Menuju konten utama

Perut Mulas Setelah Minum Kopi? Kenali Refleks Gastrokolik

Rasa mulas dan ingin BAB setelah minum kopi disebabkan beberapa faktor, salah satunya oleh refleks gastrokolik. Apakah berbahaya? Cek penjelasan ilmiahnya.

Perut Mulas Setelah Minum Kopi? Kenali Refleks Gastrokolik
Kopi Flores. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Minum kopi dapat memicu respons pencernaan yang cepat. Ada yang tiba-tiba mulas hingga merasakan dorongan untuk buang air besar (BAB). Secara medis, salah satu penyebab fenomena ini adalah refleks gastrokolik.

Minum kopi di pagi hari sudah bukan lagi kebiasaan, melainkan mulai bergeser jadi tren gaya hidup. Selain diyakini memiliki segudang manfaat, termasuk meningkatkan fokus dan mood karena kandungan kafein, kopi juga ternyata dapat memiliki efek lain bagi kesehatan.

Bagi sebagian orang, minum kopi kerap memicu rasa mulas di perut, apalagi di waktu pagi hari. Bahkan, tak jarang pula yang langsung merasakan adanya dorongan untuk buang air besar (BAB).

Meski sekilas tampak lumrah, fenomena tersebut bisa terjadi karena adanya efek refleks gastrokolik. Kondisi ini banyak dikaitkan dengan respons alami lambung terhadap kandungan kopi.

Apa Itu Refleks Gastrokolik?

Sebagaimana dikutip Cleveland Clincic, refleks gastrokolik merupakan komunikasi otomatis antara lambung (gastro-) dengan usus besar (-kolik). Pada saat makanan memasuki lambung, saraf mengirimkan sinyal otomatis ke otot-otot di usus besar untuk bergerak.

Dengan kata lain, refleks gastrokolik dapat diartikan sebagai respons fisiologis alami tubuh saat makanan atau minuman memasuki lambung. Pada fase tersebut, lambung akan mengalami peregangan yang memicu peningkatan pergerakan (motilitas) di usus besar (kolon).

Pada saat bersamaan, lambung merespons dan mengirim sinyal saraf. Otot-otot di usus besar berkontraksi, mendorong sisa makanan atau feses ke arah rektum. Alhasil, proses tersebut menimbulkan sensasi atau keinginan untuk buang air besar (BAB), atau timbul rasa mulas akibat proses peregangan dinding lambung.

Di samping itu, refleks gastrokolik yang terlalu aktif memungkinkan seseorang akan merasa ingin buang air besar segera setelah makan.

Pengolahan kopi robusta secara tradisional

Pekerja mengolah biji kopi robusta dengan menggunakan alat penumbuk tradisional jeungki di Ie Masen Ulee Kareng, Banda Aceh, Aceh, Rabu (1/11/2023). ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/foc.

Refleks gastrokolik sendiri dapat terjadi selama proses pencernaan untuk menjaga agar metabolik dalam tubuh tetap berjalan. Proses ini biasanya jadi cara lambung memberi tahu usus bahwa lebih banyak makanan akan datang, sehingga makanan lama perlu dikeluarkan.

Reflek muncul ketika ada makanan yang dikonsumsi, dinding lambung mengalami peregangan untuk memberi ruang bagi makanan baru. Saraf perut mendeteksi peregangan, lalu meneruskan sinyal kepada otot-otot di usus besar untuk segera bekerja. Tandanya timbul serangkaian kontraksi besar, seperti gelombang.

Kandungan makanan atau asupan dapat memengaruhi seberapa kuat refleks gastrokolik. Makanan berkalori tinggi dengan lebih banyak lemak dan protein lebih banyak memicu hormon pencernaan untuk dilepaskan, seperti kolesistokinin dan gastrin.

Efek dari refleks ini berbeda-beda. Ada yang langsung bereaksi dalam beberapa menit setelah makan, atau beberapa waktu yang cukup lama setelahnya. Namun, efek yang ditimbulkan tidak selalu langsung mendorong ingin buang air besar.

Panen kopi Arabika lereng gunung Sindoro

Petani memanen kopi Arabika kulit kuning di perladangan kawasan lereng gunung Sindoro desa Kwadungan, Kledung, Temanggung, Jawa Tengah , Sabtu (13/5/2023). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/hp.

Kenapa Perut Mulas & Ingin BAB Setelah Minum Kopi?

Pada dasarnya, kopi memiliki beberapa kandungan yang berdampak pada sistem pencernaan tubuh. Zat-zat yang dimaksud di antaranya seperti kafein, asam klorogenat, melanoidin, serta sifat osmotik pada kopi.

Menurut sebuah jurnal ilmiah yang dirilis di website Nature dengan judul "Relationship between coffee concentration and bowel motility using bowel-sound-based stimulus-response plots in healthy individuals", kopi merupakan campuran kompleks dari sekitar 1.000 senyawa aktif fisiologis.

Kopi memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi, serta antikanker. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, berpotensi berdampak pada pencegahan penyakit kardiovaskular dan gangguan neurodegeneratif.

Pelatihan bagi pelaku usaha kopi di Kendari

Instruktur pelatihan menunjukkan biji kopi robusta yang telah diroasting di rumah produksi kopi tolaki di Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Kamis (17/10/2024). ANTARA FOTO/Andry Denisah/tom.

Selain itu, konsumsi kopi jangka pendek diperkirakan dapat mengaktifkan aktivitas sistem saraf simpatik dengan meningkatkan darah melalui vasokonstriksi perifer, yang memicu detak jantung meningkat sementara. Kondisi ini bisa meningkatkan aliran darah usus, hingga berkontribusi pada peningkatan motilitas usus.

Dalam studi tersebut, dijelaskan bahwa kandungan kopi berupa kafein dan asam klorogenik dapat merangsang peristaltik usus. Bahkan, usus juga diklaim bisa merangsang langsung otot polos usus dan mengaktifkan sistem saraf enterik.

Secara tidak langsung, kandungan kopi, terutama kafein, akan merangsang aktivitas otot usus, yang menimbulkan rasa mulas atau dorongan untuk buang air besar. Namun, kondisi tersebut bergantung konsentrasi kopi yang digunakan.

Kopi juga dapat merangsang lambung untuk memproduksi hormon gastrin yang mengirim sinyal ke usus besar untuk melakukan gerakan peristaltik (meremas). Ini berarti kopi turut merangsang refleks gastrokolik yang mempercepat gerakan otot pencernaan.

Panen kopi Muria di Kudus

Petani menunjukkan kopi jenis robusta saat panen di lereng Gunung Muria, Desa Colo, Dawe, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (10/9/24). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/YU

Dalam jurnal lain dengan judul "Is Coffee a Colonie Stimulant?" yang dirilis di website Ovid, penelitian yang mengambil sampel pada 12 subjek sehat menunjukkan, kopi dapat memicu aktivitas yang lebih besar di usus besar.

Selain itu, kandungan pada kopi juga turut meningkatkan kontraksi yang merambat, serta merangsang aktivitas motorik usus besar, sehingga menimbulkan sensasi mulas atau efek ingin BAB.

Akan tetapi, kopi tanpa kafein memiliki efek yang lebih rendah dibanding kopi dengan kafein. Bahkan, kandungan tersebut juga tidak selamanya otomatis menimbulkan efek motilitas usus.

Menurut Scandinavian Journal of Gastroenterology berjudul "Stimulation of defecation: Effects of coffee use and nicotine on rectal tone and visceral sensitivity", kopi sama seperti air hangat yang berpengaruh pada proses buang air besar dengan meningkatkan tonus rektum.

Penelitian menunjukkan bahwa sebenarnya kandungan kafein pada kopi tidak selalu menimbulkan efek ingin BAB. Dalam kondisi tertentu, kopi tanpa kafein tetap dapat memengaruhi motilitas usus, sama seperti air hangat, meski efek yang dihasilkan sedikit berbeda.

Produksi Biji Kopi Tumbuh pada awal Tahun 2025

Pekerja menunjukkan kopi siap jual di Pasar Santa, Jakarta, Senin (5/5/2025). ANTARA FOTO/Fathul Habib Sholeh/foc.

Studi lain di BMJ Journals dengan judul "Effect of coffee on distal colon function" mengambil 99 sukarelawan (58 pria dan 34 wanita) untuk mengungkap pengaruh kopi terhadap fungsi distal. Hasilnya, sekitar 29% (63% wanita) menyatakan bahwa kopi memicu keinginan untuk buang air besar.

Penelitian tersebut kemudian mengerucut pada respons motorik rektosigmoid terhadap kopi hitam tanpa pemanis pada 14 subjek sehat (12 pria, 2 wanita). Hasilnya, delapan di antaranya juga menyatakan bahwa kopi mendorong keinginan untuk BAB.

Meskipun hasil penelitian menunjukkan peningkatan indeks motilitas dalam waktu empat menit setelah meminum kopi biasa dan kopi tanpa kafein pada 8 responden, kopi justru tidak berdampak pada 6 responden lain.

Artinya, efek kopi tidak selalu merangsang respons motorik kolon distal yang menimbulkan rasa ingin buang air besar, meskipun lebih banyak yang merasakan efek tersebut. Selain itu, rasa mulas dan dorongan ingin BAB setelah meminum kopi dapat disebabkan juga oleh kopi.

Ilustrasi Minum Kopi

Ilustrasi minum kopi. FOTO/iStockphoto

Apakah Berbahaya & Kapan Harus Cari Pertolongan Medis?

Sebagaimana dikutip dari Verywell Health, pada dasarnya refleks gastrokolik adalah respons alami yang mendorong usus besar untuk bergerak setelah makan, agar lambung menyediakan ruang untuk asupan makanan baru.

Akan tetapi, jika refleks gastrokolik terlalu aktif, justru dapat menyebabkan beberapa gejala kesehatan. Misalnya memicu sakit perut, kembung, kram, hingga diare.

Bahkan, refleks gastrokolik yang terlalu aktif dapat menimbulkan efek yang lebih serius, seperti Sindrom Iritasi Usus (IBS) dengan gejala sembelit atau diare. Kemudian Sindrom Dumping (DS) yang memungkinkan makanan bergerak terlalu cepat dari lambung ke usus, hingga penyakit radang usus (IBD).

Produksi dan pengolahan kopi secara tradisional di Aceh

Pekerja mendinginkan biji kopi robusta setelah proses penyangraian di salah satu tempat produksi kopi tradisional Desa Lueng Ie, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Aceh, Rabu (26/8/2026). Pelaku usaha mengaku dalam sehari mampu memproduksi dan mengolah biji kopi robusta secara manual atau tradisional sebanyak 200 kg yang kemudian dikirim ke berbagai daerah dan Provinsi di Aceh, Sumatera Utara dan Pulau Jawa dengan harga jual berkisar Rp90.000 hingga Rp160.000 per kg tergantung kualitas biji dan bubuk kopi. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nz.

Meskipun penyebab pasti refleks yang terlalu aktif belum jelas, kondisi tersebut dapat terjadi berkaitan dengan kadar hormon yang mengatur pencernaan atau neuropeptida yang abnormal.

Selain itu, perubahan mikrobioma usus juga bisa memengaruhi kontraksi otot di saluran pencernaan, yang kerap memicu gejala.

Jurnal berjudul "Physiology, Gastrocolic Reflex" di National Library of Medicine, menjelaskan, refleks gastrokolik berkorelasi dengan patogenesis sindrom iritasi usus besar (IBS). Volume mengonsumsi makanan dapat memicu reaksi berlebih karena adanya peningkatan sensitivitas visceral.

Dengan kata lain, pola makan atau kandungan tertentu dapat memicu refleks gastrokolik terlalu aktif hingga mengakibatkan sakit perut, sembelit, diare, kembung, bahkan tenesmus.

KOMODITAS KOPI JAWA

seorang warga memanen kopi varietas jawa line s di perladangan kawasan lereng gunung sindoro desa canggal, candiroto, temanggung, jawa tengah, selasa (14/6). kopi jawa biasa ditanam di sela-sela tanaman semusim sebagai vegetasi yang berfungsi menahan erosi dan mempunyai nilai ekonomi tinggi, saat ini harga kopi jawa rp6.000 per kilogram biji basah. antara foto/anis efizudin/foc/16.

Langkah pencegahan kondisi tersebut adalah menyesuaikan pola makan. Jika makanan atau minuman tertentu menimbulkan gejala, maka membatasi atau menghindari jadi solusi terbaik untuk membantu meminimalkan gejala.

Selain itu, pencegahan refleks gastrokolik sangat aktif juga dapat diatasi dengan makan dalam porsi kecil serta menghindari makanan tinggi karbohidrat dan lemak.

Andai gejala yang ditimbulkan berangsur dalam periode waktu cukup lama, seperti berlangsung lebih dari beberapa hari, sangat dianjurkan untuk segera menghubungi penyedia layanan kesehatan atau memeriksakan diri ke dokter.

Beberapa gejala yang menunjukkan harus segera ditangani medis di antaranya dorongan ingin BAB langsung dengan jarak dari makan yang terbilang sangat dekat, diare kronis atau feses encer dan berair, nyeri perut atau kram yang berkelanjutan, serta buang gas berlebihan.

Dari panas bumi hadir secangkir kopi untuk dunia

Biji kopi disangrai menggunakan suhu panas tertentu di Kedai Kopi Ecovill, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Baca juga artikel terkait KOPI atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - GWS
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Beni Jo