Menuju konten utama
Sidang Ijazah Jokowi

Membaca Bahasa Tubuh dan Gestur Jokowi di Ruang Sidang

Jongkok hingga perlihatkan ijazah, simak analisis pakar gestur dan akademisi budaya Jawa soal sikap serta ekspresi Jokowi saat hadir di persidangan.

Membaca Bahasa Tubuh dan Gestur Jokowi di Ruang Sidang
Presiden ke-7 RI Joko Widodo mengamati barang bukti ijazah pada sidang lanjutan terkait kasus dugaan pencemaran nama baiknya terkait tudingan ijazah palsu dengan terdakwa Roy Suryo di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jakarta, Kamis (5/11/2026). Sidang tersebut beragendakan mendengarkan keterangan saksi yakni Presiden ke-7 RI Joko Widodo. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Untuk pertama kalinya dalam sejarah politik dan hukum Indonesia, seorang mantan presiden duduk langsung di kursi persidangan. Kehadiran Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi), sebagai saksi kasus dugaan pencemaran nama baik tak hanya menyita perhatian lewat kesaksiannya, tetapi juga lewat the unspoken words—pesan tak terucap, yang terpancar dari gestur, mikroekspresi, hingga bahasa tubuh sang mantan presiden di hadapan majelis hakim.

Pesan nonverbal tersebut terekam jelas dalam serangkaian momen di ruang sidang: ketika Jokowi berjongkok mengambil berkas yang tergeletak di lantai, memperlihatkan ijazahnya di hadapan publik, sampai caranya merespons pertanyaan dari pihak Roy Suryo.

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai komunikasi Jokowi selama persidangan cenderung defensif-asertif. Dia berusaha mempertahankan posisi dan narasinya tanpa menunjukkan respons emosional secara berlebihan, khususnya ketika Jokowi menyampaikan keberatan atas pertanyaan yang dianggap terlalu terperinci dari pihak kuasa hukum Roy Suryo.

"Saya keberatan, Yang Mulia, karena terlalu detail dan kayak ngetes mahasiswa baru aja," ujar Jamiluddin mengulang kata Jokowi dalam persidangan, Jumat (6/12/2026).

Jokowi

Jokowi sebagai saksi sidang di PN Jakarta TimurPresiden ke-7 RI Joko Widodo mengamati barang bukti ijazah pada sidang lanjutan terkait kasus dugaan pencemaran nama baiknya terkait tudingan ijazah palsu dengan terdakwa Roy Suryo di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jakarta, Kamis (5/11/2026). instagram/syrfxvii

Bagi Jamiluddin, pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana Jokowi menetapkan batas ketika menghadapi pertanyaan yang dinilainya berlebihan. Ia tidak sepenuhnya menghindari pertanyaan, tetapi menunjukkan keberatan dengan tetap menggunakan forum persidangan.

Cara Jokowi memperlihatkan ijazah-ijazahnya juga bisa dianggap sebagai bentuk komunikasi visual untuk memperkuat keterangan verbal yang disampaikan di hadapan majelis hakim.

Alih-alih hanya menjelaskan melalui kata-kata, Jokowi meminta izin memperlihatkan dokumen pendidikan yang dimilikinya. Jamiluddin melihat tindakan itu sejalan dengan karakter Jokowi yang lebih menonjolkan tindakan dibandingkan penjelasan panjang.

Momen berjongkok untuk mengambil dan membereskan berkas yang berada di lantai dibacanya sebagai gestur ‘wong cilik’ yang memberikan kesan bahwa Jokowi tampil sebagai sosok sederhana, tenang, dan rendah hati.

"Gestur tersebut menunjukkan sosok yang tenang dan rendah hati. Di sini Jokowi terkesan sengaja tampil untuk membangun simpati publik," ujar Jamiluddin.

Analisis Gestur Jokowi

Di sisi lain, Analis Gestur dan Mikroekspresi, Monica Kumalasari, justru tidak melihat adanya intensi komunikasi khusus di balik gerakan Jokowi mengambil berkas tersebut. Monica menyebut gerakan itu sebagai natural movement atau tindakan fungsional yang muncul untuk merespons kebutuhan situasional.

Jokowi berjalan menuju kursinya, berjongkok, kemudian membereskan berkas. Tidak terlihat perubahan postur yang signifikan maupun gerakan berlebihan yang mengindikasikan upaya menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

“Beliau sedang mengambil dan membereskan barangnya, sesederhana itu,” kata Monica kepada Tirto.

Dia justru menarik untuk mengamati momen Jokowi kembali dari meja hakim setelah proses penunjukan ijazah. Katanya, salah satu sudut bibir Jokowi terangkat secara asimetris.

Dalam teori Paul Ekman yang disinggung Monica, ekspresi tersebut dapat mengarah pada contempt yakni emosi yang berkaitan dengan perasaan merendahkan, memandang rendah, atau merasa superior terhadap sesuatu maupun seseorang.

Jika dikaitkan dengan persidangan, dia memiliki hipotesis bahwa ekspresi itu mungkin berkaitan dengan rasa gemas, meremehkan, atau ketidaksetujuan terhadap situasi yang sedang dihadapi Jokowi, khususnya karena keaslian ijazahnya masih dipersoalkan.

“Tentu, kita perlu membedakan antara ekspresi yang teridentifikasi dengan interpretasi terhadap penyebab emosinya. Namun, secara visual, kemunculan ekspresi asimetris tersebut merupakan salah satu perubahan yang menarik untuk dicermati,” kata Monica.

Ketenangan Jokowi dan Pola Komunikasi Konsisten

Sikap Jokowi yang dinilai tenang disebut Monica tidak bisa langsung dimaknai sebagai strategi komunikasi. Dalam analisis perilaku, terdapat konsep baseline, yaitu pola perilaku dasar seseorang yang menjadi acuan untuk melihat perubahan ketika menghadapi situasi tertentu.

Monica menjelaskan, Jokowi selama ini memang memiliki pola komunikasi yang relatif tenang. Ia cenderung berbicara dengan tempo tidak terlalu cepat, menggunakan intonasi suara rendah, serta tidak banyak menggunakan gestur tubuh yang ekspansif.

“Dalam kasus Pak Jokowi, kita memiliki cukup banyak referensi dari penampilan publik beliau sejak awal menjabat sebagai presiden hingga sekarang,” katanya.

Perlu juga dibedakan antara emosi yang dirasakan seseorang felt emotion dan emosi yang ditampilkan displayed emotion. Seseorang bisa saja mengalami tekanan, tetapi tetap mampu mempertahankan ekspresi dan perilaku yang stabil di hadapan publik.

"Jadi, saya tidak akan terburu-buru menyebut ketenangan tersebut sebagai strategi untuk menunjukkan dominasi, keberanian, atau ketidakpedulian terhadap pihak lain," ujarnya.

Jokowi hadiri sidang sebagai saksi di PN Jakarta Timur

Terdakwa kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Roy Suryo (kiri), memberikan salam kepada Joko Widodo (kanan) yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jakarta, Kamis (5/11/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye

Monica juga menekankan pentingnya melihat tiga kanal komunikasi secara bersamaan: ekspresi wajah, vokal atau intonasi suara, serta bahasa verbal. Ketiganya perlu diperiksa untuk melihat apakah terdapat kesesuaian antara pesan yang disampaikan dan respons nonverbal yang muncul. Dalam analisis perilaku, ketidaksesuaian itu dikenal sebagai incongruence.

Namun, ketidaksesuaian antara ucapan dan ekspresi bukan bukti seseorang berbohong. Hal tersebut bisa berkaitan dengan ketidaknyamanan, tekanan situasional, atau upaya mengendalikan emosi.

Dalam kasus persidangan Jokowi, Monica mengakui terdapat keterbatasan dokumentasi visual. Pada sejumlah momen ketika Jokowi menjawab pertanyaan, posisi tubuhnya membelakangi kamera sehingga ekspresi wajah tidak dapat diamati secara optimal.

Keterbatasan ini membuat pembacaan mikroekspresi perlu dilakukan secara hati-hati sebab analisis tidak cukup hanya mengandalkan gambar jarak jauh, tetapi membutuhkan rekaman yang memungkinkan pergerakan otot wajah diamati secara lebih detail.

Membaca Jokowi Melalui Budaya Komunikasi Jawa

Pembawaan Jokowi secara umum juga bisa dilihat melalui konteks budaya Jawa. Jokowi dikenal berasal dari lingkungan budaya Jawa, yang memiliki sejumlah nilai dalam mengatur hubungan dan interaksi antarmanusia.

Pengajar di Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), Ahmad Athoillah, menjelaskan bahwa tradisi Jawa mengenal nilai seperti ngajeni atau menghormati sesama, tepa selira atau tenggang rasa, unggah-ungguh atau sopan santun, serta ewuh pakewuh yang berkaitan dengan kepekaan dalam menjaga hubungan sosial.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi dan berkomunikasi. Dalam tradisi komunikasi Jawa, seseorang tidak hanya memperhatikan isi perkataan, tetapi juga bagaimana ucapan itu disampaikan agar tidak menyinggung perasaan lawan bicara.

Komunikasi Jawa mengenal ragam bahasa seperti ngoko, madya, dan krama. Selain pilihan bahasa, intonasi rendah, senyum, serta bahasa tubuh atau gerak simbolik juga menjadi bagian dari cara menyampaikan maksud.

Dalam pola komunikasi tersebut, seseorang dapat menyampaikan ketidaksetujuan tanpa harus selalu mengungkapkannya secara langsung.

“Kunci komunikasi dalam perspektif Jawa adalah interaksi verbal antar individu yang tetap mengutamakan menjaga perasaan lawan bicara,” kata Ahmad saat dihubungi Tirto.

Ahmad mencontohkan tradisi kesenian ketoprak di mana dalam adegan ketika dua kesatria hendak berkelahi, mereka dapat saling melontarkan tembang tantangan, termasuk tembang durma. Bentuk komunikasi itu menjadi cara untuk menunjukkan kemarahan atau pertentangan tanpa langsung melakukan konfrontasi. Cara berterus terang atau dupak biasanya hanya muncul dalam situasi mendesak atau ketika seseorang hendak memberikan peringatan keras.

Pada akhirnya, gestur dan sikap Jokowi di ruang sidang tidak sekadar memperlihatkan dinamika hukum, tetapi juga merangkum kompleksitas komunikasi politik berbalut budaya. Baik dibaca sebagai strategi defensif, respons alami, maupun refleksi nilai kesantunan Jawa, cara Jokowi menghadapi tekanan menunjukkan bahwa pembawaan tenang dan penguasaan simbolik tetap menjadi benteng utamanya dalam mengendalikan narasi di hadapan publik.

Baca juga artikel terkait IJAZAH JOKOWI atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - News Plus
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Anggun P Situmorang