Kisah Tak Biasa Lili Elbe, Sang Pemula Operasi Kelamin

Reporter: Patresia Kirnandita - 30 Jan 2018 05:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Einar Wagener adalah pria pertama yang dioperasi kelaminnya dan menjadi wanita bernama Lili Elbe.
tirto.id - Salah satu kebahagiaan besar yang bisa dirasakan seseorang adalah sukses melewati operasi. Bagi Natalie Turner, keberhasilan operasi yang dijalaninya pada Desember 2017 lalu bukan perkara menyembuhkan penyakit, melainkan soal membebaskan dirinya dari tubuh yang “salah”.

Dilansir The Sydney Morning Herald, Natalie terlahir sebagai laki-laki. Sejak balita, ia menyadari ada yang tidak benar dengan dirinya. Natalie selalu berkeinginan menjadi perempuan dan senang menjajal baju-baju ibunya. Hingga beranjak dewasa, hasrat bertubuh perempuan kian menjadi-jadi dan mendorongnya melakukan operasi pengubahan kelamin di Manhattan, AS.

“Saat saya melihat tubuh saya… Saya merasa semuanya telah lengkap…Rasanya melegakan,” ucapnya setelah operasi berjalan dengan lancar.

Sebelas hari sesudahnya, Natalie masih beradaptasi dengan vagina yang baru ia miliki. Natalie bahkan berseloroh, ia membutuhkan buku panduan untuk menggunakannya.

“Saya tidak pernah berpikir ini [impian saya] terwujud… Kamu melihatnya, dan ini tidak lagi menjadi mimpi: ini kenyataan,” ungkap Natalie kepada Andrew Purcell yang mewawancarainya.

Apa yang dipikirkan dan dirasakan Natalie dan para transgender lainnya yang ingin mengubah tubuh mereka tak jauh berbeda dengan yang Lili Elbe, pelukis Denmark yang melakukan operasi pengubahan kelamin pada dekade 1930-an. Namun, malang, pengalaman memiliki tubuh perempuan tak bisa dirasakan lama oleh Lili selepas operasi.

Menemukan Kenyamanan Berpenampilan Perempuan

Dalam Encyclopedia Britannica, dikisahkan Lili Elbe terlahir sebagai laki-laki dengan nama Einar Wegener pada 28 Desember 1882 di Vejle, Denmark. Pada awal abad ke-20, ia mengambil studi seni di Royal Danish Academy of Fine Arts di Copenhagen dan di sanalah ia bertemu Gerda Gottlieb, pelukis perempuan yang kelak menjadi istrinya pada 1904.

Menurut buku Who’s Who in Gay and Lesbian History: From Antiquity to World War II (2002), suatu ketika, Gerda membutuhkan model perempuan untuk dia lukis. Tebersit di kepala Gerda saat itu untuk meminta bantuan suaminya. Helen Russel menulis di The Guardian, Gerda memang merupakan seniman yang melihat gender sebagai performance, jauh sebelum filsuf feminis Judith Butler mencetuskan gagasan tersebut.

Einar pun menjajal baju-baju perempuan untuk pertama kalinya, dan berpose sesuai kemauan Gerda. Setelah beberapa kali menjadi model Gerda, Einar mulai menyadari bahwa dirinya memiliki kepribadian lain, sebagai perempuan. Sosok Lili-lah yang diadopsi Einar sebagai alter egonya saat berpose untuk dilukis.

Perlahan tetapi pasti, sosok Lili dalam diri Einar semakin mendominasi. Ia pun sejak saat itu mengidentifikasi dirinya sebagai Lili. Terjadi titik balik pada diri Einar Wagener yang muncul dalam proses berkesenian Gerda.

"Dalam melukis Lili, ada proses kreatif yang dikerjakan mereka berdua, mereka menciptakan orang baru atau menemukan identitas sejati seseorang," demikian komentar ahli sejarah yang mengkurasi karya-karya Gerda di Arken Museum of Modern Art, Copenhagen, Andrea Rygg Karberg. “Saya pikir, melukis Lili adalah hal yang paling inspiratif buat Gerda sebagai seniman, dan bersama-sama, mereka mengulik soal femininitas.”

Niat untuk menjadi perempuan diwujudkan Lili dalam berbagai kesempatan tampil di depan publik. Pada 1912, setelah berkeliling Italia dan Perancis, Lili dan pasangannya memutuskan menetap di Paris. Di kota itulah Lili dengan lebih leluasa mengungkapkan dirinya sebagai perempuan.

Ia tak segan mengenakan gaun ke mana-mana meskipun masih sesekali terpaksa bergantian menjadi Einar pada konteks-konteks tertentu. Saat mengenakan pakaian perempuan, ia kerap diperkenalkan sebagai saudara perempuan Einar kepada publik oleh Gerda.

Disforia Gender

Kendati bisa sewaktu-waktu berpenampilan perempuan dan tidak diketahui publik tentang jati diri sesungguhnya, Lili tak merasa cukup. Kala itu, kondisi masyarakat secara umum masih belum bisa menerima keberadaan seorang transgender atau homoseksual. Pada dekade 1920-1930-an, berlaku pula anggapan dominan di kalangan ahli psikologi bahwa orang-orang non-heteroseksual merupakan orang-orang dengan gangguan jiwa atau tergolong menyimpang secara seksual.


Kondisi seperti ini tak pelak menimbulkan sesuatu yang kini dikenal sebagai disforia gender dalam diri Lili. Hal ini diartikan sebagai keadaan tertekan dan cemas yang dialami seseorang karena ketidaksejalanan gender yang diidentifikasinya dengan organ-organ seksual yang dimiliki.

“…Di sini, di tubuhku yang sakit, menetap dua makhluk, terpisah, tak terkait, saling memusuhi, sekalipun menyayangi satu sama lain, tubuh ini hanya punya satu tempat untuk salah satu dari mereka. Satu di antara keduanya mesti hilang, jika tidak, keduanya yang binasa,” demikian dikatakan Lili Elbe pada tahun 1930, sebagaimana tercantum dalam buku The Riddle of Gender: Science, Activism, and Transgender Rights (2009).

Salah satu jalan yang Lili tempuh untuk mengatasi masalahnya ini adalah dengan melakukan operasi pengubahan alat kelamin di Jerman. Ide untuk melakukan hal ini datang setelah pada tahun 1920-an, ia mengetahui bahwa ada dokter di German Institute for Sexual Science di Berlin yang mampu mengubah laki-laki menjadi perempuan: Dr. Magnus Hirschfeld. Dikutip Biography.com, dokter ini merupakan orang pertama yang mencetuskan kata “transeksualisme” pada tahun 1923.

Ada beberapa tahap operasi yang mesti Lili jalani supaya benar-benar bisa bertubuh perempuan. Tahun 1930, Lili mulai menjalani operasi pertama di Berlin, yakni pembuangan testis atau pengebirian. Sepanjang 1930-1931, ia menjalani tiga operasi lain di Dresden Municipal Women’s Clinic di bawah kendali Dr. Kurt Warnekros. Di kota Dresden-lah Lili terinspirasi untuk memakai “Elbe” sebagai nama belakang, diambil dari sungai yang mengaliri Eropa Tengah dan melewati kota tersebut.

Kisah perjalanan operasi Lili tercatat dalam biografinya—yang disusun kemudian oleh temannya, Ernst Ludwig Hathorn Jacobson dengan nama pena Niels Hoyer—yang bertajuk Man into Woman (1933). Dikutip dalam The Riddle of Gender, Hoyer bercerita, saat dokter di Dresden membedah Lili, ditemukan semacam ovarium di bagian perutnya.

Temuan ini sempat membuat Lili dianggap interseks atau hermafrodit dan menjelaskan mengapa Lili memiliki sifat-sifat feminin dan organ seksual perempuan kendati bertubuh laki-laki.

Setahap Lagi Menjadi Perempuan

Setelah beberapa kali Lili menjalani operasi di Jerman, pemerintah Denmark mengeluarkan paspor anyar untuknya dengan nama Lili Elbe dan keterangan jenis kelamin perempuan. Keputusan mengakui identitas gender Lili ini berimbas buruk bagi perjalanan pernikahannya dengan Gerda.

Denmark yang tidak mengakui perkawinan sejenis kala itu selanjutnya menganulir pernikahan mereka. Gerda, yang awalnya menerima kondisi Lili dan turut menemaninya selama empat operasi berlangsung, perlahan-lahan kehilangan harapan akan kelanjutan hubungan mereka seiring keputusan pemerintah ini. Ia pun memutuskan berpisah dengan Lili pada 1930.

Tinggal setahap lagi sampai Lili bisa merasa sempurna sebagai perempuan. Pada operasi kelima tahun 1931, ia dipasangkan rahim. Keinginan untuk memiliki rahim dan bisa mengandung anak memang begitu kuat dalam diri Lili.

Menjelang operasi kelima itu, ia juga tengah berhubungan dengan laki-laki bernama Claude Lejeune yang akhirnya melamar dia. Lili setuju, asalkan Claude mau menunggunya melakukan operasi terakhir. Ia ingin bertubuh perempuan secara sempurna dulu sebelum menjadi istri seseorang.

Pernah ia menulis surat kepada temannya bahwa ia mengidam-idamkan sosok suami yang akan melindunginya kelak.

“Kamu harus bersimpati pada hasratku untuk menjadi ibu, untuk memiliki anak, karena tak ada yang lebih kuinginkan daripada membuktikan bahwa Andreas [nama samaran untuk Einar] benar-benar lenyap dalam diriku. Dengan memiliki anak, aku bisa meyakinkan diriku bahwa aku adalah perempuan sejak awal. Entah ini bisa terwujud atau tidak, fakta bahwa aku bisa secara terbuka mengakui hasrat dari hati seorang perempuan yang murni adalah kebahagiaan tak berkesudahan bagiku,” tulisnya.


Infografik Lili elbe


Pada masa itu, eksperimen yang dilakukan sebelum mengubah kelamin manusia dan hasil operasinya belum sebaik saat ini. Risiko begitu besar mesti siap ditanggung Lili. The Telegraph menuliskan, Lili meninggal karena salah perhitungan dokter saat mentransplantasi rahim. Ia diberikan siklosporin, obat yang berfungsi meredam sistem kekebalan tubuh dan mencegah penolakan transplantasi organ. Namun, obat ini diketahui baru sukses digunakan pada 1980.

Ia tak serta merta meninggal di meja operasi. Tiga bulan setelahnya, baru Lili berpulang dengan diagnosis masalah jantung yang terkait dengan penolakan transplantasi organ.

Kisah hidup Lili Elbe ini menjadi inspirasi untuk novel The Danish Girl (2000) dan film berjudul serupa yang dibintangi Eddie Redmayne dan Alicia Vikander. Lewat film ini, Alicia Vikander menyabet beberapa penghargaan seperti Oscar dan penghargaan Screen Actors Guild untuk pemeran pendukung perempuan terbaik.

Baca juga artikel terkait TRANSGENDER atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani

DarkLight