Mereka yang Bersemayam di Ereveld Pandu dan Leuwigajah

Kontributor: Hevi Riyanto, tirto.id - 23 Nov 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Kisah dari dua ereveld (makam kehormatan) di Bandung Raya sebagai pengingat agar masa kelam perang tak terulang lagi.
tirto.id - Di Bandung terdapat sejumlah tempat yang berkaitan erat dengan sejarah, salah satunya adalah Ereveld Pandu. Tempat pemakaman para prajurit dan masyarakat sipil Hindia Belanda ini berlokasi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pandu, ujung Jalan Pandu, Bandung.

Ereveld merupakan permakaman yang dibuat oleh Kerajaan Belanda untuk menghormati jasa terutama mereka yang gugur di seputar Perang Dunia Kedua. Dalam terjemahan di brosur Nederlandse Oorlogsgraven in Zuidoost-Azie, kata ereveld diterjemahkan menjadi makam kehormatan.

Dalam pidatonya pada pembukaan Ereveld Pandu yang dikutip oleh koran De Locomotief, Jenderal Simon Hendrik Spoor (1902-1949) menjelaskan bahwa ereveld disediakan untuk militer yang meninggal sejak 1942 dan sipil yang meninggal antara tahun 1942-1945. Jasad Spoor sendiri terbaring di Ereveld Menteng Pulo, Jakarta.

Ereveld Pandu merupakan salah satu dari tujuh Ereveld yang tersebar di beberapa daerah di Pulau Jawa. Selain di Bandung, ada Ereveld Menteng Pulo dan Ereveld Ancol di Jakarta, Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi di Semarang, Ereveld Kembang Kuning di Surabaya, dan Ereveld Leuwigajah di Cimahi.

Sebelum 1960-an, Ereveld di Indonesia tersebar di 22 tempat. Jumlah ini berkurang setelah Pemerintah Indonesia memohon supaya jumlah pemakaman ini dikurangi dan terpusat di Pulau Jawa saja.

Di Bandung Raya, terdapat dua kompleks makam kehormatan yakni Leuwigajah dan Pandu. Ereveld Leuwigajah berada di dalam kompleks permakaman Kristen Kerkhof yang terletak di Jalan Kerkhof. Ereveld yang secara administratif berada di Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi ini, mempunyai 5181 makam dan menjadi ereveld dengan jumlah makam terbanyak di Pulau Jawa.


Yang Bersemayam di Ereveld Leuwigajah

Kerkhof Leuwigajah merupakan pindahan dari permakaman lama di kaki Gunung Bohong. Kuburan di Kerkhof lama sering rusak dan kerap terjadi penurunan tanah karena Gunung Bohong mempunyai kandungan air yang cukup tinggi.

Kondisi ini membuat pemerintah Kabupaten Bandung saat mengambil keputusan untuk memindahkan kompleks makam ke arah selatan menjauhi Gunung Bohong, tepatnya ke lahan di sisi jalan yang menghubungkan Leuwigajah dan Batujajar, jalan yang sekarang bernama Jalan Kerkhof.

Salah satu tokoh yang dimakamkan di Ereveld Leuwigajah adalah Thomas E Karsten. Pria kelahiran 1884 ini merupakan arsitek dan perancang beberapa kota di Hindia Belanda, termasuk Kota Bandung.

Salah satu karya monumental di Bandung adalah Jembatan Viaduct di Suniaraja. Jembatan kereta api ini merupakan bagian dari rencana Karsten untuk membuat boulevard antara Jalan Suniaraja ke Jalan Raya Pos, menyusuri sungai Ci Kapundung.

Jika kita berkunjung ke Ereveld Leuwigajah, kita akan menemukan sebuah monumen yang dibuat untuk mengenang tenggelamnya kapal laut Junyo Maru, sebuah kapal kargo Jepang yang membawa ribuan pekerja paksa dan tenggelam tahun 1944. Salah satu korban dalam peristiwa tersebut adalah Alexander Herman Hermanus Kawilarang, ayah dari pendiri Kopassus, Alexander Evert Kawilarang.

Selain Alexander Herman Hermanus Kawilarang, ada juga pemain sepakbola Hindia Belanda yang berlaga di Piala Dunia 1938, Frans Meeng. Keduanya tenggelam dalam perjalanan menuju Padang di Pantai Barat Sumatra.

Menurut Petrik Matanasi dalam "Torpedo Menenggelamkan Ribuan Tawanan Perang Kapal Junyo Maru", kapal ini mengangkut 2.300 tahanan perang Sekutu dan 4.200 orang buruh paksa Indonesia. Dari ribuan penumpang itu, hanya 880 penumpang yang selamat.

Usia Ereveld Leuwigajah lebih muda jika dibanding dengan Ereveld Pandu. Ereveld Leuwigajah diresmikan pada 20 Desember 1949. Sementara Ereveld Pandu, dibuka secara resmi tanggal 7 Maret 1948, bersamaan dengan pemindahan sekitar 14 jasad korban pertempuran pasukan Hindia Belanda dengan Jepang di Ciater dan Subang tahun 1942.

Dalam sambutannya Jenderal Spoor menyebut, tanggal 7 Maret merupakan hari bersejarah karena berdekatan dengan hari menyerahnya Hindia Belanda kepada Jepang enam tahun sebelumnya di Kalijati.

Sebelum diresmikan, Ereveld Pandu sudah menerima pindahan jasad-jasad korban perang dari tempat lain. Misalnya di akhir tahun 1947, koran Algemeen Indischdagblad memberitakan pemindahan sekitar 80 jasad korban interniran dari permakaman Sukamiskin.


