Mentan Klaim Nilai Tukar Petani Naik Signifikan Selama Satu Tahun

Oleh: Hendra Friana - 11 Juni 2019
Dibaca Normal 1 menit
Mentan Amran Sulaiman mengklaim Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) naik secara signifikan dalam satu tahun terakhir.
tirto.id - Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebutkan, kenaikan nilai tukar petani (NTP) serta nilai tukar usaha petani (NTUP) secara nasional sebagai salah satu capaian yang patut disyukuri.

Ia bahkan menyebut bahwa indikator kesejahteraan petani tersebut meningkat cukup signifikan selama satu tahun terakhir.

"Keberhasilan Kementan bukan hanya dalam konteks pengadaan pangan yang kita lihat selama ini, terutama menjelang puasa, selama puasa dan setelah puasa. Kemudian secara kuantitatif NTP dan NTUP naik secara signifikan," kata Amran saat acara halal bihalal di kantor Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (10/6/2019).

Data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) memang menunjukkan bahwa NTP dan NTUP nasional pada Mei 2019 mengalami kenaikan. Dibandingkan April 2019, bulan lalu NTP naik 0,38 persen menjadi 102,61. Sementara NTUP maksimal mengalami kenaikan lebih besar yakni 0,73 persen ke angka 111,94.

Angka itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama dalam 2 tahun terakhir, yakni 2017 dan 2018. Pada Mei 2107, NTP nasional tercatat pada angka 100,01 sementara pada tahun selanjutnya naik ke angka 101,99.

Kenaikan NTP bulan Mei 2019 sendiri, menurut data BPS, dikarenakan indeks harga yang diterima petani (IT) naik sebesar 0,86 persen, lebih besar ketimbang kenaikan indeks harga yang dibayar petani (IB) sebesar 0,48 persen.

Kenaikan itu dipengaruhi oleh meningkatnya NTP di empat sub sektor pertanian seperti Tanaman Holtikultura (1,42 persen), tanaman perkebunan rakyat (0,43 persen), peternakan (0,83 persen) serta perikanan (0,37 persen).

Sayangnya, NTP untuk sub sektor tanaman pangan masih tercatat menurun sebesar 0,55 persen pada Mei lalu. Penurunan itu, menurut kepala BPS Suharyanto, berkorelasi pada rendahnya harga beras di pasar selama bulan Ramadan lalu.

Berdasarkan catatan BPS, harga beras bahkan menyumbang deflasi sebesar 0,02 persen pada bulan Mei. Hal ini juga tak lepas dari faktor musiman setelah panen raya yang menyebabkan stok beras masih cukup banyak.

"Harga padi turun karena harga gabah masih rendah jadi di satu sisi kita harus pikirkan panen raya harganya tidak jatuh untuk seimbang menguntungkan dua pihak," ucap Suhariyanto Senin (10/6/219) kemarin.

Data BPS menunjukkan, harga beras jenis premium pada Mei 2019;mencapai Rp9.462 per kg atau turun 0,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara harga beras jenis medium senilai Rp9.143 per kg atau turun 0,02 persen.

Sedangkan harga beras jenis rendah pada Mei 2019 tercatat senilai Rp8.953 per kg atau naik 0,19 persen dibandingkan bulan sebelumnya.


Baca juga artikel terkait PERTANIAN atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
DarkLight