Seluk Beluk Jasa Penukaran Uang di Pinggir Jalan

Oleh: Aditya Widya Putri - 16 Juni 2018
Dibaca Normal 2 menit
Para penyedia jasa penukar uang baru seringkali dicap berperilaku curang hingga menjadi celah beredarnya uang palsu. Bagaimana menyikapinya?
tirto.id - Pria berkaus merah tiba-tiba mengamuk, membanting lapak penukar uang karena menganggap uang yang ia tukar tak sesuai. Si penjual hanya terdiam lemas saat melihat lembaran-lembaran rupiah berterbangan di jalan.

“Kamu tahu siapa saya? Balikin uang saya. Bisnis curang ini! Sengaja akan saya viralkan.”

Ucapan-ucapan intimidasi terus diulang oleh pria itu. Sementara itu, satu orang rekannya merekam kejadian. Di akhir rekam gerak itu, sang pedagang jasa tukar uang akhirnya mencium tangan si pria berkaus merah, tanda meminta maaf. Ilustrasi ini adalah video yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu soal kisruh penukaran uang di jalan.

Tindakan pria itu justru mendapat kecaman dari warganet. Ada yang menganggap tak sepantasnya selisih saat menukar uang harus dibayar dengan merusak lapak usaha orang lain. Namun, dalam kesempatan lain, pria yang mengamuk itu akhirnya meminta maaf dalam sebuah video dan mengimbau agar masyarakat menukar uang di tempat resmi.

Pada kesempatan berbeda, sang pemilik lapak, Choirul Mustakim menumpahkan keluh kesahnya saat Tirto hubungi lewat sambungan telepon. Ia sempat melaporkan tindakan anarkis itu ke Polres Cilegon. Ia merasa dirugikan.

“Harga diri kami diusik. Kami seolah seperti menipu, padahal tidak sama sekali. Dia sudah bilang percaya saat diminta hitung ulang,” katanya.

Insiden semacam ini bisa terjadi terhadap siapa saja, terutama bagi mereka yang menukar uang baru di pinggir jalan. Jelang Lebaran, bisnis penukaran uang baru memang sering menjamur di pinggir jalan.




infografik tukar uang


Cermat Menukar Uang

Choirul Mustakim alias Irul membuka jasa penukaran uang sejak 2010. Idenya berawal dari penjaja jasa serupa yang lebih dahulu menjamur terutama di kawasan Kota Tua Jakarta. Ia mencoba menjalankan bisnis tersebut di Blitar dan Tulungagung, Jawa Timur dengan modal Rp500 juta.

Ia melebarkan sayap bisnisnya hingga ke Serang dan Cilegon. Ia sempat memiliki 25-30 anak buah yang menjajakan jasanya di tiap ruas-ruas jalan besar. Saat ini, modalnya sudah berkembang mencapai Rp2 miliar.

Bisnisnya bisa berkembang karena ia mematok biaya 5-15 persen dari jumlah uang yang ditukar oleh konsumen. Semakin dekat penukaran dengan hari raya, maka biaya jasa yang dipotong juga semakin besar.

“Kalau awal puasa itu 5 persen, mau mendekati lebaran bisa 10 persen. Nah, anak buah boleh ambil keuntungan maksimal jadi 8 persen dan 15 persen.”

Bisnis jasa penukaran uang receh dalam kondisi baru menjelang lebaran sudah menjamur sejak lama. Namun, Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk menukar uang langsung ke bank atau tempat-tempat penukaran uang yang digelar oleh BI.

Ada sekitar 1.000 titik di seluruh Indonesia yang dapat berfungsi untuk melayani masyarakat dalam menukarkan uangnya dengan pecahan yang lebih kecil selama periode Lebaran 2018. Untuk di wilayah Jabodetabek, setidaknya akan ada 160 titik. BI sendiri telah bermitra dengan 15 bank serta memandatkan 46 kantor cabang dan kantor kas titipan maupun kas keliling agar bisa melayani penukaran uang.

“Dengan menukarkan di tempat resmi, tidak ada biaya tambahan yang dikenakan. Lalu belum pasti juga uang yang ditukarkan di pinggir jalan itu asli. Jangan mengambil risiko,” kata Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi di Monumen Nasional (Monas), Jakarta pada Rabu (23/5/2018).

Namun masih banyak dari mereka yang justru memilih jasa penukaran uang yang dijajakan di jalan. Iman Hamdani misalnya, pria asal Kuningan, Jawa Barat ini memulai berlangganan jasa ini dari kebiasaan yang ditularkan orangtua. Selama ini, Iman memilih membayar biaya jasa saat menukarkan uang, bukan dipotong dari jumlah uang yang ditukar.

Buatnya, menukar uang receh di jalan jauh lebih efisien waktu dibanding harus lama mengantre dan berebut kuota di bank. Malah ia terang-terangan mengaku terbantu dengan hadirnya jasa penukaran uang di pinggir jalan. Tak ada nominal maksimum dalam bertransaksi. Sementara di bank, penukaran uang receh dibatasi sampai Rp3,7 juta per hari.

“Buat saya selisih segitu nggak masalah, itung-itung buat ongkos ngantrenya,” katanya.



Senada dengan Iman, Ruzqiyah Ulfa, seorang dosen di Jakarta sudah berlangganan jasa tukar uang pinggir jalan beberapa tahun terakhir. Alasannya karena seringkali ditolak bank saat melakukan transaksi penukaran lantaran tak kebagian kuota, bahkan sejak hari pertama Ramadan.

“Katanya sih karena pecahannya sudah ada dipesan sama orang dalam,” ujarnya.

Dengan segala kelebihannya, jasa penukaran uang pinggir jalan juga punya kelemahan. Selain ada potensi jumlah nominal uang yang kurang, juga masyarakat tetap harus waspada saat melakukan transaksi di jasa penukaran uang. Sebab terdapat risiko peredaran uang palsu. Gesha Yuliani, perempuan asal Bogor ini pernah mendapat uang palsu yang terselip di sela-sela uang yang ia tukar di pinggir jalan pada 2010-2011.
Ia bertransaksi Rp1 juta, tapi total nominal yang ia dapat hanya Rp800 ribu, dan juga menemukan kondisi uang yang rusak, bahkan palsu.

“Minusnya ya gitu, pedagangnya menawarkan untuk menghitung dahulu, tapi kan ribet kalau menghitung duit di jalanan,” katanya.

Untuk itu, Gesha berbagi tips bagi masyarakat yang masih menggunakan jasa penukaran uang receh: “Usahakan tetap fokus, jangan bertransaksi sendirian, dan hitung uang sebelum pergi dari tempat transaksi.”

Masyarakat memang punya kebebasan untuk memilih di mana menukarkan uang, tapi perlu juga diperhatikan soal aspek kepastian, kenyamanan, dan keamanan.

Baca juga artikel terkait LEBARAN 2018 atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Aditya Widya Putri