Megaskandal Seungri & Persoalan Kejahatan Seksual di Korea

Infografik Molka
Ilustrasi stop kekerasan. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 26 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Banyak pria di Korea berbagi revenge porn untuk bersenang-senang dan mempererat ikatan pertemanan.
tirto.id - Megaskandal Burning Sun di Korea membuka tabir kelamnya pelecehan perempuan di negara industri K-Pop. Seungri dan Jung Joon-young menjadi contoh bagaimana banyak pria di sana memandang pelecehan terhadap perempuan sebagai hal lumrah. Tiap tahun, negara itu bahkan harus berurusan dengan masifnya persebaran kamera intai di ruang-ruang privat perempuan.

“Aku merasa kasihan padanya [Seungri].”

“Jujur, pria [pasti] ingin menonton video porno, dan wajar mereka ingin berbagi dengan teman-temannya.”

Percakapan dua orang pria di jalanan sebuah kota di Korea ditangkap secara random oleh reporter Asian Boss. Mereka saling menimpali kasus pelecehan seksual yang menjerat Seungri, dkk. Mirisnya, komentar bernada dukungan terhadap pelaku pelecehan juga dilontarkan CEO Burning Sun, Lee Moon-ho. Laman Allkpop menyebut Moon-ho memberi pembelaan terhadap Seungri dengan menggenalisir semua pria di Korea Selatan.

“Jika pesan KakaoTalk 3 tahun lalu ilegal, maka bukankah semua laki-laki Korea adalah penjahat?”


Opininya didasarkan pada asumsi bahwa dugaan pelacuran yang dituduhkan kepada Seungri hanya guyonan semata. Moon-ho dan Seungri memiliki hubungan dalam kepemilikan klub malam Burning Sun. Sebanyak 10 persen saham dimiliki oleh Moon Ho, sementara 20 persen lainnya dikuasai mantan personel BIGBANG tersebut.

Selain masalah korupsi dan peredaran narkotika, Burning Sun juga membongkar soal perkosaan dan video seks yang direkam secara diam-diam oleh solois pria Jung Joon-young. Obrolan dari media sosial Kakaotalk yang terbongkar menyebut Joon-young pernah membuat korbannya tak sadarkan diri, memperkosa, merekam, dan menyebarkan video ilegal kepada teman-temannya.

Kadang, agar korbannya mau diajak berhubungan seksual, Joon-young juga mengiming-iminginya dengan janji menjadi selebritas. Kejahatan seksual yang dilakukan Joon-young bukan kali ini saja terjadi. Pada 2016, ia pernah dituntut mantan pacarnya karena melakukan perekaman aktivitas seksual tanpa izin. Namun, kasusnya ditarik di tengah jalan. Pihak kejaksaan juga menyatakan gugatan tersebut kurang bukti.


Mereka Tidak Lugu

Seungri BIGBANG selama ini dikenal sebagai idola yang ramah dan hobi berkelakar. Citranya di dunia kepesohoran adalah anggota termuda BIGBANG yang lugu dan selalu butuh bimbingan dari anggota lain yang lebih tua dalam menentukan sikap. Sementara itu, Joon-young adalah musikus serba-bisa: solois, pencipta lagu, aktor, dan pembawa acara. Pada acara terakhir yang ia bintangi, 1 Night 2 Days, peran Joon-young terlihat sangat menonjol dalam menghidupkan alur cerita.

Pencitraan yang terkesan positif dan jauh dari kata “nakal” sempat membuat para penggemar terkejut dan menyangkal keterlibatan keduanya dalam lubangan skandal Burning Sun. Banyak penggemar menyatakan dukungan kepada Seungri dan Joon Young karena menganggap keduanya hanya terjebak pada situasi dan lingkaran pertemanan yang salah.

Namun, dukungan penggemar tak berarti apa-apa ketika hasil penyelidikan justru membongkar topeng citra “pria baik-baik” yang selama ini mereka kenakan. Faktanya, banyak kasus pelecehan seksual di dunia hiburan Korea terkubur relasi kuasa dan kultur budaya patriarkis di sana. Seorang Youtuber bernama Grace baru-baru ini juga membuka suara terkait pelecehan yang ia terima dari seorang idol Korea.

“Selama ini aku berusaha mengabaikan karena mungkin tak akan ada yang percaya dan menganggap cerita ini sungguh-sungguh,” ungkap Grace dalam laman Youtube pribadinya.

Pengalaman pahit itu ia alami dua tahun silam dan baru berani ia buka sekarang. Kejadiannya bermula saat Grace berkunjung ke klub malam dan tak sengaja bertemu dengan seorang idola pria yang ia kenal setahun belakangan. Dalam perjumpaan itu, sang idola secara sengaja menyentuh bagian privat Grace dan meminta perempuan itu melakukan hal yang sama terhadapnya.



Kamera Mata-Mata

Setiap tahunnya, masalah kamera intai dan perekaman video ilegal di Korea Selatan selalu berulang. CNN melaporkan pada 2017, ada lebih dari 6.400 video ilegal yang dilaporkan ke polisi. Angka ini meningkat tajam dari 2.400 video pada 2012. Sementara itu, pada 2019 ini, kepolisian negeri ginseng itu menyebut telah ada 1.600 korban yang direkam tanpa persetujuan di kamar-kamar motel di sana.

Kamera-kamera intai itu tersembunyi di dalam kotak televisi, soket dinding, tempat pengering rambut, dan toilet. Keterangan dari dua pelaku yang berhasil ditangkap menyebut hasil rekaman disiarkan secara online dengan akses berbayar yang disebar ke lebih dari empat ribu anggota. Dari hasil kejahatannya, para pelaku mendapat bayaran hingga $6.000 atau sekitar Rp80 juta.

Untuk menanggulangi penyebaran kamera intai di ranah-ranah privat, pihak berwajib di Seoul sampai meluncurkan pasukan khusus pengawas perempuan. Satuan tugas tersebut bertugas menginspeksi 20 ribu toilet umum kota untuk mencari tempat persembunyian kamera-kamera intai. Banyak pria di Korea menganggap berbagi video ilegal adalah bagian dari hiburan dan cara untuk memperkuat ikatan persaudaraan.

“Feminisme masih jadi cemoohan dan ejekan di sini,” kata Suk Young-kim, seorang profesor Budaya Visual Asia Timur dari University of California, Los Angeles seperti dilansir Billboard.


Menurutnya, salah satu faktor penyebab kasus kejahatan seksual berakar di Korea adalah karena kentalnya budaya patriarki di sana. Perempuan jarang ada yang mau bersaksi atas kejahatan seksual yang mereka terima karena bertentangan dengan norma dan budaya.

“Bahkan jika perempuan tidak bahagia, mereka tetap diminta mengikuti arus [budaya dan norma] masyarakat korea,” kata Kim.

Baca juga artikel terkait KASUS BURNING SUN atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight