Al-Ilmu Nuurun

Sejarah Pemikiran A.R. Baswedan: Dalam Islam, Semua Manusia Setara

Abdul Rahman Awad Baswedan. tirto.id/Sabit
Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 30 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bagi A.R. Baswedan, Islam mengajarkan kesetaraan. Baik keturunan Tionghoa atau peranakan Arab, semuanya berdiri sejajar sebagai warga negara Indonesia.
tirto.id - Abdul Rahman Baswedan menonjol sebagai tokoh peranakan Arab yang turut membentuk gagasan tentang Indonesia. Dalam sejarah, namanya adalah catatan tersendiri bagi pasang-surut multikulturalisme di negeri ini.

A.R. Baswedan, demikian orang lazim mengenalnya, lahir di Surabaya pada 9 September 1908, tepatnya di Kampung Ampel. Seperti dicatat Suratmin dan Didi Kwartanada dalam biografi A.R. Baswedan: Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan (2014), Kampung Ampel lekat dengan sejarah hidup Sunan Ampel, seorang di antara Wali Sanga, yang menyebarkan agama Islam di Jawa Timur.

Dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang religius membuat masa kecil Baswedan dihiasi nilai-nilai ajaran Islam yang kuat pula. Kakeknya, Umar bin Muhammad bin Abdullah, merupakan seorang ulama kelahiran Hadramaut, daerah yang kini dikenal dengan nama Yaman Selatan. Tapi Baswedan tidak murni berdarah Arab. Ia seorang peranakan. Umar mempersunting wanita asal Surabaya bernama Noor. Ayah Baswedan, Awad, adalah anak ke-4 dari Umar.

Situasi inilah yang kelak sangat berpengaruh dalam kehidupan rumah tangga dan sikap pribadinya. "Ia selalu berpegang pada prinsip kebenaran agama Islam yang dianutnya," tulis Suratmin dan Didi (hlm. 23).

Diskriminasi Antar-Peranakan Arab

Sejak berumur lima tahun, Baswedan mulai mengenyam pendidikan. Pada awalnya ia masuk ke Madrasah Alkhairiyah yang lokasinya dekat dengan Masjid Ampel di Surabaya. Murid-muridnya merupakan peranakan Arab dan bumiputra. Kakak Baswedan yang lain, Ahmad, juga menjalani pendidikan di sekolah ini. Sayang, di sekolah ini pula Baswedan dan kakaknya mengalami perlakuan diskriminatif.

"Murid-murid dari golongan bersenjata dan golongan sayid [keturunan Nabi Muhammad] mempunyai perasaan super atas murid dari golongan lain," sebut Suratmin dan Didi (hlm.32). "Maka, umumnya mereka suka menjagoi teman-temannya dan sering berlaku sewenang-wenang."

Ahmad pernah terlibat perkelahian dengan seorang murid dari keluarga Al Katiri yang masuk dalam golongan bersenjata, hingga hampir terkena tikam. Baswedan kecil, sementara itu, pernah dirampas uang sakunya. Padahal uang berjumlah lima sen itu hendak ia gunakan untuk membeli roti bekal.

Setelah sempat pindah ke sebuah sekolah lain, Baswedan akhirnya mengenyam pendidikan di Madrasah Al Irsyad Jakarta. Di sinilah, meski sebentar, ia belajar bahwa manusia memiliki kedudukan yang setara dalam Islam. Al Irsyad memang mengajarkan mengenai demokrasi dan persamaan. Hal ini pula yang kerap membuat bentrokan antara golongan Al Irsyad dan Baalwi, yang masih masuk dalam golongan sayid.

Ketimpangan yang sama ia rasakan ketika masuk ke Hadramaut School di Surabaya. Baswedan memang harus pindah dari Al Irsyad ke Hadramaut School karena sang ayah kala itu tengah menderita sakit jantung. "Ia [Baswedan] tidak cocok dengan paham yang menganggap bahwa golongan sayid berkedudukan lebih tinggi daripada golongannya," tulis Suratmin dan Didi (hlm. 35).

Sebagai catatan, mayoritas keturunan Arab di Indonesia memiliki nenek moyang yang berasal dari Hadramaut. Mereka inilah yang disebut dengan kaum Hadrami. Seperti pernah dituliskan Ravando Lie di media ini, secara umum pemuda Hadrami di Hindia Belanda saat itu terpecah menjadi dua kelompok, yaitu Al Irsyad (non-sayid, berdiri 1915) dan Ar Rabithah Al Alawiyah (sayid, berdiri 1928).