Api Kehormatan di Ereveld Pandu

Ereveld Pandu berjarak sekitar 200 meter dari pintu masuk TPU Pandu. Di depan kompleks permakaman, kita akan disambut sebuah gerbang dengan lambang singa sebagai lambang resmi Kerajaan Belanda.

Selain deretan nisan, terdapat pula empat monumen, yakni monumen KNIL, monumen Peringatan Kecelakaan Pesawat di Padalarang, monumen Pertempuran Ciater, dan monumen Orang yang Tidak Dikenal.

Dalam brosur Nederlandse Oorlogsgraven in Zuidoost-Azie disebutkan, Monumen Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) di Ereveld Pandu menunjukkan hubungan spesial antara Bandung dan KNIL.

Bagi Hindia Belanda, Bandung merupakan pusat pertahanan tempat kamp pasukan militer, pusat pergudangan, pabrik artileri dan mesiu, sampai kantor Departemen Peperangan (Departement Van Oorlog/DVO) dan kediaman panglima tertinggi KNIL atau Paleis van de Legercommandant didirikan.

Selain itu, Bandung juga menjadi tempat bagi Akademi Militer Kerajaan (Koninklijk Militaire Academi/KMA) sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan perwira di tahun 1940.

Sementara monumen peringatan Kecelakaan Pesawat di Padalarang merupakan sebuah monumen untuk memperingati kecelakaan pesawat yang jatuh di antara Cilame dan Sasaksaat yang terjadi pada 10 Februari 1948.

Monumen yang diresmikan pada 21 Maret 1950 ini terdiri dari prasasti peringatan dan lima kolom yang di atasnya terukir lima nama korban pesawat, yang terdiri dari 4 pemusik dan seorang sersan KNIL.

Sebanyak 19 penumpang terdiri dari 4 awak penerbang, 11 tentara, dan 4 sipil tewas. Pesawat militer ini jatuh 20 menit setelah lepas landas dari Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara) saat menuju Batavia. Kecelakaan pesawat tersebut diduga disebabkan oleh kerusakan mesin.

Sebanyak lima belas penumpang dimakamkan tanggal 12 Februari 1948 di permakaman Parkweg, di lahan yang sekarang menjadi kompleks Universitas Islam Bandung (UNISBA) Jalan Tamansari.

Empat orang di antaranya merupakan pemusik yang dipimpin Johan Gutlich, yakni Elisabeth Everts, Rudi Broer Van Dijk, Francina Gerrese, dan Gutlich sendiri. Di waktu yang sama, empat anggota militer dimakamkan di Ereveld Cililitan, Jakarta.

Pada tahun 1950, jasad keempat pemusik dan 11 prajurit tersebut dipindahkan dari Parkweg ke Ereveld Pandu. Dalam upacara pemakaman dan peresmian monumen, tiga pesawat Mustang dari Pangkalan Udara Andir melintas di atas permakaman untuk melakukan penghormatan.


Infografik Mozaik Ereveld
Infografik Mozaik Ereveld. tirto.id/Ecun


Di bagian lain Ereveld terdapat nama-nama yang terukir pada prasasti-prasasti yang dibuat setengah lingkaran dengan tiang bendera di tengahnya. Itulah monumen pertempuran Ciater yang dibuat untuk mengenang para serdadu Hindia Belanda yang berusaha menahan serbuan tentara Jepang di Subang tahun 1942.

Serbuan Jepang di pantai utara Jawa Barat menjadi penentu berakhirnya kekuasaan Belanda di Hindia Belanda. Setelah berhasil merebut Kalijati dan Subang, pasukan Jepang berhasil merangsek masuk ke Lembang pada 7 Maret 1942. Dalam keadaan terdesak, petinggi sipil dan militer Hindia Belanda akhirnya menyerah kepada Jepang di Kalijati, sehari setelahnya.

Satu lagi monumen di Eerevels Pandu adalah monumen umum yang dibuat di bagian depan. Monumen ini terdiri dari satu bangunan berwarna putih dengan delapan kolom sebagai penyangga, dan pelataran dengan dua replika sarkofagus yang didedikasikan untuk prajurit dan masyarakat sipil yang tidak dikenal.

Monumen ini diresmikan pada 4 Mei 1949 yang ditandai dengan penyalaan api kehormatan dan dimeriahkan oleh penaburan bunga dari udara oleh pesawat pembom B25. Pengibaran bendera Belanda dan lantunan nyanyian lagu kebangsaan Belanda, Indonesia, dan Cina menutup prosesi peresmian monumen saat itu.

Seperti ereveld-ereveld lainnya, Ereveld Pandu terlihat cantik, terurus, dan tertata dengan rapih. Namun di baliknya, ada cerita sejarah yang kelam mengenai kekejaman perang di masa lalu. Perang yang banyak menelan korban, siapapun itu, prajurit atau sipil biasa, dikenal atau bahkan tidak dikenal sama sekali. Sejarah kelam yang harus diingat supaya tidak terulang kembali.

“Pemakaman kehormatan Belanda ini seperti pengingat, jangan sampai terjadi perang lagi. Kalau sampai terjadi lagi, ya, inilah korban-korbannya,” tutur Dicky Purwadi, Pengawas Ereveld Pandu pada 7 Maret 2022 seperti dikutip dari bandung.go.id.

Baca juga artikel terkait PEMAKAMAN BELANDA atau tulisan menarik lainnya Hevi Riyanto
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Hevi Riyanto
Penulis: Hevi Riyanto
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight