tirto.id - Awal pekan ini, ribuan kulkas yang ada di ratusan toko ritel Prancis diretas. Hal itu terjadi di berbagai wilayah di Prancis. Pemerintah Prancis telah menggolongkan serangan siber ini sebagai serangan nasional setelah dampak yang ditimbulkan berpotensi mengganggu rantai distribusi makanan.
Peretasan tersebut terjadi pada Minggu (11/10/2026) lalu. Laporan CNN menyebut serangan siber telah membuat ribuan kulkas modern dengan kendali jarak jauh menjadi tak beroperasi.
Alih-alih mendinginkan bahan makanan yang disimpan, pengatur suhu pada ribuan kulkas itu justru direkayasa untuk mempertahankan suhu pada kisaran 50 derajat celsius. Kondisi ini berlangsung, setidaknya, selama enam jam pada hari peretasan..
Akibat hal tersebut, bahan makanan yang disimpan di lemari pendingin maupun freezer mengalami kerusakan. Sejumlah kulkas bahkan memercikkan api.
Seturut Reuters, juru bicara Les Mousquetaires, perusahaan pemilik toko ritel yang terdampak, menyebut semua makanan yang rusak akibat serangan terpaksa dibuang. Keputusan ini, katanya, dilakukan demi menghindari risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan.
Insiden peretasan ini menyebabkan kulkas di sekitar 700 toko ritel di Prancis tidak beroperasi secara optimal. Hal ini kemudian meningkatkan kekhawatiran akan terganggunya rantai pasok makanan bagi publik di sana.
“Ketika kami menemukan serangan siber ini, hal itu membuat kami khawatir tentang kemampuan rantai distribusi kami untuk mengirimkan makanan kepada semua warga,” kata Menteri Ekonomi Prancis Roland Lescure pada Selasa (12/10).
Pelaku peretasan hingga kini belum diidentifikasi. Sejauh ini juga belum ada individu ataupun kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber tersebut.
Félix Aimé, peneliti pada perusahaan keamanan siber Sekoia, mengatakan motivasi peretas “belum diketahui pada tahap ini” dalam menciptakan kekacauan. Ketidakjelasan ini, kata Aimé, membuat berbagai kemungkinan masih mungkin terjadi.
“Operasi yang bertujuan untuk mengacaukan aktivitas ekonomi tertentu, atau infrastruktur juga dapat dipertimbangkan,” tutur Aimé.
Dampak Peretasan Kulkas di Prancis
Kejaksaan Prancis menyatakan kasus serangan siber ini telah mereka ambil alih di bawah yurisdiksi nasional. Dalam pernyataan mereka kepada CNN, pihak kejaksaan tengah berupaya untuk “mengidentifikasi para korban”, selain “menetapkan hubungan antara serangan dan kerusakan” yang dialami.
Pihak kejaksaan menyebut pengambilalihan investigasi ini dilakukan karena serangan siber ini menyerang “beberapa pengecer makanan besar di seluruh Prancis”. Dilihat dari skalanya, peretasan berpotensi menimbulkan dampak luas di seluruh Prancis.
Serangan pada Minggu itu telah berdampak pada ribuan kulkas milik toko ritel di berbagai wilayah di Prancis. Dari jumlah tersebut, kulkas-kulkas terdampak diidentifikasi setidaknya merupakan produk milik tiga perusahaan. Ketiga perusahaan itu adalah Dafoss asal Denmark, serta Copeland dan Dixell yang berbasis di Amerika Serikat (AS).
Perusahaan tersebut memiliki kulkas yang terkoneksi secara daring dan memungkinkan pengaturan suhu dapat dikontrol dari jarak jauh. Masalahnya, ketiga perusahaan itu memasok produk mereka secara masif ke jaringan ritel Prancis. Kini mereka telah mengeluarkan produk dari kulkas.
Peretasan turut membuat 80 supermarket milik Carrefour terdampak. Perusahaan Monoprix, yang memiliki 490 toko ritel di seluruh Prancis, juga melaporkan serangan terhadap 5 persen toko mereka.
Les Mousquetaires menyatakan serangan pada kulkas ini telah mempengaruhi produk pada 150 toko milik mereka di berbagai daerah. Selain itu, perusahaan Coopérative U juga melaporkan insiden serupa pada 80 toko milik mereka.
Luasnya dampak serangan ini juga disebut Félix Aimé tak hanya terjadi di Prancis. Dalam keterangannya untuk Reuters, Aimé menyebut peretasan memengaruhi jaringan ritel di Spanyol, Portugal, Polandia, Jerman, dan Belgia.
Berkaca dari serangan tersebut, Komisioner Uni Eropa untuk Pertanian dan Pangan Chrisophe Hansen memperingatkan bahwa keamanan pangan perlu jadi perhatian banyak pihak. Dalam keterangannya di X, ia menyebut bahwa “penggunaan makanan sebagai senjata telah menjadi kenyataan”.
Dalam keterangannya pada Selasa, Menteri Ekonomi Prancis Roland Lescure menyebut bahwa serangan tersebut tidak berpengaruh pada risiko kekurangan pangan di negara itu. Namun, Lescure menggambarkan serangan itu sebagai “peringatan bagi semua orang” akan kerentanan pada rantai pasok makanan.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































