11 Oktober 1862

Saat Pangeran Antasari Menyerang Tambang Asing

Oleh: Petrik Matanasi - 11 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Pangeran Antasari menentang campur tangan Belanda. Serangan terkenalnya adalah penyerangan ke tambang batu bara Belanda di Pengaron.
tirto.id - Wajah Pangeran Antasari muncul dalam uang pecahan Rp2.000 terbaru. Hal itu menegaskan status Antasari sebagai pahlawan nasional yang sudah ditetapkan pemerintah melalui SK No. 06/TK/1968 yang dikeluarkan pada 27 Maret 1968.

Pahlawan nasional yang identik dengan masyarakat Banjar ini tidak hanya diabadikan dalam pecahan uang rupiah, tetapi juga sebagai nama Komando Resort Militer (Korem) 101 dan nama Universitas Islam Negeri (UIN) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Antasari adalah keturunan penguasa-penguasa Kesultanan Banjar abad XVIII yang pengaruhnya bahkan mencapai hingga Kalimantan Timur bagian selatan yang berbatasan dengan Banjar. Kakeknya, Pangeran Amir, yang seharusnya jadi sultan, dijauhkan dari kekuasaan. Pangeran Nata, yang semula wali dari anak-anak Sultan sebelumnya, akhirnya menjadi penguasa dengan gelar Sultan Tachmidullah II setelah dua saudara Pangeran Amir, Pangeran Rachmat dan Pangeran Abdullah, terbunuh.

Ketika Pangeran Amir, yang dibantu orang-orang Bugis, berusaha melawan Pangeran Nata yang telah didapuk menjadi Sultan, Pangeran Nata dapat bala bantuan dari VOC Belanda. Pangeran Nata pun menang atas Pangeran Amir.

Tentu saja dukungan yang diberikan VOC tidak gratis. “Kemenangan ini harus dibayar oleh Sultan Tachmidullah II dengan mahal, karena harus memberi konsesi-konsesi yang tercantum dalam kontrak tahun 1787,” tulis M Idwar Saleh dkk., dalam Pangeran Antasari (1993).

Baca Juga: Karena Korupsi VOC Bubar Saat Jelang Tahun Baru

Setelah kegagalan menjungkalkan rivalnya, Pangeran Amir ditangkap dan dibuang ke Srilangka. Putranya, Pangeran Masohot, masih tinggal di Martapura. Menghindari permusuhan lebih lanjut, Masohot dikawinkan dengan Gusti Hadijah, putri Sultan Soleiman yang berkuasa antara 1801 hingga 1825. Dari perkawinan ini lahirlah Gusti Inu Kartapati -- yang belakangan dikenal sebagai Pangeran Antasari.

Tahun kelahiran Antasari masih simpang siur, antara 1797 dan 1809. Helius Sjamsudin, dalam novel sejarah Antasari, memerkirakan Antasari lahir pada 1809 di di Kayu Tangi.

Keluarga Pangeran Masohot ini hidup jauh dari lingkaran istana Banjar. Mereka hidup di sebuah lahan yang membuat mereka hidup relatif sederhana.

“Pangeran Antasari (sebelum perlawanannya) tak pernah dikenal oleh Belanda yang berada di (sekitar) lingkungan istana di Martapura,” tulis Idwar dkk. Sebagai bangsawan, meski terbuang, Antasari punya dua orang istri. Dari istrinya yang dikenal sebagai Ratu Antasari, ia punya anak bernama Gusti Mohamad Seman.

VOC boleh saja bangkrut pada akhir 1799, tetapi cengkeraman pemerintah Hindia Belanda terhadap penguasa-penguasa lokal di Nusantara sama kuatnya. Termasuk di Banjar.

Baca juga: Karena Korupsi VOC Bubar Jelang Tahun Baru

Seperti di masa sekarang, Banjar di zaman Pangeran Antasari pun sudah diketahui memiliki potensi batu-bara di tanahnya. Tak heran jika pemerintah Hindia Belanda merasa sangat berkepentingan dengan konstelasi di Banjar. Mereka selalu terlibat jauh dalam urusan suksesi di Kesultanan Banjar.

Ketika Pangeran Hidayatullah II dicurangi oleh Belanda sehingga tidak menjadi sultan, Antasari membela sang pangeran. Pangeran Hidayatullah II yang usianya jauh lebih muda dianggap Antasari layak dan sah menjadi sultan.

Belanda lebih suka mengangkat Pangeran Tamjidillah II. Pilihan itu dipicu oleh, menurut catatan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008), “karena ia menjanjikan konsesi yang lebih besar [bagi Belanda].”

Hidayatullah II pun tersingkir. Dari 1857 hingga 1859, Sultan Tamjidillah II berkuasa. Setelah 1859, Perang Banjar pun pecah. Pangeran Antasari, bersama Pangeran Hidayatullah II, memimpin perlawanan melawan Pemerintah Belanda. Dalam perlawanannya itu, Pangeran Hidayatullah II dianggap sebagai Sultan Banjar.

Pada 18 April 1859, Pangeran Antasari yang makin sepuh memimpin penyerangan benteng dan tambang batubara Belanda di Pengaron. Meski tentara Belanda di sana bisa dilumpuhkan, menurut Gusti Mayur dalam buku Perang Banjar (1979), “sangat disayangkan di dalam penggempuran-penggempuran ini, walau beberapa benteng pertahanan (milik Belanda) dapat direbut, namun tidak banyak merebut senjata api.”

Helius Sjamsuddin, dalam Pegustian dan Temenggung (2001) menyebut: "pada tanggal 18 Februari 1860, ia menulis sebuah surat kepada kerabatnya di Kutai, Pangeran Purbasari. Ia juga menyurati pangeran-pangeran lainnya dari Kutai, seperti Pangeran Nata Kusuma, Pangeran Anom, dan Kerta. Mereka semua adalah mata rantai-mata rantai penyelundupan senjata api dan amunisi dari Kutai ke Tanah Dusun." Kala itu yang berkuasa di Kutai adalah Sultan Aji Muhammad Suleiman yang kini namanya diabadikan sebagai nama bandara di Balikpapan.

Menurut Ricklefs, dalam penyerangan di Pengaron itu, pos misionaris juga diserang dan orang-orang Eropa (terutama Belanda) di sana terbunuh. Pihak Belanda yang bercokol di sekitar istana Banjar tentu berusaha keras meredam perlawanan Pangeran Hidayatullah II dan Pengeran Antasari itu. Salah satunya dengan menyandera keluarga Pangeran Hidayatullah II. Hal ini membuat Hidayatullah II terpaksa keluar dari arena gerilya agar keluarganya tak dibunuh. Dengan akal bulus itu, Pangeran Hidayatullah II kemudian dibuang ke Cianjur pada 1862 hingga meninggal dunia pada 1904.

Infografik Mozaik Pangeran Antasari


Setelah kepergian Hidayatullah II, Pangeran Antasari yang sudah sepuh pun didaulat oleh para "gerilyawan" sebagai Sultan Banjar dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, sejak 14 Maret 1862. Tentu saja kuasa Pangeran Antasari tak diakui Belanda. Dia pun meneruskan perlawanannya terhadap Belanda. Perlawanan Antasari tak hanya Kalimantan Selatan saja, tapi termasuk daerah perbatasan Kalimantan Tengah juga.

Daerah-daerah perlawanan Pangeran Antasari itu, menurut Ahmad Basuni dalam buku Pangeran Antasari: Pahlawan Kemerdekaan Nasional dari Kalimantan (1986), terdiri dari beberapa golongan dan suku seperti Banjar Kuala, Banjar Hulu, Dayak dan lain-lain, dan berbagai agama yaitu Islam, Kaharingan dan lain-lain.

Bukan tidak mungkin jika di dalam pasukan Pangeran Antasari terdapat orang-orang yang tidak beragama Islam. Sangat mungkin ada orang-orang beragama Kaharingan atau agama lokal lain yang kini terpinggirkan juga bergabung dengan perlawanan yang dikobarkan Antasari.

Baca Juga: Agama-agama yang Dipinggirkan

Kendati menderita masalah paru-paru dan cacar, juga usia yang makin sepuh, Pangeran Antasari tak mau menyerah kepada Belanda. Ia berusaha menjadikan Kesultanan Banjar merdeka dari campur tangan Belanda yang mengincar batu-bara dan hasil bumi lainnya.

Antasari meninggal dunia pada 11 Oktober 1862, tepat 155 tahun yang lalu jika dihitung hari ini.

Setelah Antasari meninggal dunia, perlawanan diteruskan anaknya, Mohammad Seman. Menurut Helius Sjamsudin, Pegustian dan Temenggung: Akar Sosial, Politik, Etnis, dan Dinasti Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, 1859-1906 (2001), Seman dihabisi kekuasaan dan hidupnya oleh unit khusus Belanda Marsose.

Sepanjang perlawanannya, Antasari berpesan pada pengikutnya: “Jangan Becakut papadaan, haram menyarah waja sampai kaputing.” Pesan itu menjadi jargon perlawanannya terhadap Belanda. Makna dari pesan Antasari itu, menurut sejarawan dari Banjarmasin yang kini mengajar di IAIN Palangkaraya, Muhammad Iqbal, adalah: “Jangan kalian bermusuh-musuhan, berkelahi (dengan) sesama saudara (seagama maupun sebangsa, konteknya Dayak dan Banjar), haram (atau pantang) menyerah hinga tetesan darah penghabisan.”

Saat ini, frase "waja sampai kaputing" menjadi moto provinsi Kalimantan Selatan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS