Mengenal ALS, Penyakit yang Diderita Stephen Hillenburg dan Hawking

Oleh: Febriansyah - 28 November 2018
Dibaca Normal 1 menit
Stephen Hillenburg dan Stephen Hawking sama-sama menderita ALS.
tirto.id - Stephen Hillenburg, pencipta Spongebob SquarePants meninggal dunia, Senin (26/11/2018). Penyebab meninggalnya Hillenburg karena penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Penyakit serupa juga, yang beberapa bulan lalu, menghentikan petualangan fisikawan mashyur dunia, Stephen Hawking.

Stephen Hillenburg menderita ALS sejak Mei 2017 dan Hawking menderita penyakit motorik itu sejak berusia 21 tahun.

Seperti diberitakan oleh The Guardian, Hawking diketahui menderita penyakit ini sejak tahun 1963. Di Eropa, ALS kerap disebut sebagai penyakit charcot, sementara di Amerika Serikat, lou gehrig. Meski mengalami kelumpuhan karena ALS, karier ilmiah Hawking terus berlanjut selama lebih dari empat puluh tahun.

Menurut laporan ALS Association, harapan hidup penderita ALS berbeda-beda. Misalnya Hawking bisa bertahan 40 tahun sedangkan Hillenburg hanya kurang dari dua tahun. Sekitar dua puluh persen orang dengan ALS bisa bertahan hidup hingga lima tahun, 10 persen bertahan hidup selama sepuluh tahun dan lima persen hidup 20 tahun atau, lebih salah satunya Stephen Hawking. Belum ada penjelasan lengkap terkait faktor penyebab seseorang bisa bertahan hingga lebih dari 20 tahun.

Siapa sebenarnya yang bisa terserang penyakit mematikan macam ALS?

ALS sendiri termasuk dalam kelompok penyakit motor neuron disease (MND). Penyakit ini menyerang sel-sel saraf (neuron) pengendali gerak otot. ALS menyebabkan otot-otot ini mengalami degenerasi terlalu cepat dan mati.

Ketika seseorang terserang ALS, maka akan terjadi degenerasi yang progresif pada sel-sel saraf motor tersebut. Sehingga timbul gejala yang berupa pelemahan otot yang kemudian mengakibatkan kelumpuhan tangan, kaki, gangguan menelan, berbicara dan bernapas.

Dilansir dari Dilansir dari ALS Association, hingga saat ini belum ada obat untuk ALS, dan penelitian masih terus dilakukan untuk menemukan obatnya.

Hingga saat ini, penderita ALS 60 persen adalah laki-laki, 93 persen berasal dari ras Kaukasia. ALS biasanya terjadi antara usia 40 dan 60 tahun. Kebanyakan orang mendapatkan diagnosis pada usia pertengahan 50-an. Tapi bisa dialami lebih awal, meskipun itu jarang. Sebagian kecil kasus ALS diturunkan dari keluarga.

Meski demikian, ALS bisa menyerang tanpa memandang batas-batas rasial, etnis atau sosioekonomi dan dapat mempengaruhi siapa pun.

Terdapat beberapa studi penelitian menyelidiki kemungkinan faktor-faktor risiko yang mungkin terkait dengan ALS. Masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk menentukan secara pasti apa genetika dan / atau faktor lingkungan berkontribusi pada pengembangan ALS.

Namun diketahui bahwa veteran militer, terutama yang dikerahkan selama Perang Teluk, kira-kira dua kali lebih mungkin mengembangkan ALS.

Sedangkan dalam laporan Webmd, mengungkapkan penyakit ini bisa dipicu oleh lingkungan, meskipun hal ini masih diperdebatkan. Pemicu itu antara lain dari kegiatan merokok, terkena racun, Veteran perang, berbagai aktivitas yang intern, pekerjaan dan lokasi tempat tinggal.

“Merokok diyakini menjadi satu-satunya faktor yang mungkin yang dapat meningkatkan peluang Anda untuk ALS,” jelas Webmd.

Kasus ALS yang dilaporkan banyak terjadi di pulau Pasifik Guam dan di Semenanjung Kii di Jepang. Wilayah itu memiliki kemungkinan 50 hingga 100 kali lebih tinggi terkena ALS dibanding wilayah lainnya di dunia. Kelompok semacam itu juga telah dilaporkan di South Dakota dan Italia.

ALS pertama kali ditemukan pada tahun 1869 oleh ahli saraf Perancis Jean-Martin Charcot, tetapi baru pada tahun 1939 Lou Gehrig membawa perhatian nasional dan internasional terhadap penyakit tersebut.

Pada tahun 2017, FDA menyetujui Radicava (edaravone), setelah uji klinis enam minggu di Jepang, obat itu ditemukan untuk memperlambat penurunan kemampuan fisik pada pasien.


Baca juga artikel terkait STEPHEN HILLENBURG atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Febriansyah
Editor: Yantina Debora
DarkLight