Menuju konten utama

Panas Dingin Hubungan Ahmad Dhani dan NU

Pernah didampingi Gus Dur dan NU waktu dikoyak FPI, kini Dhani berseberangan dengan PBNU dan bersekutu dengan FPI.

Panas Dingin Hubungan Ahmad Dhani dan NU
Ahmad Dhani mengikuti sidang dakwaan pencemaran nama baik di Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur, Kamis (7/2/2019). ANTARA FOTO/Umarul Faruq/foc.

tirto.id - Jelang putusan sela dalam kasus yang menjeratnya, pada Selasa (19/2/2019) Ahmad Dhani membawa selembar kertas dengan bubuhan tulisan tangan di dalamnya ke Pengadilan Negeri Surabaya. Isi surat tersebut menyatakan sikapnya tentang Nahdlatul Ulama (NU).

Menurutnya, jika NU adalah Islam Nusantara, harus jadi pendukung Jokowi, menganggap kelompoknya yang paling benar, dan tidak belajar dari masa lalu, maka ia bukan bagian darinya.

“Saya bukan NU jenis ini,” tulisnya.

Selanjutnya ia menyatakan bahwa dirinya adalah NU pengikut Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan Gusdurian.

“100 % Islamnya Gus Dur. Dari dulu hingga sekarang,” terang pentolan band Dewa itu, seperti dikutip Detik.

Dhani Dihajar FPI, Gus Dur Mendampingi

Sudah lama Ahmad Dhani mengidolakan Gus Dur. Pada 2005, saat Dewa diprotes keras oleh Front Pembela Islam (FPI) karena memuat logo kaligrafi lafaz Jalalah (Allah) dalam album Laskar Cinta, Ahmad Dhani menyampaikan persoalan tersebut kepada Gus Dur.

FPI yang dipimpin Rizieq Shihab keberatan karena logo tersebut dijadikan alas panggung sehingga terinjak-injak. Saat itu Dewa sedang tampil di sebuah stasiun televisi swasta.

“Persoalannya penggunaan logo Allah ini tidak digunakan sebagaimana mestinya. Memuncaknya [keberatan FPI karena] logo ini dijadikan alat panggung dan diinjak-injak,” ungkap A. Yusuf Amir, pengacara FPI saat itu, kepada Liputan 6.

Sementara Rizieq Shihab seperti dilansir Gatra mengatakan siapa yang berani menjamin kaset itu nantinya tidak beredar di tempat-tempat maksiat. FPI menganggap Dewa telah menodai agama Islam. Hal itulah yang kemudian mendorong FPI melaporkannya ke Polda Metro Jaya.

Menanggapi kasus ini, Gus Dur, seperti biasa, berkomentar santai. Menurutnya, Rizieq Shihab tidak bisa mewakili umat Islam. Lagi pula saat itu Dewa telah meminta maaf secara terbuka, sehingga bagi Gus Dur sebaiknya dimaafkan saja.

“Saya, Dhani Ahmad, Once, Andra, Yuke, Tio, atas nama Dewa meminta maaf atas kecerobohan yang tidak kami sengaja, yang mungkin menyakitkan sebagian umat Muslim,” kata Dhani seperti dikutip Agus Wahyudi dalam Makrifat Cinta Ahmad Dhani (2010).

Namun, saat itu Rizieq Shihab menganggapnya belum selesai. Langkah Dhani yang menemui Gus Dur, sehingga tokoh NU tersebut mengeluarkan pernyataan, dituding Rizieq sebagai langkah mengadu domba antara dirinya dengan Gus Dur.

“Selama Gus Dur benar, saya tetap hormat. Tapi, kalau Gus Dur salah, seribu Gus Dur akan saya lawan!” kata Rizieq tegas.

Dewa akhirnya mengganti sampul album Laskar Cinta, dan konflik pun mereda.

Tak hanya dengan Gus Dur, hubungan Ahmad Dhani dengan NU pun terbilang cukup mesra. Di laman resmi NU, Ahmad Dhani beberapa kali menjadi bahan pemberitaan. Pada Oktober 2004, ia sempat dijadwalkan akan tampil pada Mubes NU di Cirebon.

“Saya yakin Dhani memang orang NU, atau setidaknya saat salat pakai doa qunut,” ucap seorang peserta Mubes sambil tertawa.

Lima tahun berikutnya, yakni pada musim kampanye Pemilu 2009, ia aktif tampil dalam sejumlah kampanye Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Selain menjadi bintang iklan PKB, ia juga sempat memeriahkan kampanye PKB di Subang.

“Pilihlah PKB, partai yang jujur dan membela kebenaran,” ucap Dhani dalam iklan tersebut.

Sementara pada acara acara peluncuran buku bertajuk 13 Alasan Memilih PKB pada Kamis (8/1/2009), Ahmad Dhani menilai Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB, sebagai sosok pemimpin Indonesia masa depan.

Hubungan Dhani dengan NU semakin dekat saat dilantik sebagai salah satu pengurus Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia NU (Lesbumi NU) pada 2014. Said Aqil Siroj yang hadir pada acara tersebut berharap keikutsertaan Dhani dalam kepengurusan Lesbumi NU mampu mengembalikan kejayaan organisasi tersebut yang dulu pernah diisi sejumlah seniman kenamaan seperti Asrul Sani, Djamaluddin Malik, dan Usmar Ismail.

Hubungan Mulai Retak

Pada November 2016, dalam Aksi Bela Islam yang memprotes ucapan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tentang surat al-Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu, Dhani yang turut serta pada aksi tersebut menyerang Jokowi lewat kata-kata yang tak patut.

Selain diprotes relawan pendukung Jokowi, ia juga dipecat dari Lesbumi NU karena dinilai bertentangan dengan kebijakan PBNU yang semestinya menghormati lambang-lambang negara termasuk presiden.

“Kami tidak menoleransi sikap arogan seperti itu. Masak presiden dikatakan anjing. Di mana akhlak santrinya? Bagaimana pun Lesbumi adalah santri,” kata Ketua Lesbumi Agus Sunyoto.

Semenjak itu, hubungan Dhani dengan NU semakin renggang. Apalagi sikap politiknya pada Pilkada DKI Jakarta 2017 mendukung pasangan Anies-Sandi, sementara PKB mendukung Ahok-Djarot.

Bahkan beberapa minggu sebelum pendaftaran calon gubernur Pilkada Jakarta ditutup, ia menegaskan ketidaksukaannya terhadap Ahok dengan menyatakan jika Ahok menang, maka ia akan pindah dari Jakarta.

“Kalau akhirnya Ahok jadi gubernur, saya akan hijrah seperti Nabi Muhammad hijrah dulu. Sudah banyak dosa di Jakarta. Lebih baik saya pindah rumah, antara ke Bekasi atau Depok,” ujarnya.

Infografik Ahmad Dhani dan NU

Infografik Ahmad Dhani dan NU. tirto.id/Fuad

Hal ini pula yang kemudian menjadi titik balik hubungannya dengan FPI yang dulu pernah berseteru dengannya. Pada 15 Agustus 2016 Dhani mendeklarasikan Aliansi Masyarakat Jakarta Selatan (Amjas). Aliansi yang konon sebagai wadah bagi warga Jakarta Selatan yang tidak menyukai Ahok ini diisi juga oleh sejumlah ormas Islam dan ormas warga Betawi. Front Pembela Islam (FPI), Forum Betawi Rempug (FBR), dan Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi) turut dalam aliansi ini.

Kebencian Dhani terhadap Ahok sebetulnya bertentangan dengan sikap Gus Dur—tokoh NU yang menjadi panutannya—setidaknya saat Ahok menjadi calon Bupati Bangka Belitung pada 2007, atau dua tahun sebelum Gus Dur berpulang.

Menurut Ahok, Gus Dur sebetulnya sudah tidak mau kampanye, tapi saat dirinya maju berkompetisi dalam pilkada tersebut, Gus Dur mau kampanye lagi. Tokoh NU itu ingin Ahok menjadi gubernur keturunan Tionghoa pertama di Indonesia.

“Kita semua akan memilih Ahok karena cinta,” ucap Gus Dur sebagaimana dilansir Merdeka.

Kendati demikian, sampai hari ini Dhani tetap memuja Gus Dur. Selain menulis dalam selembar kertas yang menyatakan dirinya Gusdurian, ia beserta keluarganya pun belakangan ziarah ke makam Gus Dur di Jombang, Jawa Timur.

Ia, seperti tertulis dalam surat tersebut, mengklaim tetap menjadi pengikut K.H. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur, meski kini sikap politiknya bertentangan dengan NU: dipecat Lesbumi, status Anggota Kehormatan Banser dicabut, dan kerap berseberangan dengan PKB dalam sejumlah pemilu, termasuk dalam Pilpres 2019.

Petualangan politik Ahmad Dhani barangkali akan terus berlanjut, meski kini ia tinggal di hotel prodeo.

Baca juga artikel terkait NAHDLATUL ULAMA atau tulisan lainnya dari Irfan Teguh

tirto.id - Politik
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan