Periksa Fakta

Salah Logika Menghubungkan Cacar Monyet Dengan Vaksin AstraZeneca

Penulis: Irma Garnesia - 15 Jun 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Vaksin AstraZeneca telah melewati tiga fase uji klinis yang melibatkan ribuan partisipan dan terbukti aman dan efektif untuk digunakan pada manusia.
tirto.id - Sejak pertengahan Mei lalu, wabah cacar monyet atau monkeypox ditemukan menyerang beberapa orang di sejumlah negara. Menurut rilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tertanggal 10 Juni, sejak 13 Mei, kasus cacar monyet telah dilaporkan ke oleh 28 negara anggota di empat wilayah regional WHO, yakni wilayah Amerika, Eropa, Mediterania Timur, dan wilayah Pasifik Barat. Kemudian, sejak awal tahun ini, terdapat 1.536 kasus terduga cacar monyet di delapan negara Afrika, yang mana 59 kasusnya terkonfirmasi, dan 72 orang dilaporkan meninggal dunia.

Sampai saat ini belum ditemukan kasus monkeypox di Indonesia, menurut laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Sementara penyelidikan lebih lanjut mengenai kasus ini masih berjalan, sebuah informasi yang mengaitkan wabah cacar monyet dengan vaksin AstraZeneca tersebar di media sosial. Salah satunya diunggah oleh akun Facebook bernama Thong Poho pada 22 Mei lalu (tautan).

Periksa Fakta Wabah Cacar Monyet
Periksa Fakta Salah Logika Menghubungkan Cacar Monyet Dengan Vaksin AstraZeneca. (Screenshot/Facebook/Thong Poho)


Akun tersebut menuliskan deskripsi, “Ga bakal nunggu lama... Cacar Monyet Akan di adakan dan di datangkan di Indonesia... Cause Monkey business." Bersama unggahan ini, ia menyertakan foto berisi informasi kandungan vaksin COVID-19 AstraZeneca. Di foto itu, di bagian kandungan vaksin AstraZeneca, bagian chimpanzee adenovirus, atau adenovirus simpanse, digarisbawahi, mengindikasikan kaitan antara kandungan tersebut dengan cacar monyet.

Meski unggahan ini tidak mendapat reaksi yang terlalu banyak dari netizen, namun unggahan ini memiliki potensi disalahartikan oleh masyarakat.

Lantas, apakah yang dimaksud dengan adenovirus simpanse dalam kandungan vaksin AstraZeneca? Benarkah ada hubungan antara kandungan ini dengan cacar monyet?

Penelusuran Fakta

Pertama, informasi dasar mengenai monkeypox sendiri. Menurut WHO, cacar monyet disebabkan oleh virus zoonosis, atau virus yang ditularkan hewan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh virus monkeypox yang termasuk dalam genus Orthopoxvirus dari keluarga Poxviridae.

Monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar ini dinamakan 'monkeypox', menurut laman Kemenkes. Kasus pada manusia sendiri diidentifikasi pertama kali pada seorang anak di Republik Demokratik Kongo pada 1970.

Masih dari keterangan Kemenkes, virus monkeypox dapat ditularkan ke manusia ketika ada kontak langsung dengan hewan terinfeksi (gigitan atau cakaran), pasien terkonfirmasi monkeypox, atau bahan yang terkontaminasi virus, termasuk pengolahan daging binatang liar. Masuknya virus adalah melalui kulit yang rusak, saluran pernapasan, atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut).

Masa interval dari infeksi sampai timbulnya gejala dari monkeypox biasanya 6 – 16 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 – 21 hari. Gejala yang timbul diawali dengan demam, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot dan lemas. Pembengkakan kelenjar getah bening ini dapat dirasakan di leher, ketiak atau selangkangan. Dalam 1-3 hari setelah gejala awal, pasien kemudian akan memasuki fase erupsi berupa munculnya ruam atau lesi pada kulit, yang biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap.

Monkeypox biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 14 – 21 hari.

Kemudian kembali ke pertanyaan utama soal adenovirus simpanse dalam AstraZeneca. Memang benar bahwa vaksin AstraZeneca menggunakan vektor adenovirus simpanse dalam kandungannya, namun vektor adenovirus tersebut tidak terkait dengan cacar monyet.

Menurut penjelasan situs kesehatan Klikdokter, dengan menggunakan vektor adenovirus dari simpanse, vaksin AstraZeneca mengandung virus yang menginfeksi simpanse. Adenovirus dari simpanse ini sudah dimodifikasi secara genetik untuk menghindari risiko penyakit ketika disuntikkan ke tubuh manusia. Lalu, dalam proses pembuatannya, virus dari simpanse dimodifikasi dengan cara membawa bagian kecil dari virus Corona yang disebut sebagai protein spike.

Menurut penjelasan dr. Dyah Novita Anggraini dari Klikdokter, saat disuntikkan ke tubuh, vaksin adenovirus akan memicu respons kekebalan tubuh terhadap lonjakan protein. Kemudian, tubuh akan menghasilkan antibodi dan sel memori yang mampu mengenali virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Lebih lanjut, menurut Ian Jones, profesor Virologi dari University of Reading, Inggris, adenovirus simpanse AstraZeneca tidak berkaitan dengan virus penyebab cacar monyet.

“Ini sepenuhnya berbeda dari monkeypox dan tidak ada kemungkinan sama sekali bahwa keduanya berkaitan,” kata Ian seperti dikutip dari Reuters.

Ian melanjutkan penjelasan bahwa virus yang digunakan dalam vaksin AstraZeneca adalah adenovirus yang telah bermutasi untuk mencegahnya tumbuh dalam sel manusia.

“Yang dilakukan vektor hanyalah membawa komponen vaksin ke dalam sel manusia, dan itu tidak menimbulkan infeksi apa pun,” jelas Ian.

Senada, mengutip dari laman Health Desk yang disediakan oleh Meedan, lembaga nonprofit yang membangun software dan inisiasi untuk memperkuat literasi digital dan jurnalisme global, vektor adenovirus simpanse telah direkayasa secara genetik di laboratorium sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Ini biasanya membuat simpanse sakit, tetapi tidak akan menginfeksi manusia yang menerima vaksin ini.

Kebanyakan adenovirus hanya menyebabkan dampak penyakit yang minor pada manusia, sehingga adenovirus dinilai lebih aman dibanding vektor lain.

Vaksin AstraZeneca juga telah melewati tiga fase uji klinis yang melibatkan ribuan partisipan dan terbukti aman dan efektif untuk digunakan pada manusia. Sejauh ini, sudah 2 miliar dosis vaksin yang telah diberikan di berbagai negara di dunia.

Lembaga ini juga menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara vektor adenovirus simpanse dan monkeypox. Adapun simpanse sendiri tidak sama dengan monyet, menurutnya.


Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan, tidak ditemukan hubungan antara penyakit cacar monyet dengan vektor adenovirus simpanse pada vaksin AstraZeneca.

Vektor adenovirus simpanse telah direkayasa secara genetik di laboratorium sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Vaksin AstraZeneca juga telah melewati tiga fase uji klinis yang melibatkan ribuan partisipan dan terbukti aman dan efektif untuk digunakan pada manusia.

Informasi yang disebarkan dengan klaim tersebut bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6287777979487 (tautan). Apabila terdapat sanggahan atau pun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty

DarkLight