tirto.id - Pada 1986, seorang insinyur otomotif asal Prancis bernama Pierre Foissotte punya mimpi yang terdengar terlalu besar untuk seseorang seperti dirinya. Foissotte tadinya bekerja di Esso Fuels, perusahaan minyak Amerika Serikat, di mana ia terlibat dalam pengujian bahan bakar dan pengembangan mobil Formula Renault. Dari dunia balap itulah ia kemudian bermimpi untuk membangun mobilnya sendiri.
Foissotte kemudian mengumpulkan sekitar 15 orang yang sepemikiran. Mereka bukan orang-orang besar dari pabrikan ternama, bukan pula orang-orang berkocek tebal. Mereka adalah para penggemar otomotif yang, pada dasarnya, cuma bermodal dengkul. Bersama-sama, tim kecil ini mulai merancang sebuah grand tourer, mobil sport dua pintu yang dirancang untuk nyaman dibawa berkendara jauh dengan kecepatan tinggi.
Untuk urusan desain, tim Foissotte meminta bantuan seorang desainer otomotif asal Jepang. Sketsa yang dihasilkan menghadirkan siluet yang tegas dan futuristis. Oleh beberapa pengamat, hasilnya disebut mirip Nissan 300ZX. Ada pula yang melihat kemiripan dengan produk-produk Venturi, pabrikan mobil sport Prancis yang berdiri pada 1984. Yang pasti, hasilnya adalah siluet dua pintu dengan bodi serat karbon yang ramping, aerodinamis, dan cukup cantik untuk membuat orang berhenti dan menoleh.
September 1989, Foissotte dan timnya secara resmi mendirikan Charade Automobile SA di Clermont-Ferrand, sebuah kota di jantung negeri Prancis. Mobil karya mereka diberi nama Charade Monza. Nama "Monza" merupakan bentuk tribute terhadap sirkuit balap legendaris di Italia, yang sekaligus jadi tempat terakhir Foissotte ikut balapan sebagai pebalap amatir.
Pada bulan yang sama, Charade Monza dipamerkan untuk pertama kalinya dalam ajang Mondial de l’Automobile et du Transport di Paris. Kondisi mobil saat itu belum sepenuhnya rampung. Bahkan, sistem suspensinya pun belum terpasang. Namun, sambutan dari penonton cukup antusias dan ini membuat Charade Automobile mulai masuk radar komunitas otomotif internasional.
Untuk urusan mesin, tim Foissotte sempat menjajaki opsi dari Honda, Toyota, dan Mitsubishi sebelum akhirnya memilih mesin Peugeot 205 GTI berkapasitas 1,9 liter yang menghasilkan tenaga 130 hp. Mesin itu dipasang di posisi tengah-belakang, seperti lazimnya sebuah supercar. Sasis yang digunakan adalah rangka baja tubular, sementara bodi serat karbon membuatnya tetap ringan dan gesit.

Berumur Pendek dan Sangat Langka
Dalam proses pengembangannya, Foissotte berkeliling ke sejumlah negara Asia untuk mencari mitra produksi bodi. Di sinilah kemudian Indonesia masuk sebagai pemeran penting karena apa yang dicari sang insinyur rupanya ada di jakarta. Sebuah perusahaan bernama PT Kreasindo Trampil Mandiri (KTM) dipercaya untuk menggarap bodi Charade Monza.
Hubungan bisnis Charade Automobile dan PT KTM pun tidak berhenti sampai di situ. PT KTM memutuskan untuk memproduksi sendiri versi Indonesia dari Charade Monza secara mandiri. Mereka menggunakan bodi serat karbon yang sama, tetapi mesin yang mereka gunakan adalah milik Mitsubishi Colt L300 berkapasitas 1.597 cc yang dikenal tangguh dan bandel. Mesin itu dipasang lengkap dengan transmisi manual lima percepatannya. Besarnya "kontribusi” Mitsubishi itulah yang membuat PT KTM kemudian memberi nama mobil sport-nya tadi Mitsubishi Pawma XL300.
Dari sisi desain, Pawma XL300 sama persis dengan Charade Monza. Di bagian depannya terdapat pop-up headlamp, lampu yang tersembunyi di dalam bodi dan muncul ke atas secara mekanis saat dinyalakan, khas mobil sport zaman itu. Tak lupa, sebagai mobil sport, Pawma XL300 juga cuma punya dua pintu.
Pawma XL300 diklaim mampu menembus kecepatan maksimum 180 km/jam. Angka itu memang tidak terdengar spesial untuk ukuran mobil sport. Akan tetapi, mengingat jeroan Pawma XL300 adalah mesin sebuah mobil niaga, klaim tersebut jelas layak mendapat perhatian tersendiri.
Jakarta Fair 1990 jadi momen Pawma XL300 pertama kali diperkenalkan ke khalayak Indonesia. Waktu itu harganya dipatok Rp35 juta. Setahun berikutnya, mobil ini tampil kembali dalam Motorcycle & Auto Expo 91 yang berlangsung di Hall O Arena Pekan Raya Jakarta, 2 hingga 6 Maret 1991, dengan harga yang tercatat naik menjadi Rp38 juta on the road. Angka tersebut bukan jumlah kecil di era itu, sekaligus menegaskan bahwa Pawma XL300 bukan untuk kaum mendang-mending.
Sayangnya, di tengah kehebohan hadirnya Pawma XL300 di Indonesia itu, Charade Automobile semakin kesulitan menyambung napas. Maklum, mereka memang perusahaan kecil dengan sumber daya terbatas. Banyak fitur yang semula direncanakan, termasuk konfigurasi mesin tengah dan atap yang bisa dibuka ala convertible, terpaksa ditiadakan karena keterbatasan modal. Selain itu, demi bertahan hidup, mereka bahkan mencoba menjual Charade Monza dalam format kit car, yakni paket komponen yang bisa dirakit sendiri di garasi menggunakan sasis Volkswagen Beetle.
Versi kit tersebut dijual seharga 42.850 franc, sementara versi rakitan penuh dibanderol 115.840 franc. Sebagai pembanding, harga sebuah Peugeot 205 GTI baru saat itu adalah 99.800 franc. Artinya, membeli Charade Monza dalam kondisi siap jalan ternyata lebih mahal dari membeli mobil sport Prancis yang sudah jauh lebih teruji dan tepercaya.
Dan akhirnya, segala upaya Charade Automobile SA tidaklah cukup. Pada 1993 mereka resmi gulung tikar dan, sepanjang hayat perusahaan, mereka cuma sanggup menyelesaikan sepuluh unit Charade Monza. Di Indonesia, jumlah Pawma XL300 yang pernah diperkirakan tidak lebih dari sepuluh unit. Kelangkaan ini menjadikan Pawma XL300 sebagai salah satu kendaraan paling eksotis dalam sejarah otomotif Indonesia.

Bukti penting keberadaan Pawma XL300 dalam kisah otomotif nasional salah satunya terbukti dari unggahan Perpustakaan Nasional yang menunjukkan mobil tersebut tengah dikerumuni pengunjung pameran. Keterangan foto itu berbunyi: "mobil sport pertama buatan Indonesia". Akan tetapi, seiring dengan bubarnya Charade Automobile, kiprah Pawma XL300 pun akhirnya sampai pula di ujung jalan.
Walau begitu, secara mengejutkan, ada setidaknya satu unit Pawma XL300 yang masih bertahan hingga puluhan tahun kemudian. Pada Oktober 2019, akun Instagram @rarecar.id mengunggah foto sebuah Pawma XL300 tengah melintas di Jalan Raya Sukahati, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, dalam kondisi yang disebut terawat dan layak jalan.
Dari foto tersebut, terlihat bahwa pemilik Pawma XL300 tadi sudah mendandani mobilnya sedemikian rupa sehingga tampilannya jadi mirip dengan Ferrari F40, lengkap dengan spoiler besarnya. Sebagai catatan, Pawma XL300 atau Charade Monza aslinya tidak memiliki spoiler. Tak cuma itu, Pawma XL300 di Bogor tersebut juga diberi tulisan "PAWMA XL300" di bagian side skirt, kemungkinan besar untuk menginformasikan bahwa mobil tersebut bukanlah Ferrari, melainkan salah satu mobil paling langka di Indonesia.
Foto Pawma XL300 itu, sedikit banyak, menjadi bukti bahwa dulu PT KTM benar-benar memproduksi mobil yang berkualitas. Tiga dekade telah berlalu dan mobil tersebut masih bisa beredar di jalan raya. Pawma XL300 memang tidak pernah menjadi mobil nasional yang, pada dekade 1990-an dulu, menjadi mimpi banyak pelaku industri otomotif Tanah Air. Akan tetapi, tidak akan ada satu pun yang bisa merebut status sebagai "mobil sport pertama buatan Indonesia" dari tangannya.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































