Orang-Orang di Balik Kepopuleran Kaos Mangkok Ayam Jago & Mi Goreng

Oleh: Joan Aurelia - 31 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ketika gambar ayam jago di mangkuk mi bakso jadi gambar inspiratif bagi pelaku bisnis.
tirto.id - “Harusnya kaus gambar ayam jago di mangkuk mi ayam jadi kaus kebangsaan abang-abang mi ayam sejagat raya,” kata Ade Kharisma, 32 tahun. Desember lalu, ia pamer kaus mi kepada seorang pedagang mi ayam yang ia datangi. “Bagus kan kaus saya, Pak. Harusnya Bapak pakai ini,” kenangnya. “Orang-orang di sekitar sih udah ngeliatin dan ngetawain aku, tapi ya bodo amat. Aku seneng dan merasa kocak pakai kaus gambar ayam jago sambil megang mangkok dengan gambar yang sama,” katanya antusias saat dihubungi Tirto via telepon (30/01).

Setahun belakangan, kaus gambar ayam yang lebih akrab disebut kaus "mangkok mi" viral di Instagram dan jadi produk yang mudah ditemui di situs belanja online semacam Tokopedia atau Bukalapak. Seketika muncul banyak orang yang menggemari ikon si ayam jago. Salah satu penyebabnya ialah ide para pekerja kreatif yang menjadikan ayam berbulu merah itu sebagai inspirasi utama dalam karya.

“Aku pernah mampir ke sebuah kedai makanan di Bandung yang menjadikan gambar mangkok mi ayam sebagai logo kedai. Aku langsung untuk bikin bucket hat dengan gambar persis seperti yang ada di mangkuk mi biar kesannya orang pakai mangkuk bakso kemana-mana. Setelah aku telusuri, ternyata makna ayam jago itu keren juga: lambang kemakmuran dan harapan yang sudah muncul sejak zaman dinasti Ming. Ya produk saya ini jadi semacam doa buat si pemakai agar diberkahi kemakmuran,” kata Sulaiman Said, pemilik Kamengski, toko busana dan aksesori.

Selain topi, Sulaiman juga membuat kemeja, tas selempang, dan sandal jepit bergambar ayam jago. Menurutnya, benda-benda berlogo ayam jago itu masih tergolong produk laris keluaran Kamengski.

Larisnya dagangan Kamengski saat ini bukan sesuatu yang mengherankan. Sulaiman telah berkecimpung dalam bisnis jual beli kaus sejak 2006 saat dirinya masih jadi mahasiswa Desain Komunikasi Visual di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

“Aku ingin karyaku dipakai dan dinikmati setiap orang. Kaos adalah medium yang tepat. Benda ini masuk ke kebutuhan pokok dan kalau ada orang memakai kaus karyaku, aku menganggapnya ‘galeri berjalan’,” kata Sulaiman.



Ia pun memilih desain nyeleneh: plesetan dari produk budaya massa yang namanya sudah fenomenal. Bentuk dan tipografi produk asli tetap dipertahankan, tetapi kata-katanya diubah. Misalnya Supreme jadi Supermie, Stussy jadi Susi Susanti, Careffour jadi Champion, dan Reebok jadi Robeek.

“Dia sanggup bikin parodi dari hal sederhana seperti waktu dia buat desain kaus Megizeth, gabungan Meggy Z dan Megadeath. Kalau aku pakai kaus itu, langsung ditanya orang-orang. Ya ini juga sih yang bikin Kamengski besar. Word of mouth,” kata Ganda Permana, pelanggan kustomer Kamengski yang berprofesi sebagai desainer grafis.

Sejak awal Sulaiman selalu yakin bahwa memodifikasi budaya populer adalah cara tepat untuk menarik perhatian publik. “Karena hal itu yang kita konsumsi sehari-hari,” tulisnya dalam surel yang dikirim kepada Tirto.

Karya Sulaiman yang berangkat dari budaya populer merupakan wujud pengaruh Pop Art hari ini. Istilah Pop Art dipopulerkan oleh kritikus seni Lawrence Alloway pada akhir 1950-an untuk merujuk pada tendensi artistik yang berseberangan dengan realisme dan seni murni. Dua-duanya populer pada dekade tersebut.

Infografik pop art
Infografik pop art. tirto.id/sabit



Dalam Pop Art And The Origins of Post Modernism (2001), Sylvia Harrison mencatat tendensi Pop Art dimulai ketika pada 1958 Alloway mencetuskan gagasan bahwa seni murni dan seni populer—yang berangkat dari budaya massa seperti fotografi serta produk-produk konsumer mulai dari odol hingga komik—bisa berpadu dan menghasilkan karya baru di luar seni “tradisional”.

Namun, istilah Pop Art sendiri muncul dua tahun setelah Richard Hamilton, seniman asal Inggris membuat karya bertajuk Just What Is It That Makes Today's Homes So Different, So Appealing? yang berbentuk kolase gambar-gambar produk populer pada masa itu.

Menurut Guardian, karya Hamilton yang dibuat beberapa tahun setelah perang dunia usai turut menandakan masifnya arus barang-barang mewah dari AS ke Inggris.

“Karakter karya seni ini bersifat populer (dibuat untuk umum), mudah dilupakan, murah, diproduksi massal, ditujukan pada kaum muda, cerkas, seksi, dan serupa gimik,” tutur Hamilton tentang seni pop yang dibuatnya.


Kenyataannya, karya provokatif yang tadinya dibuat agar mudah dilupakan, malah populer dan banyak ditiru sepanjang zaman dengan mempertahankan unsur ‘cerkas’ dan ‘dekat’. Seperti yang dilakukan Alam Taslim lewat Igorsatumangkok, sosok monster mi instan.

“Mie instan itu deadlicious. Sangat enak, bikin bahagia, mematikan, sekaligus sulit dilepaskan dari diri kita,” kata Alam saat mendeskripsikan makanan favoritnya kepada Tirto (29/01).

Pada 2015, laki-laki yang hobi menggambar ini iseng menciptakan Igor, sosok monster mi dengan kepala berhias mangkuk bergambar ayam jago. Sosok itu ia cetak di atas kaus polos. Tak dinyana, publik menyambut positif.

Tapi, Alam tidak pernah niat jadi pedagang. Ia lebih suka berkolaborasi dengan pemilik ruang kreatif dan para artisan. Oleh karena itu, ia merancang program residensi.

“Aku menghubungi pemilik creative space dan menawarkan diri untuk tinggal beberapa waktu dan berkarya di tempat mereka. Karyanya bisa berupa mural, pembuatan desain merchandise, talkshow, atau workshop bagi orang yang hendak belajar desain,” kata laki-laki yang sudah menjalani program residensi di Bandung, Yogyakarta, dan Makassar.

Kini tokoh Igor bisa ditemukan dalam bentuk sampul buku catatan, anting, tas kanvas, scarf, emblem, dan sepatu.

Alam pun berniat untuk menciptakan ‘keluarga Igor’. “Aku ingin Igor seperti (komik) Smurf. Di tiap kota aku bikin tokoh anggota keluarga Igor. Aku mau sosoknya ada di mana-mana bahkan di tempat yang tak terduga seperti ketika aku gambar Igor di pantry sebuah kantor periklanan di Singapura,” lanjut Alam.

Ia bilang, Igor berjalan tanpa direncanakan. Bila hari ini orang asing kerap menyapa Alam dengan nama Igor, itu terjadi lantaran eksperimen spontan yang ia buat. Igor adalah hobi Alam, bukan sumber utama pemasukan. Sosok monster itu ialah tempatnya bersenang-senang, menjual cerita, dan jadi terkenal.

“Yang harus jadi pegangan, orang tidak membeli barang. Mereka lebih suka mengonsumsi dan membeli ‘cerita’. Kita harus datang dengan konsep yang kuat,” tutup Alam.

Baca juga artikel terkait TREN FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf