Menuju konten utama

Melindungi Korea Selatan Dengan THAAD

Korea Selatan baru saja mengaktifkan sistem pertahanan serangan rudal untuk mengantisipasi memanasnya situasi hubungan antara Korea Utara, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

Melindungi Korea Selatan Dengan THAAD
Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dalam uji coba yang dilakukan oleh AS. Foto/Ralph Scott/Missile Defense Agency

tirto.id - Korea Selatan baru saja mengaktifkan sistem pertahanan anti rudal milik Amerika Serikat bernama Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD di wilayah Wonsan, Korea Selatan. Aksi tersebut, merupakan respons atas memanasnya hubungan Korea Utara dengan Amerika Serikat beserta sekutunya di wilayah tersebut, terutama Korea Selatan. Keputusan yang diambil Presiden AS Donald Trump yang memilih pendekatan berbeda dibandingkan pendahulunya, Presiden Barack Obama, membuat situasi Korea Utara dan Korea Selatan semakin menghangat.

Robert Manning, juru bicara militer Amerika Serikat di Seoul, ibukota Korea Selatan, sebagaimana dikutip dari The New York Times mengungkapkan bahwa sistem THAAD telah beroperasi dan memiliki kemampuan mencegat rudal Korea Utara.

THAAD sebenarnya bukan pilihan yang tepat jika benar-benar ingin mengamankan suatu wilayah yang cukup besar seperti sebuah negara. THAAD diketahui tak mampu menghadapi serangan rudal balistik antar-benua. Kecuali jika sistem THAAD, dipasang di berbagai sudut sebuah negara. Namun, hal tersebut tentu membutuhkan biaya yang sangat besar jika ingin.

THAAD merupakan elemen kunci dari Sistem Pertahanan Rudal Balistik atau BMDS yang dikembangkan oleh Amerika Serikat. THAAD dikembangkan secara serius, tatkala negeri Paman Sam tersebut memperoleh pengalaman berharga kala Irak menggunakan rudal Scud, sebuah Rudal buatan Uni Soviet, dalam perang teluk yang terjadi di tahun 1991.

Dalam sebuah dokumen yang dibuat pada bulan Januari 1994 berjudul “Information on Theater High Altitude Area Defense System” (secara formal, digunakan kata “Theater” bukan “Terminal”), disebutkan alasan lain pengembangan THAAD. Alasan itu adalah adanya sebuah laporan yang digagas oleh Ballistic Missile Defense Organization yang menyatakan, pada tahun 1992, terdapat 30 jenis rudal balistik yang memiliki daya jelajah hingga 30 kilometer yang dikembangkan oleh 19 negara di seluruh dunia. Studi tersebut juga menemukan 13 negara yang telah mengembangkan rudal balistik dengan daya jelajah hingga 300 kilometer. Studi itu memprediksi pula bahwa rudal balistik berdaya jelajah yang mencapai 1.000 kilometer, hanya tinggal menunggu waktu saja.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pada tahun 1992, kontrak pembuatan THAAD diberikan oleh pemerintah Amerika Serikat. Pengembangan dan produksinya dimulai pada tahun 1996.

THAAD merupakan sistem pertahanan anti rudal yang dibuat di bawah kendali Missile Defense Agency dan dikerjakan secara utama oleh Lockheed Martin, sebuah perusahaan pembuat senjata dan teknologi penerbangan yang berbasis di Bethesda, Amerika Serikat. Lockheed Martin, pada tahun 2012, diketahui memperoleh pendapatan bersih hingga $47,2 miliar melalui berbagai persenjataan dan barang yang mereka buat. Sebuah berita yang dipublikasikan pada tahun 2013 di laman resmi perusahaan tersebut menyatakan, Lockheed Martin, memperoleh kontrak senilai $3,9 miliar untuk membangun THAAD bagi Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab. Uni Emirat Arab memang diketahui sebagai negara non-Amerika Serikat pertama yang memanfaatkan THAAD.

Secara menyeluruh, dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa sistem pertahanan THAAD diperkirakan menelan biaya hingga $14,5 miliar. Angka tersebut untuk 1.422 rudal THAAD, 99 Launcher, dan 18 Radar.

INFOGRAFIK Pertahanan Anti Rudal

THAAD merupakan sistem pertahanan dari serangan rudal jarak dekat maupun menengah yang dioperasikan oleh militer Amerika Serikat, guna melindungi negeri tersebut dari berbagai serangan yang mungkin terjadi.

THAAD memiliki bagian-bagian penting guna mendukung suatu wilayah atau negara agar terhindar dari serangan rudal. THAAD terdiri dari Interceptor, Launchers, Radar, Fire Control Unit, dan peralatan pendukung lainnya. Saat musuh menyerang dan meluncurkan rudalnya, radar THAAD akan bekerja mendeteksi ancaman yang datang tersebut. Selanjutnya, rudal yang mengancam tersebut akan identifikasi oleh sistem. Kemudian, Interceptor akan diluncurkan dari sebuah truk khusus peluncuran. Dengan memanfaatkan energi kinetik, Interceptor menghancurkan rudal yang menjadi ancaman tersebut.

THAAD menggunakan teknologi hit-to-kill, menghancurkan rudal yang diluncurkan musuh di ketinggian yang dirasa aman tatkala puing-puing hasil penghancuran, jatuh ke bumi. Lockheed Martin mengklaim, THAAD memiliki kemampuan untuk mencegat rudal yang ditembakkan musuh di dalam maupun di luar atmosfer bumi. Dengan kemampuan demikian, tak heran jika THAAD merupakan perisai yang cukup mumpuni menyelamatkan diri sebuah bangsa dari serangan rudal musuhnya.

Lockheed Martin, perusahaan kontraktor utama pembuat THAAD, mengklaim melalui laman resmi mereka bahwa sejak tahun 2005, 100 persen misi terbang sistem tersebut sukses besar. Kesuksesan tersebut, termasuk kesuksesan 11 kali ujicoba Intercepts atau proses pencegatan serangan. Dengan kehebatan tersebut, tak salah memang kala Korea Selatan, menaruh harapan yang cukup besar dengan sistem pertahanan tersebut agar mereka terlindungi dari kemarahan Korea Utara yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Namun, pemasangan THAAD di Korea Selatan, turut pula membuat negara-negara lain non-sekutu Amerika Serikat, marah dengan tindakan tersebut. Selain Korea Utara, yang sudah pasti sangat marah, Cina adalah negara lain di kawasan tersebut yang merasa terganggu dengan keberadaan THAAD. Dikutip dari Antara, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Geng Shuang mengungkapkan pihaknya akan dengan tegas mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan-kepentingan kita.

Ungkapan Shuang terhadap THAAD, merupakan respons atas kekhawatiran negeri tirai bambu tersebut terhadap kemungkinan sistem radar THAAD yang digunakan untuk memata-matai Cina alih-alih mendeteksi serangan yang mungkin diluncurkan Korea Utara. Radar THAAD merupakan salah satu radar yang canggih teknologinya. Radar tersebut memungkinkan pemerintah AS mendeteksi Cina secara lebih menyeluruh.

Berbagai negara, diketahui memang memiliki sistem pertahanan rudal balistiknya sendiri-sendiri. Terutama bagi negara-negara yang merasa terancam dengan negara lainnya. Israel misalnya, mereka memiliki sistem pertahanan rudal yang bertajuk Arrow Missile System. Arrow dikembangkan Israel dengan bantuan Amerika Serikat sejak tahun 1988. Arrow, memiliki kemampuan mencegat rudal balistik jarak jauh yang ditembakkan ke wilayah mereka. Hingga saat ini, sebagaimana diwartakan media asal Israel, Haaretz, sistem Arrow telah memasuki versi ke 3. Harga rudal Arrow 3 yang digunakan untuk melindungi dari suatu serangan, diperkirakan berada di rentang $2,2 juta.

Dengan diaktifkannya THAAD di Korea Selatan, apakah ini merupakan suatu pertanda bahwa perang terbuka antara Korea Utara melawan Amerika Serikat dan sekutunya akan segera terjadi? Jam Kiamat, sebuah jam artifisial yang digagas oleh para ilmuan atom, di tahun 2017 ini menempatkan jarum panjang berada 2,5 menit sebelum tengah malam. Tepat tengah malam, merupakan pertanda bahwa perang nuklir akan terjadi. Waktu tersebut direvisi oleh para ilmuan. Salah satu alasannya adalah terpilihnya Trump menjadi Presiden Amerika Serikat. 2,5 menit sebelum tengah malam, merupakan waktu terpendek semenjak 1953. Di tahun tersebut, jam kiamat berada 2 menit sebelum tengah malam. Jadi, bukan hal yang mengejutkan jika perang antara Korea Utara dan Amerika Serikat, yang kemungkinan juga memanfaatkan senjata nuklir, akan segera terjadi.

Baca juga artikel terkait KOREA UTARA atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti