Nasib Tragis Britney Spears Dieksploitasi Orangtua dan Pengawas

Oleh: Joan Aurelia - 27 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Britney Spears adalah tulang punggung keluarga dan orang-orang yang memanfaatkannya.
tirto.id - Penyanyi Britney Spears telah selesai menjalani program perawatan psikologis intensif selama 30 hari penuh. Bila semua berjalan ‘normal’, ia tak perlu bolak-balik ke rumah sakit dalam waktu singkat untuk memeriksakan kondisi kepada psikiater yang sempat menanganinya.

Keluarnya Spears dari rumah sakit dirayakan oleh sejumlah penggemar yang melakukan demonstrasi #FreeBritney pada Senin 22 April lalu di City Hall, Hollywood, Los Angeles. Para penggemar yang merasa peduli terhadap kondisi sang idola ini tak ingin melihat gerak-gerik Spears terus diatur orang lain.

Bagaimanapun juga, fakta itu harus mereka terima. Sejak 2008, pengadilan Chicago memutuskan Spears harus selalu berada dalam pengawasan (conservatorship). Perempuan itu dianggap tidak sanggup mengelola penghasilan pribadi dan gagal menjaga kesehatan mental. Walhasil, semua tindakan Spears mesti diawasi dan disetujui oleh pengacara Samuel D.Ingham dan sang ayah, Jamie Spears. Pengacara bertugas memastikan legalitas berbagai kontrak kerja Spears, sementara Jamie bertanggungjawab atas kesehatan dan segala aktivitas anaknya.

Spears dianggap perlu diawasi setelah terbukti mengalami gangguan mental, mengonsumsi berbagai jenis obat terlarang dan alkohol berlebihan, serta berulang kali dilarikan ke rumah sakit akibat kondisi psikologis yang memburuk.


Di satu sisi, para penggemar merasa penyanyi berusia 37 tahun itu perlu diberi ruang kebebasan. Mereka yakin idolanya mampu menjalani berbagai peran dalam hidup dengan baik asal diberi kesempatan. Sejumlah penggemar bahkan menganggap para pengawas kerap mengambil keuntungan dari kondisi Spears.

Sebagai gambaran, selama 10 tahun mengawasi Spears, Ingham mendapat penghasilan total $2 juta. Sementara penghasilan Jamie sebagai pengawas ada di angka $130.000 per tahun—belum termasuk biaya penggantian uang sewa kantor pengawas. Ayah Spears juga mengambil keuntungan 1,5% dari pendapatan setiap konser anaknya.

Para pengawas juga bertanggungjawab ‘menjaga privasi’ Spears, termasuk menjaga eksklusivitas dengan memasang tarif tinggi bagi media yang hendak memotret atau mewawancarai Spears. Tarif sekali foto dan wawancara bisa dipatok jutaan dolar.

Sampai saat ini, Spears masih punya nilai jual yang cukup tinggi. Konser yang seharusnya diadakan tahun ini diperkirakan akan menghasilkan pendapatan sekitar $500.000. Menurut Huffington Post jumlah tersebut masih lebih tinggi dibanding dengan konser penyanyi Celine Dion.

Prediksi itu hanya sekadar angan. Awal tahun ini Spears mengumumkan pembatalan konser karena membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri dan mengurus James yang sakit keras. Setelah kabar tersebut beredar, Spears jarang tampil di media massa . Penggemar pun curiga. Mereka berspekulasi Spears sedang menjalani perawatan psikologis.

Kecurigaan penggemar tidak sepenuhnya keliru. Pada awal April 2019, sejumlah kerabat dekat Spears merasa lega karena Spears bersedia menjalani program perawatan mental. Media-media kemudian mengabarkan bahwa Spears terserang depresi karena sang ayah mengidap penyakit kronis.

Kabar lain muncul dari komedian Tess Barker dan Barbara Gray, pembawa acara podcast berjudul Britney Gram. Dalam salah satu episodenya, mereka menghadirkan narasumber rahasia yang menyebut bahwa Spears gagal konser karena ketahuan berhenti mengonsumsi obat-obatan selama gladi bersih konser. Kelakukan Spears inilah yang konon bikin sang ayah membatalkan acara.

Andaikata benar beban pikiran Spears bertambah, hal terbesar yang mungkin jadi penyebabnya bukan penyakit sang ayah melainkan kegagalan bertindak sesuai kemauan pribadi--hal yang tak ia peroleh sejak kanak-kanak.


Spears lahir dari ayah alkoholik yang bekerja sebagai kontraktor dan ibu yang berprofesi sebagai guru. Keluarga Spears tergolong keluarga kelas menengah yang hidup pas-pasan di AS. Kondisi semakin sulit ketika Jamie menyatakan usahanya bangkrut sehingga Lynn, ibu Spears, menjadikan sang anak ‘mesin uang’ dengan mengikutsertakannya ke berbagai audisi program televisi. Sejak itu jalan Spears untuk jadi selebritas terbuka.

Dalam "The Tragedy of Britney Spears" (2008) jurnalis Rolling Stone, Vanessa Grigoriardis menyebutkan bahwa pada usia tiga tahun Spears tergabung dalam koor, kelas tari, dan kelas gimnastik. Pada usia enam tahun, ia memenangkan Miss Talent Central States. Pada usia delapan, Lynn membawa Spears ke Atlanta untuk audisi Mickey Mouse Club, sebuah acara yang jadi debut Spears sebagai bintang televisi. Pada Januari 1999, ia melansir Baby One More Time dan mulai jadi idola. Dua album pertamanya terjual lebih dari 39 juta kopi.

Lewat The Exile of Britney Spears (2011), Christopher R. Smit menyatakan penghasilan Spears sepanjang 1999-2008 bisa mencapai angka $120 juta per tahun. Pendapatan yang bisa didapat dari tur sekitar $150 juta. Jika dihitung-hitung, penghasilan Spears per bulan sekitar $737.000.

“Seiring berjalannya waktu, Spears berangsur-angsur kehilangan rasa percaya diri. Setiap selesai tampil di depan belasan ribu penonton, ia menangis dan merasa dirinya buruk. Saat itu orang-orang mulai menawarinya untuk minum dan memakai obat terlarang. Ia menyambut tawaran-tawaran itu karena menurutnya hal itu bisa membuat dirinya senang. Jika dia tumbuh menjadi seorang yang menyukai pesta, narkoba, dan alkohol, itu karena pihak manajemennya membuat dia berlaku demikian,” kata Darrin Henson, koreografer video klip Spears.


Infografik Free Britney Spears
undefined


Hilangnya rasa percaya diri Spears terjadi sebelum usianya menginjak kepala dua. Kala itu sosok yang membuatnya tenang adalah mantan kekasihnya, Justin Timberlake. Sayang, hubungan mereka kandas karena Spears ketahuan tidur dengan kawan Timberlake. Kondisi Spears waktu itu makin memburuk karena peristiwa putus cinta berdekatan dengan perceraian orangtuanya.

Spears pun merasa lelah dan berusaha mencari cinta dari pria lain untuk menyembuhkan luka hati.

“Tidak ada yang mendekati Spears dan berkata ‘tenangkan dirimu dan lakukan konseling,” kata mantan asisten Spears.

Walhasil, Spears mencari pria di mana ia berada, termasuk di klub malam. Ia berkencan, menikah, bercerai, mencari lagi, begitu seterusnya. Semua itu ia lakukan dalam kondisi mental yang kurang stabil. Orangtua Spears sempat lepas tangan dan menikmati uang hasil jerih payah anaknya. Karena itu pula Spears tidak berniat untuk kembali dekat dengan orangtua dan saudari kandungnya.

Situasi memburuk kala ia terserang depresi pasca-melahirkan. Beberapa tahun kemudian ia semakin terpuruk setelah kehilangan hak asuh kedua anaknya pasca-perceriaian dengan sang suami, Kevin Federline.

Sejak itu mulai melakukan hal-hal gila seperti menyetir mobil dua hari non-stop, tidur di parkiran, sampai menggunduli kepala.


Tapi Spears selalu berusaha untuk kembali eksis sebagai penyanyi. Dan orang tetap saja menganggap Spears sebagai bintang beken meski ia sudah tidak begitu produktif mengeluarkan lagu.

Bagi para pelaku bisnis, konflik hidup Spears adalah dagangan.

Tahun lalu, label fesyen premium Kenzo menjadikan Spears model utama dan brand ambassador. Direktur Kreatif Kenzo, Humberto Leon, menganggap Spears sebagai sosok tepat untuk mewakili tema nostalgia 1990-an yang ia angkat dalam sebuah koleksi busana. Di sisi lain, tak sedikit yang melihat Spears sebagai selebritas berpenampilan buruk. 'Nilai jual' Spears bahkan membuat Leon tak peduli akan risiko perubahan citra Kenzo di mata konsumen.

Spears tak pernah menaruh kepedulian besar terhadap uang yang ia hasilkan. Ia tak mau terkenal dan hanya ingin jadi seorang ibu. Tapi sampai saat ini perannya sebagai ibu masih dibatasi. Spears tak berkuasa atas semua uang yang ia hasilkan. Untuk membeli secangkir kopi Starbucks pun, ia harus lapor ke pengawasnya.

“Selama ia masih bisa menghasilkan banyak uang dan selama para pengawas ini dibayar maka kesempatan Spears untuk mengakhiri siklus ini terbilang kecil,” kata Elaine Renoire, Presiden National Assosiation to Stop Guardian Abuse kepada New York Times.

Baca juga artikel terkait PENYANYI atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf