Menelanjangi Jojo dan Kehebohan Soal "Rahim Anget"

Eskpresi Jonathan Christie saat berhasil menang pada set pertama pada laga final bulutangkis beregu putra Asian Games 2018 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (22/8) malam. Jonatan Christie kalah dari Chen Long dengan skor 21-19, 16-21, dan 18-21. tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Faisal Irfani - 29 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Badan atletis adalah hal lumrah bagi atlet. Namun, apakah atlet hanya jadi objektifikasi dengan perut kotak-kotaknya, tanpa melihat performa dan prestasinya di lapangan.
tirto.id - Jonatan Christie, atau biasa akrab disapa Jojo, jadi primadona Asian Games 2018. Selain berhasil merebut medali emas cabang bulutangkis nomor tunggal putra di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8/2018), Jojo juga mampu merebut hati penonton lewat aksi buka bajunya yang memperlihatkan lekuk tubuh atletis. Belakangan ada istilah "rahim anget" di media sosial sebagai fenomena objektifikasi.

Ihwal kehebohan itu terekam jelas di laga final. Kala jeda gim pertama, ribuan penonton di Istora dibikin histeris berkat aksi Jojo ganti baju. "Pemandangan” itu membuat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, dan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, yang turut menyaksikan laga juga ikut heboh. Saat Jojo lepas baju, Retno mencolek Puan dan mereka saling tertawa.

Aksi buka baju ini tak cuma sekali dilakukan Jojo. Di babak semifinal, Jojo pun membuka baju bagian dari selebrasi. Ia lalu melempar bajunya yang dipakai saat pertandingan ke arah penonton. Foto yang ditangkap dengan apik oleh pewarta foto Antara, Puspa Perwitasari, itu lantas menjadi viral di media sosial.

Produk Budaya

Bentuk tubuh atletis yang tersusun atas serat-serat otot yang kuat dan perut rata kotak-kotak seperti yang dimiliki Jojo adalah gambaran umum dalam dunia olahraga. Ia dibentuk oleh proses panjang yang melibatkan latihan keras, asupan nutrisi yang cukup, hingga tuntutan—atau mungkin tekanan—untuk tampil prima.

Namun, yang tak banyak disadari: faktor budaya juga turut mempengaruhi bagaimana para atlet membikin tubuh yang atletis, demikian catat Charlotte A. Jirousek dalam “Superstars, Superheroes and the Male Body Image: The Visual Implications of Football Uniforms” (1996) yang terbit di Journal of American Culture.

Faktor ini dapat disaksikan di AS pada dekade 1950-an. Kala itu, televisi mulai menyiarkan pertandingan football. Hadirnya televisi berarti dua hal: membikin football makin populer dan mendorong para pemain di dalamnya bertingkah seperti bintang—karena merasa diperhatikan banyak orang. Beberapa pemain yang sudah merasakan efek televisi antara lain Johnny Unitas, Frank Gifford, Alex Karras, sampai Joe Namath, yang pada era 1960-an dikenal dengan gaya hidup jetset.

Demi mendapatkan atensi yang positif dari publik, para atlet football mulai mempersolek dirinya. Salah satu yang dilakukan adalah dengan membentuk badan atletis. Semakin atletis badan atlet, maka semakin tinggi pula potensi jadi terkenal dan ditangkap di layar televisi.


Inspirasi mereka bukan lagi model-model manusia Yunani kuno yang acapkali dicitrakan kekar dan berotot, melainkan pahlawan super keluaran komik DC macam Batman dan Superman. Dalam komiknya, yang rilis pada akhir 1930-an, Batman dan Superman digambarkan punya tubuh yang atletis. Faktor ini bersanding dengan kelebihan mereka lainnya seperti keberanian luar biasa sampai superioritas moral. Kombinasi tersebut lantas menempatkan Batman dan Superman jadi idola kalangan pria.

Dorongan ingin punya tubuh yang bagus ikut mengerek eksistensi body building yang sebelumnya tidak punya tempat khusus di industri olahraga mainstream. Di California misal, sebuah gym yang didirikan Vic Tanny dikunjungi banyak orang dan jadi tenar. Gym milik Vic menawarkan program kebugaran dan latihan angkat beban untuk amatir. Sementara Sports Illustrated, majalah olahraga, juga tak ketinggalan berkenan meliput acara-acara besar body building seperti kompetisi Mr. Olympia. Di saat bersamaan, iklan-iklan bertuliskan “mau punya badan seperti Superman?” kian mudah dijumpai di media cetak.

Keadaan ini kemudian melahirkan banyak “Superman” baru di kalangan masyarakat. Orang-orang bisa punya badan atletis seperti yang dimiliki Superman dengan bermodalkan angkat beban di gym-gym terdekat. Standar tampilan mempesona bagi pria juga tak lagi dipersepsikan dengan punya “wajah tampan” melainkan “tubuh berotot.”

