Sehat dan Bahagia dengan Mencintai Kucing

Infografik Seatap Dengan Kucing
Ilustrasi seatap dengan kucing. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Eddward S Kennedy - 12 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Ini hanya saran: mulailah memelihara kucing!
tirto.id - “Pasti tidak menyenangkan menjadi kucing yang kehujanan,” tulis Ernest Hemingway dalam salah satu cerita pendeknya berjudul Kucing yang Kehujanan, "Cat in The Rain", yang diterbitkan oleh Boni & Liveright pada 1925.

"Cat in The Rain" bercerita tentang sepasang suami istri yang tengah liburan di Italia. Satu ketika, dari dalam kamar hotel yang mereka tempati, sang istri melihat kucing di seberang jalan yang tengah meneduh agar tidak kehujanan. Ia lalu memutuskan untuk mengambil kucing tersebut. Namun, setibanya di luar, kucing itu sudah tidak ada. Sang istri pun bersedih sambil terus merengek meminta kucing kepada suaminya.

Berdasarkan buku Hemingway's Cats, ‘Cat in The Rain’ ditulis sebagai bentuk penghormatan Hemingway kepada istrinya, Hadley. Kisah itu diadaptasi dari pengalaman mereka saat mengunjungi Ezra Pound di Rapallo, Italia, pada 1923. Dalam perjalanan, Hadley menemukan anak kucing yang tersesat. Ia lalu berkata kepada Hemingway: "Saya ingin kucing. Saya ingin kucing. Saya ingin kucing sekarang. Jika saya tidak memiliki rambut panjang atau kesenangan apa pun, saya harus memiliki kucing."

Di luar kisah itu, Hemingway memang dikenal sebagai pecinta kucing. Kecintaan Hemingway terhadap kucing dapat dilacak sejak 1931, ketika ia menetap di Key West, wilayah di Florida yang berbatasan dengan Kuba. Kala itu, seorang kapten kapal bernama Stanley Dexter memberikan Hemingway seekor kucing yang tak biasa. Jika normalnya kucing hanya punya lima jari pada kaki depan dan empat jari pada kaki belakang, kucing ini memiliki enam jari. Kelainan ini secara medis disebut polidaktili.

Seturut kepercayaan di kalangan pelaut, kucing polidaktili dianggap membawa keberuntungan bila kapal tengah berlayar. Hemingway pun senang dengan kucing tersebut dan menamakannya Snowball. Seiring berjalannya waktu, Snowball yang dibiarkan berkeliaran oleh Hemingway lambat laun memiliki banyak keturunan hingga membentuk semacam koloni kucing-kucing. Sebagian besar dari kucing tersebut juga termasuk polidaktili.

Setelah Hemingway meninggal, rumahnya yang di Key West tersebut diubah menjadi museum yang menyimpan berbagai barang mengenainya, sekaligus menjadi tempat tinggal bagi sekitar 50 kucing keturunan Snowball. Saat badai Irma menerjang kawasan Florida, termasuk Key West, pada 2017 lalu, museum tersebut sanggup bertahan dan mampu melindungi para penghuninya dari badai. Hal itu dikarenakan posisi museum yang terletak 4,877 meter di atas permukaan laut dan konstruksi bangunan yang bergaya kolonial Spanyol dengan dinding batu kapur setebal 18 inci.

Peristiwa itu sejatinya terhitung spektakuler, sebab Key West menjadi wilayah paling parah yang diterjang badai Irma. Bahkan Gubernur Florida kala itu, Rick Scott, dengan mengutip peringatan dari National Weather Service, sampai mengatakan: “Tidak ada tempat di Key West yang aman. Anda tidak akan selamat (jika bertahan di sana).”

Yang lebih menarik lagi adalah bagaimana para kucing di museum tersebut telah mengetahui bahwa mereka harus berlindung dari ganasnya badai. Hal ini diungkapkan oleh David Gonzales selaku kurator di museum itu kepada Washington Post: “[Beberapa kucing] benar-benar berlari ke dalam seolah mengetahui sudah waktunya untuk berlindung. Terkadang saya pikir mereka lebih pintar dari pada manusia.”

Kisah Hemingway dan (kecerdasan) kucing-kucingnya adalah sedikit alasan dari segudang alasan lain yang semestinya dapat membuat Anda mulai memelihara kucing.



Dari Kesehatan hingga Kebahagiaan

Adalah salah jika menganggap kucing, yang mulai berbaur dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 6.000 tahun SM silam, sebatas hewan lucu menggemaskan dengan bulu halus yang menyenangkan untuk dielus. Mereka adalah hewan spesial dan ini tidak main-main.

Bagi masyarakat Mesir Kuno, kucing itu malah dianggap sebagai hewan suci yang dikeramatkan. Itulah kenapa mereka memiliki dewi perlindungan yang digambarkan sebagai seorang perempuan dengan kepala kucing yang jinak bernama Bastet. Ia adalah putri dari Ra, sang dewa matahari. Dan seperti halnya kucing, Bastet pun kerap dideskripsikan memiliki dua sisi kepribadian: jinak dan agresif.

Masyarakat Mesir Kuno juga telah menggunakan jasa kucing untuk menjauhkan dari tikus atau hewan pengerat lain dari lumbung penyimpan hasil panen sejak 3.500 SM silam. Pada 2018 lalu, serombongan arkeolog menemukan lusinan kucing yang dimumikan dan 100 patung Bastet saat menggali sebuah pemakaman kuno berusia 6.000 tahun di wilayah Saqqara, sebuah situs di tepi kompleks piramida di selatan Kairo.

Memasuki kehidupan modern, penyelidikan ilmiah terkait fungsi kucing bagi kehidupan manusia kian jelas, kendati pun masih ada kontroversi. Pada 2011, tim riset dari American College of Epidemiology (ACE) melaporkan sebuah temuan menarik: Bayi yang sejak lahir hidup satu atap dengan hewan peliharaan (dalam hal ini selain kucing juga anjing), cenderung memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap alergi, dibanding bayi yang lahir di rumah tidak ada hewan peliharaan.

Riset yang menyebut memelihara kucing di rumah dapat melindungi anak-anak dari alergi bukan yang pertama. Namun, studi ACE ini berhasil memperlihatkan bahwa kondisi ketahanan tersebut dapat berlangsung hingga anak berusia 18 tahun. Para peneliti di tim itu menduga ketahanan terjadi justru karena bayi sudah terkena paparan alergen dan bakteri hewan peliharaan sejak awal. Hal ini memperkuat sistem imun tubuh, yang mana kemudian dapat membangun pertahanan alami hingga mampu membiasakan tubuh menghadapi reaksi alergi.

"'Kotoran' itu baik," kata ketua peneliti dari ACE, Ganesa Wegienka Ph.D., menyimpulkan teorinya seperti dilansir CNN. "Jika sistem kekebalan tubuh Anda sudah terpapar bakteri sejak dini, maka ia akan dapat bertahan dari reaksi alergi," lanjutnya masih dalam konteks relasi manusia dengan kucing.

Jika Anda memelihara kucing, Anda tentu tahu bahwa kucing kerap mendengkur. Dengkuran tersebut hingga kini masih memunculkan banyak hipotesis: ungkapan rasa nyaman, cara untuk 'menyembuhkan' diri sendiri setelah stres atau keletihan, bentuk ekspresi terkait rasa takut, sedih, atau terkejut, juga menjadi semacam sarana komunikasi untuk meminta sesuatu (makan atau belaian).

Namun, yang perlu diketahui, dengkuran tersebut rupanya memiliki efek baik bagi kesehatan manusia. Riset yang dilakukan selama 10 tahun oleh tim University of Minnesota Stroke Center, dengan melibatkan 4.000 lebih koresponden di AS, menunjukkan: dengkuran kucing dapat mengurangi risiko kematian akibat serangan jantung hingga 30 persen.

"Dengkuran kucing merupakan stimulus pendengaran yang dikaitkan orang dengan semacam kedamaian dan ketenangan," kata Dr. Rebecca Johnson, direktur Research Center for Human Animal Interaction. "Hal itu memberi kita semacam dorongan positif mengenai apa yang akan kita lakukan dan dapat berkontribusi pada efek relaksasi.”

Efek positif kucing terkait kesehatan tidak selesai sampai di situ. Berdasarkan riset tim Centre de Ressources Autisme, Perancis, yang dimuat dalam jurnal PLOS One tahun 2012, membelai kucing dapat memberi efek menenangkan pada sistem saraf anak-anak penyandang autisme. Bahkan para ilmuwan di dalam tim tersebut meyakini bahwa kucing adalah salah satu faktor terpenting dalam perawatan berbagai penyakit sistem saraf.

Riset tersebut memuat hasil wawancara orangtua dari 260 keluarga dengan individu penyandang autisme. Dari sana ditemukan fakta bahwa rumah yang memiliki hewan peliharaan (dalam hal ini adalah kucing) menunjukkan perbaikan perilaku prososial (seperti tersenyum atau tertawa). Umumnya dari keluarga yang memelihara kucing setelah anak autistik berusia 5 tahun atau usia kunci dalam evaluasi kelainan perilaku.

Riset dari University of Vienna yang dilansir TIME tahun 2011 memperlihatkan bahwa bagi perempuan, memelihara kucing memiliki pengaruh yang tak jauh berbeda dengan menjalin relasi romantis. Itulah kenapa kemudian ada Barbarella Buchner, perempuan yang pada 2004 lalu menikah dengan dua ekor kucingnya. Lalu perlukah diherankan jika Liz Clark, perempuan asal San Diego, AS, yang telah berlayar sejauh 28.000 kilometer mengarungi pantai barat Meksiko hingga ke Pasifik Selatan, hanya bersama kucingnya yang diberi nama Amelia.

Masih banyak efek positif memelihara kucing--sebagai hewan yang selama ini distereotipkan lucu-tapi-membawa banyak penyakit bagi manusia. Tentu ini sangat tergantung Anda merawat dan menjaga kesehatan kucing Anda.

Tertarik memelihara kucing?

Baca juga artikel terkait HEWAN PELIHARAAN atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Suhendra
DarkLight