Pentingnya Menyikapi Kegemparan Vaksin AstraZeneca dengan Bijak

Oleh: Sekar Kinasih - 13 April 2021
Dibaca Normal 4 menit
Sampai pertengahan Maret, belasan negara di kawasan Eropa sudah menangguhkan pemakaian vaksin buatan Oxford-AstraZeneca.
tirto.id - Ingar-bingar tentang keamanan vaksin Covid-19 buatan Oxford-AstraZeneca—bercap dagang Vaxzevria—mulai mencuat sejak awal Maret di Austria. Sepuluh hari pasca-vaksinasi, seorang perawat perempuan berusia 49 tahun dilaporkan meninggal akibat penggumpalan darah. Sementara itu, perawat perempuan lain berusia 35 tahun yang menerima vaksin dengan nomor batch yang sama, sempat menjalani perawatan di rumah sakit karena emboli paru (penyumbatan pada pembuluh darah di paru-paru akibat gumpalan darah).

Setelah beberapa hari menangguhkan pemakaian vaksin batch tersebut, otoritas kesehatan Austria memutuskan untuk melanjutkan penggunaannya. Mereka berpegang pada temuan awal BPOM Eropa, European Medicines Agency (EMA), bahwa “tidak ada indikasi” vaksin Vaxzevria bernomor batch ABV5300 menimbulkan masalah kesehatan seperti ditemui di Austria. Sekiranya satu juta dosis vaksin batch ini sudah disebar ke 17 negara Eropa.

Eropa Menangguhkan Vaksinasi

Masih di awal bulan Maret, otoritas kesehatan di Denmark menangguhkan penggunaan vaksin Vaxzevria setelah mendapati kasus penggumpalan darah pada penerimanya yang berujung pada satu kasus kematian. Tak lama kemudian, Norwegia melaporkan kondisi serupa pada lima penerima vaksin. Semuanya berusia di bawah 55 tahun, tiga di antaranya meninggal dunia. Dilansir dari Science Norway, otoritas kesehatan Norwegia menduga vaksin telah memicu respons imun yang berdampak pada penggumpalan darah.

Sampai pertengahan Maret, belasan negara di kawasan Eropa sudah menangguhkan pemakaian vaksin buatan Oxford-AstraZeneca, seperti Perancis, Italia, Spanyol, dan Jerman. Di Jerman, tujuh orang penerima vaksin Vaxzevria mengalami penggumpalan darah, tiga di antaranya meninggal. Dalam situasi yang serba membingungkan, European Medicines Agency (EMA) menegaskan bahwa vaksin Vaxzevria “aman dan efektif” untuk melindungi penerimanya dari Covid-19.

Otoritas badan obat Eropa ini menekankan, manfaat vaksin jauh lebih besar daripada efek sampingnya. Sampai 16 Maret, sekiranya 20 juta orang di Inggris dan Kawasan Ekonomi Eropa menerima vaksin Vaxzevria. EMA sudah meninjau 7 kasus koagulasi intravaskular diseminata (DIC) dan 17 kasus trombosis sinus vena serebri (CVST), penyakit-penyakit langka terkait penggumpalan darah. Mereka tidak menemukan hubungan sebab-akibatnya dengan vaksin Vaxzevria, namun tidak menutup kemungkinannya sembari terus melakukan investigasi.


Masih pada pertengahan Maret, Chief Medical Officer dari perusahaan biofarma AstraZeneca Ann Taylor menyampaikan, masalah kesehatan yang muncul pada penerima vaksin jumlahnya tidak signifikan dibandingkan dengan kasus-kasus yang umumnya muncul. “Sekitar 17 juta orang di Uni Eropa dan Inggris Raya sudah menerima vaksin kami, dan jumlah kasus penggumpalan darah yang dilaporkan dalam kelompok ini lebih rendah daripada ratusan kasus yang diperkirakan terjadi pada populasi umum,“ ujar Taylor.

Setelah itu, negara-negara yang sempat menangguhkan pemakaian vaksin Oxford- AstraZeneca mulai menggunakannya lagi. Namun demikian, vaksin diberikan pada individu dengan batas usia tertentu. Di Italia misalnya, vaksin diberikan pada warga berusia 60 tahun ke atas, di Perancis dan Belgia untuk usia di atas 55 tahun. Sementara itu, Norwegia dan Denmark masih menunda pemakaian vaksin Vaxzevria sampai pertengahan April.