Jadi Panas karena Beckham

Keuntungan lain punya tubuh atletis adalah bisa laku besar di pasaran, punya banyak fans, dan wajahnya menghiasi baliho maupun televisi dengan jadi bintang iklan produk ternama. David Beckham paham betul bagaimana menjalani peran ini.

Di luar perdebatan mengenai kemampuannya dalam mengolah bola, Beckham merupakan contoh konkret atlet yang bisa memaksimalkan citra fisik—wajah rupawan, tubuh bagus—yang melekat dalam dirinya dengan baik. Sejak merumput di Manchester United (MU) hingga masa senjakalanya tiba, Beckham terus laris jadi incaran korporasi brand besar, yang membuat jalan hidupnya lebih cocok disebut bak selebritas yang penuh gemerlap dunia dibanding pesepakbola.

Chia-Chen Yu lewat “Athlete Endorsement in the International Sports Industry: A Case Study of David Beckham” yang dipublikasikan International Journal of Sports Marketing and Sponsorship membeberkan jejak popularitas Beckham dari masa ke masa. Misalnya, nama Beckham disebut sebanyak 18 ribu kali oleh media-media Inggris sepanjang 2002. Ia punya 200 fans resmi dengan total anggota sebanyak 53 juta di seluruh dunia. Sosoknya dijadikan inspirasi utama dalam film macam Bend it like Beckham yang diperankan Keira Knightley.






Beda Zaman, Beda Wujud

Di sepakbola, kondisinya cukup unik. Terdapat perbedaan cukup mencolok mengenai bagaimana atlet memandang citra dirinya pada zaman dulu dan sekarang. Di zaman dulu, konsep pesepakbola dengan “tubuh atletis” hampir tidak jadi prioritas. Pesepakbola zaman dulu, cenderung lebih luwes.

Contohnya banyak. Pada era 1980-an, nama Socrates jadi buah bibir. Ia dikenal sebagai pesepakbola cerdas di lapangan. Gaya permainannya begitu flamboyan yang menjadikan Brasil dan konsep jogo bonito-nya (keindahan sepakbola) nampak paripurna. Di luar urusan bal-balan, Socrates lekat dengan aktivisme politik. Ia tak segan mengkritik rezim pemerintahan yang dianggapnya sembrono dan amburadul.

Namun, yang menarik lagi, kendati ia memegang status pesepakbola, Socrates juga dikenal sebagai perokok aktif. The Guardian melaporkan, dalam sehari, Socrates bisa menghabiskan setidaknya sampai dua bungkus rokok. Ia seolah tak peduli dengan anggapan “pesepakbola harus jaga kondisi badan.” Bagi Socrates, merokok merupakan kenikmatan level duniawi yang tiada tara.

Di Inggris, pemandangan serupa pun juga tersaji. Pelakunya: Matthew Le Tissier, gelandang serang Southampton yang selama kariernya mencetak 100 gol dalam 270 pertandingan Liga Primer Inggris. Bagi Le Tissier, latihan kebugaran adalah aktivitas yang membosankan dan ia lebih suka mengganyang sosis, telur ceplok McMuffins, burger Big Mac, serta bersenang-senang minum di pub bersama penggemar Southampton. Menurutnya, sepakbola tidak harus membuat kesenangan dalam hidup mati begitu saja.


Apakah kemampuan Le Tissier ambyar di lapangan? Jawabannya tidak. “Keterampilan Le Tissier di luar kelaziman. Ia sanggup melewati tujuh atau delapan pemain dengan santai, seperti berjalan dan numpang lewat saja,” ujar Xavi, mantan gelandang FC Barcelona dalam satu kesempatan.

Tentu apa yang dilakukan Socrates dan Le Tissier jarang dijumpai di era modern di mana menjaga badan adalah kunci kesuksesan para atlet. Lihat saja bagaimana Cristiano Ronaldo menjaga pola makannya dengan menu dada ayam, putih telur, kacang polong, dan begitu seterusnya.

Kobe Bryant, pebasket AS, yang rutin latihan sejak pukul lima pagi dan bertahan di tempat yang sama selama lima jam kemudian untuk melakukan 800 kali jump shot sebelum akhirnya bergabung bersama rekan lainnya dalam sesi resmi. Bagi Ronaldo dan Kobe, bentuk tubuh adalah investasi. Ia bisa membantu meningkatkan performa dan juga mendatangkan banyak uang lewat kontrak iklan.

Namun, bukan berarti bentuk tubuh yang atletis selalu mendatangkan manfaat. Ia rentan diobjektifikasi media dan orang-orang kebanyakan. Atlet lebih banyak dibicarakan karena bentuk tubuhnya, alih-alih prestasi atau capaian yang ia dapatkan. Gambar-gambar atlet dengan telanjang dada dan memperlihatkan perut kotak-kotak justru lebih laris dibahas dibanding hal-hal relevan lainnya, seperti bagaimana proses atlet menempa diri.

Pertanyaannya: akan berakhir seperti apa nasib Jojo berikutnya?

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 2018 atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Suhendra
DarkLight