Pertikaian antara kedua kelompok ini berlangsung hingga puluhan tahun dan tak jarang memakan korban meninggal dunia. Berangkat dari perbedaan tradisi, pertikaian kedua kelompok kemudian juga berkembang hingga ke ranah politik dan berbagai permasalahan lain.


Menyatukan Peranakan

Masih dari Lie, Baswedan bangga terhadap garis keturunan Hadramaut yang dimilikinya. Namun, setelah mengenyam banyak interaksi dengan dunia lain di luar Kampung Arab, cakrawala pemikirannya kian meluas.

Ia, misalnya, pernah bekerja di surat kabar Sin Tit Po yang merupakan harian peranakan Cina progresif berbahasa Melayu. Harian ini terkenal dengan kritik-kritiknya yang tajam pada kebijakan diskriminatif Belanda. Baswedan sendiri tak ragu menyebut pemimpin redaksi koran itu, Liem Koen Hian, sebagai mentornya.

"Sin Tit Po bukan lagi koran Tionghoa, melainkan koran bagi bangsa kulit berwarna," sebut Liem kepada Baswedan.

Untuk merekatkan kembali hubungan antar-komunitas Hadrami, Baswedan mengajak 40 tokoh peranakan Hadrami dari berbagai kalangan pada 4 Oktober 1934 di Kampung Melayu, Semarang. Tujuan pertemuan ini adalah membahas sikap kaum Hadrami terkait perjuangan Indonesia sekaligus upaya menyelesaikan pertikaian internal di antara mereka, terutama antara Al Irsyad dan Ar Rabithah.

Sehari setelahnya, atas iniasi Baswedan, mereka muncul dengan sebuah perkumpulan bernama Persatoean Arab Indonesia (PAI). PAI mendorong kaum Hadrami untuk menerima Indonesia, termasuk segala kebudayaan yang dimilikinya, sebagai tanah air mereka dengan syarat tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

"Tanah air kita adalah Indonesia. Allah yang tetapkan begitu, walaupun orang lain tidak mau menerima, dan kita pun tidak menerima permintaan orang lain," ujar Baswedan, yang merupakan kakek-paman dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.





Salah satu langkah yang kerap dipromosikan Baswedan adalah terkait cara berpakaian. Selain mengkritik penggunaan pakaian ala Mesir dan Turki, ia juga mengkritik penggunaan hijab panjang oleh wanita karena ia menganggap hal itu berlebihan dan kurang sesuai dengan tradisi serta kultur Indonesia.

Hingga 1935, Baswedan kerap berkeliling Indonesia untuk meyakinkan kaum Hadrami pada visi dan misi PAI. Dari 1937 hingga 1940, sebanyak 45 cabang PAI berhasil didirikan di Indonesia. Namun perjuangannya bukan tanpa tantangan. Ia banyak mengalami perlawanan dari golongan Hadrami totok sehingga membuatnya harus selalu dalam perlindungan selama perjalanan.


Masih dari Suratmin dan Didi, Baswedan menilai bahwa nasionalisme seseorang tidak dapat dilihat dari suku, agama, maupun rasnya. Ia juga menolak ide bahwa pembauran total adalah melalui perkawinan.

Bagi Baswedan, nasionalisme merupakan pemikiran politis, bukan fisik. Tujuannya adalah "menghilangkan pemikiran sebagai grup eksklusif" (hlm. 195). "Jadi, jangan kaitkan nasionalisme dengan soal-soal fisik semacam itu. Apakah ke-Indonesia-an saya tidak total hanya karena istri saya juga seorang Arab?"

Masih dari Lie, alih-alih terkait hal-hal fisik, Baswedan menegaskan bahwa pengelompokan yang bersifat eksklusif lah yang sebaiknya menjadi target utama yang harus segera dienyahkan. "Bila merujuk kepada apa yang diajarkan Islam, tiap-tiap manusia pada dasarnya tidak memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Satu hal yang membedakan manusia hanyalah amal ibadahnya," tegas Baswedan.

==========

Sepanjang Ramadan hingga lebaran, kami menyuguhkan artikel-artikel yang mengetengahkan pemikiran para cendekiawan Muslim Indonesia di paruh pertama abad ke-20. Kami percaya bahwa pemikiran mereka telah berjasa membentuk gagasan tentang Indonesia dan berkontribusi penting bagi peradaban Islam. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Al-Ilmu Nuurun" atau "ilmu adalah cahaya".

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight