai salah satu calon kiper Italia di masa depan.

"Selain Gianluigi Donnarumma (AC Milan), saya bisa menyebut Emil Audero di Juventus dan Alex Meret di Udinese,” kata penjaga gawang nomor satu Italia ini.

Ada satu lagi pesepakbola –lebih tepatnya mantan karena kini sudah gantung sepatu– yang lahir dari hasil usaha orang Indonesia. Kali ini namanya sangat terkenal dan pernah memperkuat klub-klub besar Eropa: Giovanni van Bronckhorst.

Feyenoord, Glasgow Rangers , Arsenal, dan Barcelona pernah memakai jasa Gio, begitu ia akrab dipanggil. Selain itu, ia juga wing back andalan tim nasional Belanda sekurun 1996-2010 dengan mengemas 107 caps. Setelah pensiun sejak 2010, Gio melanjutkan kariernya di sektor kepelatihan dan kini ia adalah pelatih Feyenoord.

Giovanni van Bronckhorst termasuk keluarga besar Sapulette, salah satu marga terkenal di Maluku. Ya, ibundanya adalah perempuan ambon manise tulen bernama Fransien Sapulette yang kawin dengan pria Belanda, Victor van Bronckhorst. Gio sendiri lahir di Rotterdam.

Meskipun lahir, besar, dan tinggal di Eropa, Gio tidak pernah lupa asal-usulnya sebagai anak orang Indonesia. “Sejak saya kecil, ibu rajin mengajari kami lagu-lagu daerah Maluku. Beliau juga sering memasak makanan Indonesia. Saya sangat suka gado-gado dan sate,” ucap Gio dalam suatu wawancara.

“Tentu saja saya punya ikatan kuat dengan Indonesia. Jelas, saya berminat kembali ke tempat akar saya,” tandasnya.




Apesnya Asia Tenggara

Jika Indonesia punya Radja Nainggolan, Malaysia pun berhak membanggakan gelandang muda Club Brugge, Dion Cools. Sama seperti Radja, Dion juga beraroma Belgia yang merupakan negara ayahnya. Sedangkan ibunya adalah warga negara Malaysia. Dion sendiri lahir di Kuching, Sarawak.

Pamor Dion di Eropa memang belum setenar Radja. Namun, pemuda berusia 20 tahun ini digadang-gadang sebagai gelandang masa depan Belgia. Dion sendiri belum memutuskan negara mana yang akan dipilihnya nanti meskipun prioritasnya tetap saja Belgia, sama seperti Radja.

Selanjutnya ada David Alaba. Di dalam darah pemain multi-posisi andalan Bayern Munchen ini ternyata mengalir perpaduan yang cukup unik: ibunya orang Filipina, ayahnya orang Nigeria, dan ia sendiri lahir di Austria.

Sebenarnya Alaba punya keleluasaan untuk memilih tim nasional yang akan diperkuatnya dari tiga negara tersebut. Namun, ia mantap menjadi bagian dari skuad Austria sejak level umur U17. Di timnas senior Austria, Alaba hingga saat ini telah mengoleksi 50 caps dan 11 gol.

Masih bernuansa Filipina, ada nama Alphonse Areola, kiper Paris Saint Germain (PSG). Musim ini, Areola lebih sering dipercaya mengawal gawang Les Parisiens ketimbang Kevin Trapp. Itu berkat penampilan apiknya selama dipinjamkan ke klub La Liga Spanyol, Villarreal, musim lalu.

Walaupun lahir di Paris, kiper 23 tahun ini murni berdarah Filipina, ayah dan ibunya adalah orang asli negara kepulauan di Asia Tenggara itu. Hingga saat ini, Areola belum memutuskan apakah ia akan membela tim nasional Filipina atau Perancis.

Areola telah meniti karier di timnas usia muda Perancis tanpa putus, berturut-turut dari jenjang U16 hingga U21. Apabila bisa menjaga performa bersama PSG, panggilan untuk masuk skuad Les Blues pun tinggal tunggu waktu.

Nasib penghuni Asia Tenggara yang jauh dari peradaban sepakbola dunia memang apes. Pribuminya sangat sulit bersaing di Eropa. Giliran ada pesepakbola blasteran yang tampak bersinar, pilihan utamanya tetap saja untuk negara di Eropa, seperti yang telah terjadi pada Nainggolan, Alaba, dan kemungkinan besar Areola.

Tak heran jika gengsi Piala AFF nyaris hampa di luar, dan kalah pamor dari sejumlah ajang yang sebenarnya bertaraf sama seperti Piala Asia, Piala Afrika, Piala Eropa, Copa America, bahkan Gold Cup. Alhasil, supremasi Piala AFF pun hanya menjadi alat pemuas hasrat sepakbola Asia Tenggara sendiri, setidaknya sampai saat ini.

Baca juga artikel terkait AC MILAN atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Zen RS
DarkLight