European Medicines Agency (EMA) masih melanjutkan peninjauannya. Sampai akhir Maret, mereka belum berhasil mengidentifikasi risiko spesifik seperti gender, usia atau riwayat penyakit penggumpalan darah sehubungan dengan isu kesehatan yang dialami sejumlah penerima vaksin.

Baru pada tanggal 7 April, EMA mengkonfirmasi kemungkinan adanya hubungan antara vaksin Vaxzevria dengan kasus-kasus langka penggumpalan darah yang diiringi dengan tingkat trombosit darah yang rendah. Mayoritas kasus ditemui pada perempuan berusia di bawah usia 60 tahun dalam kurun 2 minggu setelah vaksinasi. Penyebabnya belum bisa dipastikan, akan tetapi diduga berkaitan dengan respons imun tubuh terhadap vaksin.

Sampai 4 April, sekiranya 34 juta orang menerima vaksin Vaxzevria di Kawasan Ekonomi Eropa dan Inggris Raya. Dari sekian jumlah penerima tersebut, komite keamanan EMA sudah menerima laporan 169 kasus penggumpalan darah di pembuluh darah otak (CVST) dan 53 kasus penggumpalan darah di perut (splanchnic vein thrombosis/SVT).

Bersamaan dengan temuan dari EMA, otoritas kesehatan Inggris memutuskan untuk menawarkan alternatif vaksin selain Oxford-Astrrazeneca kepada warga berusia di bawah usia 30 tahun.

Pemerintah Inggris mengambil langkah tersebut setelah meninjau laporan dari badan otoritas kesehatan nasional, Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA).

MHRA menemukan 79 kasus penggumpalan darah (terdiri atas 51 perempuan dan 28 laki-laki) dari 20 juta orang penerima vaksin Oxford-Astrrazeneca di Inggris. Artinya, risiko penggumpalan darah bisa terjadi pada 4 dari 1 juta penerima vaksin.

Selain itu, diketahui bahwa 19 orang dari 79 kasus di atas meninggal dunia (13 perempuan dan 6 laki-laki). Sebelas dari korban jiwa berusia di bawah 50 tahun.

Menimbang Risiko Oxford-AstraZeneca

Tanpa mengesampingkan efek samping berbahaya dari vaksin Vaxzevria, penting bagi kita untuk memahami bahwa kasus-kasus yang muncul tergolong jarang atau langka. Kepala Bidang Statistik di BBC, Robert Cuffe, mencoba membandingkannya dengan rasio risiko yang bisa dialami manusia pada situasi berbeda. Merujuk pada temuan MHRA, kasus kematian ditemui pada 19 dari 20 juta orang penerima vaksin di Inggris. Artinya, 1 dari 1 juta orang berisiko meninggal setelah divaksinasi. Menurut Cuffe, peluang meninggal dalam rasio 1:1.000.000 ini sama halnya dengan risiko kematian akibat kecelakaan saat menyetir mobil sejauh 400 kilometer (kira-kira jarak antara Jakarta dan Semarang).

Masih dikutip dari perhitungan Cuffe, peluang pada kelompok usia 55 tahun untuk mengalami efek samping serius dari vaksin Vaxzevria mencapai 4 kasus per 1 juta penerima vaksin. Akan tetapi, risikonya meninggal dengan Covid-19 jauh lebih besar, yakni 800 kasus per 1 juta pasien.

Cuffe menekankan pula, menunda vaksinasi selama seminggu pada 10 juta orang bisa berakibat pada munculnya 16.000 kasus positif Covid-19. Dari angka tersebut, diperkirakan 1.000 orang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, dan 300 di antaranya bisa meninggal dunia. Artinya, tingkat kematian karena infeksi Covid-19 jauh lebih tinggi daripada risiko penggumpalan darah pada penerima vaksin Vaxzevria (1 kematian per 1 juta orang, atau 10 kematian tiap 10 juta penerima vaksin). Sedangkan pada situasi normal tanpa vaksinasi, Cuffe memperkirakan penyakit akibat penggumpalan darah bisa dialami oleh 140 orang per 10 juta populasi jiwa.

Sebenarnya, risiko penggumpalan darah ditemui pula pada penderita Covid-19. Melansir studi yang terbit pada April 2020 di jurnal Thrombosis Research, 31 persen dari 184 pasien Covid-19 di Belanda mengalami komplikasi akibat penggumpalan darah. Selain itu, pil kontrasepsi yang dikonsumsi perempuan juga berpeluang menimbulkan penggumpalan darah. Dikutip dari Newsweek, National Blood Clot Alliance di Amerika Serikat memperkirakan bahwa 1 dari 1.000 perempuan yang mengonsumsi pil kontrasepsi akan mengalami penggumpalan darah. Studi tahun 2015 di jurnal kesehatan The BMJ juga menunjukkan, terdapat 6-17 kasus tambahan penggumpalan darah per 10.000 perempuan penerima resep kontrasepsi oral, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsinya.

Infografik Kegaduhan Vaksin AstraZeneca
Infografik Kegaduhan Vaksin AstraZeneca. tirto.id/Rangga


Terlepas bahwa risiko penggumpalan darah akibat vaksin Vaxzevria ini tergolong langka dan bisa ditemui pada insiden di luar vaksinasi Covid-19, kegaduhan yang ditimbulkannya sudah terlanjur membuat publik tidak nyaman. Ketika negara-negara Eropa berbondong-bondong menangguhkan vaksinasi pada pertengahan Maret silam, persentase masyarakat yang meragukan keamanan Vaxzevria pun meningkat. Padahal, beberapa minggu sebelumnya tingkat keraguan mereka berkisar pada angka 40% ke bawah. Melansir hasil survei YouGov (PDF), di Perancis misalnya, presentase masyarakat yang menganggap Vaxzevria tidak aman meningkat dari 43% jadi 61%. Di Jerman, angkanya meningkat dari 40% jadi 55%. Sementara di Italia dan Spanyol keraguannya meningkat lebih dari dua kali lipat, 16% jadi 43% di Italia dan 25% jadi 52% di Spanyol.

Sejumlah ahli kesehatan menilai bahwa otoritas Eropa tidak perlu heboh menangguhkan Vaxzevria. Selain dapat menghambat kampanye vaksinasi, rakyat pun akhirnya dibuat ragu akan efektivitas vaksin.

Profesor psikologi kesehatan dari University College London, Robert West, menyampaikan pada Euronews, para otoritas kesehatan memang terkesan mengambil langkah hati-hati, padahal sebenarnya tidak. “Yang mereka lakukan adalah mengambil keputusan… yang sayangnya akan berujung pada melayangnya korban jiwa. Selain menunda vaksin untuk orang-orang yang seharusnya menerimanya, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat yang tidak berada pada posisi untuk mengambil keputusan.”

Masih dilansir dari Euronews, peneliti senior ilmu kesehatan global di University of Southampton, Michael Head, setuju akan pentingnya menginvestigasi potensi masalah pada vaksin. Akan tetapi, hal itu sebenarnya bisa dilakukan sambil terus menjalankan program imunisasi.

Sampai sekarang, European Medicines Agency (EMA) tidak mengeluarkan pembatasan atau persyaratan khusus bagi penerima vaksin Vaxzevria. EMA percaya bahwa setiap otoritas kesehatan di Uni Eropa punya perencanaan program yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara. Terlepas dari itu, EMA sudah menekankan pentingnya ahli kesehatan dan penerima vaksin Vaxzevria untuk sama-sama mewaspadai risiko penggumpalan darah. Dengan meningkatkan kewaspadaan, pihak-pihak terdampak bisa segera mendapatkan penanganan medis dan disembuhkan.

Sekali lagi, Covid-19 menimbulkan kerugian dan korban jiwa yang lebih besar. Vaksin Vaxzevria dapat mengurangi risiko-risiko tersebut dan memberikan manfaat lebih banyak dibandingkan efek samping yang ditimbulkannya.

Baca juga artikel terkait VAKSIN COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Windu Jusuf
DarkLight