Memutus Generasi-generasi Kerdil

Ilustrasi Sejumlah anak bermain dan bersantai di taman bermain yang terdapat di bantaran kanal barat, di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat. [Tirto/Andrey Gromico]
Oleh: Agung DH - 14 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Satu dari tiga anak Indonesia mengalami kekerdilan (stunting) akibat kekurangan gizi kronis. Jumlah penderitanya mencapai 8 juta anak pada 2013, dan ada kecenderungan peningkatan dari tahun per tahun. Ini ancaman serius untuk generasi Indonesia ke depan.
tirto.id - Kekerdilan atau stunting merupakan kondisi anak yang mengalami “gagal tumbuh” dibanding anak lain pada rentang usia sama. Kondisi ini disebabkan oleh kekurangan gizi kronis selama anak masih di dalam kandungan sampai usia dua tahun.

Gejala paling mudah dikenali, tinggi badan anak kurang dari 85 cm pada usia dua tahun. Gejala ini bila tidak ditangani maka akan berakibat fatal. Anak akan mengalami kekerdilan permanen dan kehilangan kemampuan pertumbuhan mereka sampai dewasa.

Pada skala makro, menurut World Health Organization (WHO), penyebab stunting sangat kompleks karena melibatkan berbagai sektor di sebuah negara. Selain itu, stunting juga bisa menjadi indikator dari pertumbuhan ekonomi politik, kesehatan, pendidikan, kebudayaan, pertanian dan sistem pangan, serta kondisi lingkungan hidup di sebuah negara.

Kondisi itu akan berpengaruh terhadap kurangnya perawatan rumah tangga, makanan pendamping ASI yang kurang memadai, pemberian ASI kurang maksimal, dan terjadinya infeksi terhadap anak di sebuah negara. Pada akhirnya faktor-faktor inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya stunting.

Akibat stunting bisa sangat kompleks. Dalam jangka pendek, stunting berdampak pada menurunnya kesehatan anak, menurunnya tingkat kognitif, motorik, bahasa pada anak, dan meningkatnya anggaran kesehatan bagi keluarga maupun negara. Paling parah, stunting juga bisa berakibat pada kematian dini. Pada jangka panjang, stunting berdampak pada penurunan kualitas remaja, kesehatan reproduksi, kecerdasan serta produktivitas kerja.

Artinya, dalam konteks yang lebih luas, stunting berdampak pada menurunnya kualitas generasi di masa mendatang.

Oleh karena itu WHO, dan juga UNICEF, menilai stunting sebagai persoalan serius di tingkat global. Sebagai salah satu solusi untuk menangani masalah itu, pada 2012 silam, Resolusi Majelis Kesehatan Dunia merencanakan implementasi komprehensif untuk mendukung peningkatan kesehatan ibu, bayi dan nutrisi anak guna mencapai target peningkatan nutrisi di tingkat global pada 2025. Target pertama yang dipatok WHO mengurangi 40 persen jumlah stunting pada anak usia kurang dari lima tahun di dunia.

Langkah ini setidaknya sudah menunjukkan perkembangan signifikan. Menurut laporan UNICEF, pada 1990 silam jumlah anak yang mengalami stunting di dunia mencapai 225 juta anak dan pada 2014 angka ini memang berhasil ditekan menjadi 159 juta anak. Tapi bukan berarti masalah sudah kelar.

Stunting dan Gizi di Indonesia

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Laporan dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, Millenium Challenge Acout (MCA)-Indonesia menyebutkan prevalensi penderita stunting di Indonesia mencapai 37,2 persen, meningkat dibanding 2010 (35,6 persen), dan 2007 (36,8) persen. “Artinya pertumbuhan tak maksimal diderita oleh sekitar 8 juta anak atau satu dari tiga anak Indonesia,” demikian sebut MCA.

Angka prevalensi sebesar itu, bisa disebut sangat serius. Sebab WHO menetapkan indeks keparahan stunting disebut kritis jika angkanya lebih atau sama dengan 15 persen. Sementara kondisi stunting di Indonesia dua kali lipat dari angka itu!

Untuk diketahui, asupan gizi bagi ibu hamil maupun anak menjadi dua faktor penting dalam menentukan besar prevalensi stunting di Indonesia. Sesuai dengan pedoman gizi seimbang rata-rata dari Kemenkes angka kecukupan energi (AKE) mencapai setidaknya 2.150 kilo kalori per orang per hari. Sementara untuk protein sebesar 57 gram protein per orang per hari.

Namun, menurut data Studi Diet Total (SDT) Kemenkes, lebih dari 50 persen ibu hamil di Indonesia pada 2014 hanya mendapatkan asupan energi kurang dari 70 persen sebagaimana dianjurkan yakni 2.150 kilo kalori. Fakta itu terjadi dua sub besar wilayah Indonesia, baik perkotaan maupun pedesaan.

Sementara untuk angka kecukupan protein (AKP) sebanyak 49,6 persen ibu-ibu hamil di perkotaan dan 55,6 persen ibu hamil di pedesaan asupan proteinnya kurang dari 80 persen dari yang ditentukan yakni 57 gram protein per orang per hari. Artinya konsumsi asupan energi dan protein ibu-ibu hamil di Indonesia pada 2014 belum ideal.

SDT 2014 juga menyebutkan bahwa "rerata tingkat kecukupan energi pada anak di bawah lima tahun (balita) di Indonesia pada 2014 mencapai 101 persen dengan 55,7 persen balita mengalami kekurangan asupan energi". Sebaliknya ada 17,1 persen justru kelebihan asupan energi. Keduanya merupakan persoalan bagi perkembangan anak, dengan kekurangan asupan gizi stunting bisa terjadi, sementara anak dengan kelebihan asupan protein berpotensi obesitas.



Sanitasi Buruk

Melihat data tersebut, peningkatan jumlah stunting masih mungkin terjadi di Indonesia. Sebab selain gizi ibu hamil dan anak, ada faktor lain turut mempengaruhi, misalnya buruknya sanitasi. Para pakar kesehatan menyebut di Indonesia buruknya sanitasi ini terkait erat dengan masalah prevalensi stunting.

“Ini terlihat pada data Riset Kesehatan Dasar yang dilansir Kementerian Kesehatan. Daerah yang kondisi sanitasinya buruk, ditandai dengan rendahnya akses rumah tangga ke jamban sehat, umumnya punya prevalensi stunting yang juga tinggi,” ujar Harriet Torlesse dari UNICEF kepada mca-indonesia.go.id akhir Januari tahun lalu.

Bertalian dengan itu, Catatan World Bank Water Sanitation Program (WSP) pada 2013 mengungkapkan, Indonesia berada di posisi kedua sebagai negara dengan sanitasi terburuk di dunia. Menurut data yang dipublikasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 63 juta penduduk Indonesia hidup tanpa toilet, bahkan masih buang air besar (BAB) sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah. Padahal target Indonesia sesuai Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia (MDG) Indonesia harus sudah mencapai 62,41 persen di 2015.

Sementara catatan Unicef pada 2015 menunjukkan ada sekitar 55 juta penduduk Indonesia yang masih buang air besar sembarangan. Angka ini membuktikan ada peningkatan terhadap akses sanitasi, tetapi tidak berarti target MDG tidak tercapai. Penurunan itu juga tidak mengubah prestasi Indonesia sebagai salah satu negara dengan sanitasi paling buruk sedunia. Peringkatnya belum berubah, Indonesia masih menempati peringkat kedua sebagai negara dengan sanitasi terburuk di dunia, setelah India.

Pencegahan Stunting

Kendati ada banyak faktor yang memungkinkan peningkatan jumlah anak stunting, para pakar gizi masih optimistis kasus itu bisa dikurangi dan dicegah.

Pakar gizi Prof dr Siti Fatimah Muis SpG (K) mengatakan stunting bisa dicegah sejak anak masih dalam kandungan. Menurut dia, parameter pencegahan "stunting" sebenarnya bisa dilihat saat ibu hamil karena kondisi janin di perut membutuhkan pemenuhan gizi optimal hingga 1.000 hari sejak kehidupan pertama.

"Pemenuhan gizi selama kehamilan membantu pembentukan networking otak secara baik. Setelah anak lahir hingga usia 2-2,5 tahun, gizi berperan mengembangkan jaringan otak lebih sempurna," katanya kepada Antara.

Siti menjelaskan sejak anak dalam kandungan hingga berusia 2-2,5 tahun harus benar-benar dijaga pemenuhan gizinya. Selain itu pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif, lanjut dia, wajib diberikan minimal sampai bayi berusia enam bulan.

"Di atas usia enam bulan, pemberian ASI bisa diteruskan sampai anak berusia dua tahun sesuai anjuran WHO. Akan tetapi, perlu diberikan makanan tambahan. Boleh juga diberikan susu formula," jelasnya.

Lebih lanjut Siti Fatimah menganalisa, salah satu kendala mengatasi stunting di Indonesia adalah kurangnya pendidikan dan faktor ekonomi terutama di kalangan masyarakat dari kelompok ekonomi terbatas. “Mereka tidak banyak memberikan makanan tambahan kepada anak, utamanya yang mengandung protein dan lemak, padahal ini penting," tegasnya.

Selain faktor itu, persepsi di masyarakat jika anak pendek dipengaruhi faktor keturunan dari orang tua juga jadi kendala. Padahal, kata Siti, perkembangan tubuhnya bisa dioptimalkan dengan pemenuhan gizi. Masyarakat beranggapan orang tua yang bertubuh pendek wajar jika anaknya juga pendek. “Stunting ini bukan diturunkan, tetapi anggapan ini yang membuatnya seolah-olah diturunkan," katanya.


Baca juga artikel terkait STUNTING atau tulisan menarik lainnya Agung DH
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Agung DH
Penulis: Agung DH
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight