Manuver Go-Jek di Filipina, Ditolak Lalu Caplok Fintech

infografik invasi gojek di asia tenggara
Ilustrasi Gojek. FOTO/ANTARA
Oleh: Ahmad Zaenudin - 21 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Go-Jek mengakuisisi mayoritas saham Coins.ph, fintech asal Filipina, setelah ride-sharing asal Indonesia ini ditolak masuk otoritas Filipina.
tirto.id - Go-Jek, startup berstatus unicorn asal Indonesia, mengakuisisi mayoritas saham Coins.ph, startup financial technology (fintech) asal Filipina.

Sebagaimana dilaporkan e27, Go-Jek mengungkapkan akuisisi ini dilanjutkan dengan kemitraan strategis di mana Go-Pay, layanan fintech milik Go-Jek, dan Coins.ph akan mendorong transaksi keuangan tanpa uang tunai di Filipina.

Ron Hose, pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Coins.ph mengatakan masuknya Go-Jek ke startup yang didirikannya akan membuat mereka saling “berbagi visi yang sama yang telah membuat masing-masing sukses di pasar mereka.”

Sementara itu, Aldi Haryopratomo, CEO Go-Pay, masih dikutip dari e27, menyebut terjadinya aksi korporasi ini lantaran “adanya persamaan tingkah laku transaksi konsumen di Indonesia dan Filipina.”

Langkah Go-Jek mengakuisisi suatu entitas bisnis lain itu biasa, termasuk Go-Jek pernah melakukannya pada startup finansial di Indonesia, jelang kelahiran Go-Pay. Namun, dalam konteks Filipina, langkah ini jadi suatu yang menarik.

Akuisisi Go-Jek terhadap Coins.ph terjadi hanya sepekan selepas Go-Jek ditolak masuk ke Filipina oleh otoritas setempat. The Land Transportation Franchising and Regulatory Board (LTFRB), badan di bawah Kementerian Perhubungan Filipina yang bertugas mengatur regulasi tentang transportasi umum, menolak proposal masuknya Go-Jek dalam Keputusan No. 096 pada 20 Desember 2018 badan tersebut.

Alasannya, merujuk Surat Edaran No. 2015-015-A yang disahkan pada 23 Oktober 2017 dan Undang-Undang No. 11 Ayat XII Filipina, termaktub adanya aturan soal kepemilikan asing bagi perusahaan-perusahaan, khususnya yang bersinggungan dengan kebutuhan publik, untuk mayoritas dimiliki warga lokal.

Setidaknya, perusahaan yang memberikan pelayanan publik 60 persen dari nilai kapitalisasi harus dimiliki lokal. Go-Jek sendiri masuk ke Filipina sebagai bisnis ride-sharing menggunakan Velox Technology Phillipine Inc. Sayangnya, 99,99 persen saham “perusahaan lokal Filipina” itu dimiliki Velox South-East Asia Holdings, perusahaan yang terdaftar di Singapura sejak 2 Februari 2018.


Hambatan yang dialami Go-Jek tak dialami Grab maupun Uber. Grab masuk ke Filipina pada 2013 dengan menggandeng MyTaxi.PH Inc dan Globe Telecom, perusahaan lokal Filipina. Sementara Uber, masuk ke Filipina pada 11 Februari 2014 dengan mendaftarkan diri sebagai “foreign stock” pada Komisi Bursa dan Sekuritas Filipina, yang saat itu masih belum diregulasi soal kepemilikan asing.

Selepas ditolak Filipina, Go-Jek terus gencar bermanuver agar bisa menembus pasar Filipina. Salah satunya dengan rencana bantuan pemerintah Indonesia. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, sebagaimana dilaporkan Antara, mengatakan akan membantu Go-Jek mengaspal di Filipina.

“Pemerintah akan bantu terus Go-Jek untuk hadir di negara lain. Kita bangga enggak kalau perusahaan Indonesia di luar negeri?”

Salah satu bantuan yang dijanjikan Rudiantara adalah melakukan lobi dengan rekannya di Filipina.

“Saya melobi rekanan saya di Filipina, untuk membuka unicorn Indonesia hadir di negara mereka. Saya pun akan terbuka kalau mereka punya unicorn masuk ke Indonesia, saya fasilitasi. Tapi tolong fasilitasi unicorn Indonesia di negara Anda,” tegas Rudiantara.

Selain janji bantuan dari tangan pemerintah, akuisisi Coins.ph oleh Go-Jek sangat berpeluang memuluskan ride-sharing ini bisa mengaspal secara legal di Filipina.

Siapa Coins.ph?

Dari laman resminya, Coins.ph didirikan oleh wirausahawan asal Amerika Serikat (AS) bernama Ron Hose pada 2014. Coins.ph merupakan fintech, yang menggunakan teknologi blockchain sebagai kekuatan utama di belakang layarnya, yang bekerja selayaknya Go-Pay, yakni digunakan sebagai medium transaksi non-tunai. Menurut klaim mereka, telah terdapat lebih dari 100 ribu merchant yang menerima pembayaran via Coins.ph di Filipina.






Dilansir Nikkei, penciptaan Coins.ph oleh Hose terjadi manakala pria tersebut berkunjung ke Filipina dan mendapati kenyataan bahwa masyarakat di sana mayoritas tak tersentuh produk perbankan konvensional. Di Filipina sendiri, hanya 30 persen populasi dewasa yang memiliki akun di bank. Lalu, 99 persen transaksi keuangan yang dilakukan masyarakat Filipina dilakukan secara kontan.

“Ada serangkaian masalah yang unik di pasar negara berkembang dimana perusahaan dan pengusaha lokal tidak benar-benar membangun produk untuk (mengatasi masalah tersebut),” kata Hose pada BBC.

Salah satu fitur utama dan jadi ciri bagi Coins.ph ialah aplikasi ini merupakan aplikasi transaksi Bitcoin. Namun, dalam penuturan Hose pada Tech in Asia, layanannya memberikan pengalaman berbeda soal bertransaksi Bitcoin, yang diyakininya sebagai bentuk adaptasi terhadap tingkah laku lokal masyarakat Filipina.

“Bitcoin digunakan berbeda di berbagai pasar, antara penggunaan Bitcoin di Filipina, di Amerika Serikat, atau di Eropa.” Di Amerika dan Eropa Bitcoin digunakan sebagai mata uang, untuk bertransaksi barang atau jasa. Sementara di pasar seperti Cina, Bitcoin digunakan sebagai bagian dari investasi. Sementara di Filipina, Bitcoin adalah medium yang menjembatani masyarakat yang tak tersentuh dunia perbankan konvensional.


Selain sebagai aplikasi transaksi Bitcoin, Coins.ph pun melayani transaksi berbasis peso. Hose, lantas menciptakan Coins.ph untuk mengatasi masalah finansial yang dihadapi mayoritas masyarakat Filipina. “Saya termasuk orang yang yakin bahwa (pertumbuhan fintech) akan datang ke Asia,” tuturnya Nikkei.

Menggunakan Coins.ph, masyarakat Filipina bisa memperoleh produk keuangan tanpa sedikitpun bersentuhan dengan bank. Hanya berbekal ponsel dan si aplikasi, transaksi top-up atau mengisi saldo dapat dilakukan di lebih dari 30 ribu gerai, termasuk waralaba populer seperti 7-Eleven.

Karena warga Filipina termasuk yang paling banyak menjadi pekerja migran, Coins.ph pun memiliki layanan remittance atau pengiriman uang dari luar ke dalam negeri. Pada 2017, menurut laporan Nikkei, pekerja migran Filipina mengirim uang senilai $28,1 miliar ke kampung halaman. Ini pasar yang menjanjikan bagi Coins.ph.

Sebelum akuisisi oleh Go-Jek terjadi, Coins.ph terhitung moncer memperoleh investor. Data dari Cruchbase menyebut, ada 11 investor yang mendukung mereka. Paling baru, sebelum Go-Jek masuk, Coins.ph memperoleh pendanaan senilai $5 juta dari Nasper, ventura kapital dari Silicon Valley yang cukup banyak memiliki portofolio startup di bidang fintech. Selain Coins.ph, Nasper mendukung Creditas, Kreditech, Luno, Paysense, PayU, dan Remitly.

Selain bisa dianggap sebagai jalan Go-Jek memuluskan langkah memperoleh restu Filipina untuk mengaspal di sana, masuknya Go-Jek di Coins.ph bisa dibaca sebagai cara Go-Jek memperkuat Go-Pay, misalnya untuk menghadirkan layanan transaksi berbasis blockchains maupun bitcoin atau juga remittance. Go-Pay sendiri merupakan salah satu layanan paling menarik dan berpeluang menjadi masa depan bagi Go-Jek.

Strategi Go-Jek di Filipina akhirnya berkebalikan dengan di Indonesia. Di dalam negeri, Go-Jek lebih dulu membangun ekosistem via ride-sharing, lalu membangun Go-Pay sebagai pilar utama bisnis mereka. Di Filipina, dengan akuisisi terhadap Coins.ph, setidaknya setengah jalan sudah terlewati, sebagai bagian misi mereka masuk Asia Tenggara.


Baca juga artikel terkait GO-JEK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight