Menuju konten utama

Toxic Sports Parents, Ambisi Orang Tua Saat Anaknya Bertanding

Mengapa orang tua bisa bertindak berlebihan (toxic sports parents) saat anaknya bertanding olahraga, dan apa dampaknya terhadap anak menurut psikologi?

Toxic Sports Parents, Ambisi Orang Tua Saat Anaknya Bertanding
Ilustrasi Toxic Sports Parents. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketika menonton pertandingan sepak bola usia muda, orang tua acapkali hadir untuk memberi dukungan kepada anaknya. Tidak jarang, para orang tua berteriak dari pinggir lapangan yang ditujukan kepada wasit saat anaknya dilanggar, atau memberi instruksi menendang atau menggiring bola ketika anaknya sedang memegang kendali atas bola.

Bukan hanya di pertandingan sepak bola usia muda, orang tua juga kerap berusaha mempengaruhi keputusan anak saat anaknya bertanding, termasuk bela diri seperti pencak silat, karate, judo dan sebagainya. Kadang, tindakan orang tua bisa sampai berlebihan yang di dalam kajian psikologi disebut sebagai toxic sports parents.

Pada dasarnya, orang tua memiliki tujuan baik untuk memberi dukungan kepada anak-anak mereka yang sedang menjalani pertandingan olahraga. Namun, yang sering terjadi mereka tidak sadar bahwa tindakannya justru memberi dampak buruk terhadap perkembangan skill sang anak di bidang yang digelutinya.

Toxic Sports Parents dan Kenapa Orang Tua Bersikap Berlebihan?

Dalam artikel “Partners Obnoxious Conduct Sons Football Matches Putting Me Off” yang terbit di laman The Guardian, Lucy Fuller seorang Psikolog Anak, Remaja dan Orang Tua menyebut toxic sports parents jamak dilakukan orang tua di seluruh dunia. Para orang tua selalu ingin memberi dukungan atas segala hal yang dilakukan sang anak, tetapi tanpa sadar justru menghambat perkembangan anaknya.

Lucy Fuller menyebut toxic sports parents berbeda-beda setiap kasusnya. Ada banyak faktor yang perlu dipahami untuk membuat orang tua sadar tindakannya salah, begitu pula cara mengatasinya. Walau begitu, pada umumnya sikap berlebihan orang tua dibentuk oleh lingkungan.

Faktor pertama dan yang paling banyak dijumpai dalam kasus toxic sports parents adalah latar belakang orang tua. Seorang ayah maupun ibu yang pernah bercita-cita menjadi atlet profesional, tetapi gagal mewujudkannya cenderung terobsesi kepada sang anak agar sukses.

Ilustrasi Toxic Sports Parents

Ilustrasi Toxic Sports Parents. FOTO/iStockphoto

Bila sang ayah pernah menjadi pemain sepak bola atau atlet olahraga lain, tetapi karirnya tidak begitu sukses, dia tidak ingin anaknya mengalami nasib serupa. Hal itu dapat mempengaruhi kondisi psikologis orang tua ketika melihat anaknya melakukan kesalahan.

Orang tua akan berusaha membantu anaknya mengatasi masalah di lapangan, membuat keputusan yang menurutnya benar, tetapi kadang tanpa sadar justru menghambat perkembangan sang anak.

Bila orang tua bukan mantan atlet yang gagal, sikap berlebihan yang ditunjukkan bisa dipengaruhi oleh kehidupan sosial. Bagaimana perannya di rumah, lingkungan sekitar tempat tinggal, atau bahkan tempat kerja.

Lucy Fuller membuka kemungkinan orang tua telah menerapkan metode serupa berhasil di bidang pekerjannya. Mereka kemudian berpikir metode yang sama akan berhasil jika diterapkan kepada sang anak. Padahal, yang dihadapi adalah orang berbeda dengan kondisi psikologis yang berbeda pula.

Namun, detail-detail kecil semacam itu kerap luput dari orang tua. Mereka pun melakukan tindakan yang dianggap mampu membantu anak berkembang, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Orang yang bisa menghentikan toxic sports parents adalah pasangan, atau orang yang dekat dengan ayah atau ibu sang anak. Dalam hal ini, bila yang bersikap berlebihan ketika anaknya bertanding adalah ayah, maka ibu mesti mengontrol sang ayah agar tidak bertindak berlebihan, begitu pula sebaliknya.

Namun, bila kedua orang tua sama-sama bersikap berlebihan, tekanannya semakin besar untuk perkembangan kemampuan dan mental anak. Harus ada orang lain yang mengingatkan kedua orang tua, dan lebih dari itu, saran orang tersebut didengarkan oleh orang tua yang melakukan toxic sport parents.

Dalam banyak kasus anak yang berbakat bermain sepak bola atau olahraga lain ketika masih belia, gagal mencapai level profesional karena tekanan dari kedua orang tua. Ketika hal itu terjadi, mental anak acapkali terpengaruh sehingga sulit berkembang, meski ada juga anak yang mampu menghadapi tekanan orang tua yang bersikap berlebihan.

Dampak Toxic Sports Parents Terhadap Psikologis Anak

Sikap berlebihan orang tua ketika menyaksikan anaknya bertanding bukan hanya berpengaruh pada perkembangan kemampuan anak, hal itu juga bisa berpengaruh pada mental anak. Teriakan orang tua dari pinggir lapangan ketika anaknya bertanding sepak bola, misalnya dapat mempengaruhi anak-anak dalam mengambil keputusan.

Ketika anak yang bertanding di lapangan ingin mengoper bola kepada rekannya, tetapi orang tua berteriak tembak, bawa bolanya ke depan, lewati lawan dan sebagainya membuat anak bimbang mengambil keputusan. Bila akhirnya anak mengambil keputusan yang salah, kemudian orang tuanya terlihat kecewa, hal itu juga dapat mempengaruhi kepercayaan diri sang anak.

Ilustrasi Toxic Sports Parents

Ilustrasi Toxic Sports Parents. FOTO/iStockphoto

Dalam jurnal "Overparenting and adolescent's trait anxiety: Unraveling the roles of basic psychological needs frustration and emotion dysregulation", yang terbit di Acta Psychologica (2024), sikap berlebihan orang tua memberi dampak yang besar terhadap mental anak.

Penelitian yang dilakukan oleh Majid Sadoughi tersebut melibatkan 391 anak sebagai sampel. Fokusnya adalah dampak dari orang tua yang mengontrol anak sejak usia dini terhadap perkembangan mental.

Alih-alih membuat anak memiliki kemampuan yang sesuai dengan harapan orang tua, tindakan berlebihan yang dilakukan orang tua cenderung menghambat perkembangan anak. Hal yang paling menonjol adalah ketidakmampuan anak dalam mengatasi kecemasan dan mengontrol emoasinya setelah melakukan kesalahan.

Masalah tersebut menurut Essau (2014), disebabkan oleh kemampuan mengendalikan perasaan. Remaja mengembangkan perasaan cemas sebagai respons terhadap berbagai tuntutan dari luar diri, yang dapat berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari mereka.

Baca juga artikel terkait OLAHRAGA atau tulisan lainnya dari Permadi Suntama

tirto.id - Edusains
Penulis: Permadi Suntama
Editor: Iswara N Raditya