Kisah Om Liem dan Soeharto dalam Sejarah Tepung Terigu di Indonesia

Ilustrasi Gandum. FOTO/iStockphoto
Oleh: Petrik Matanasi - 11 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sejak zaman Orde Baru, Bogasari telah berjaya dalam bisnis tepung terigu.
Indonesia bukan negara penanam gandum. Namun, pertumbuhan konsumsi makanan yang terbuat dari gandum di negara ini cukup tinggi. Awalnya, orang-orang Belanda dan Eropa lainnya yang mukim di Indonesia terbiasa makan roti. Lalu makanan yang berupa mie instan digemari juga oleh masyarakat Indonesia.

Sejak zaman kolonial, angka impor tepung gandum di Indonesia cukup besar. Bahkan ketika era revolusi dan setelah pengakuan kedaulatan, impor tepung gandum tetap tinggi. Menurut catatan Kolonel Raden Mas Gonnie Soegondo dalam Ilmu Bumi Militer Indonesia-Volume 1 (1954:168), impor tepung gandum pada 1948 sebesar 63.223 ton; tahun 1949 sebanyak 68.617 ton; tahun tahun 1950 sebesar 53.979 ton; dan tahun 1951 mencapai 126.231 ton.

Setelah tahun-tahun tersebut, impor tepung gandum terus berlanjut. Sampai suatu hari beberapa pengusaha Indonesia berinisiatif untuk membangun penggilingan gandum di dalam negeri. Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto (2016:173) mencatat bahwa ide tersebut mulanya berasal dari Liem Poo Hien alias Jantje Liem alias Yani Haryanto. Namun, namanya kemudian tidak pernah disebut sebagai inisiator.

Versi lain tentang pendirian pabrik penggilingan gandum itu adalah berasal dari Geng Empat Serangkai, Liem Sioe Liong, Djohar Sutanto, Ibrahim Risjad dan Sudwikatmono. Mereka mengajukan proposal kepada pemerintah dan disetujui.

Versi lain lagi adalah ide ini berasal dari pembicaraan konglomerat Robert Kuok dengan Bustanil Arifin (tokoh yang kelak menjadi kepala Bulog dan menteri di era Orde Baru). Konon, saat itu Robert Kuok berkata, “Pak Bustanil, mengapa [kita] tidak membangun pabrik [penggilingan gandum] sendiri saja?”

Menurut Anthony Salim, putra Liem Sioe Liong, seperti dicatat Richard Borsuk dan Nancy Chng (2016:173-174), tanpa Robert Kuok tak mungkin pabrik penggilingan gandum itu menjadi milik Salim Group.

Sementara Bustanil Arifin berpendapat bahwa Liem Sioe Liong punya dua modal yang kuat untuk merealisasikan pembangunan pabrik tersebut, yakni lahan di sepanjang Teluk Jakarta dan kepercayaan dari Soeharto.

“Pada tahun 1970-an, Liem Sioe Liong datang pada saya dan minta saran tentang usaha apa yang bisa dilakukannya,” kata Soeharto seperti dikutip koran Merdeka ( 25/09/1995) dan termuat dalam buku Presiden ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita Buku XVII 1995 (2008:399).

“Saya berikan petunjuk. Saya bilang, kamu jangan hanya dagang cari untung. Tapi harus membangun industri yang dibutuhkan rakyat. Misalnya, pangan,” tambah Soeharto.


"Bukan Kolusi Saya dengan Oom Liem"

Perusahaan penggilingan gandum yang didirikan pada Mei 1969 itu diberi nama PT Bogasari Flour Mill. Modal awalnya sebesar Rp 500 Juta. Mulanya, kapasitas produksinya hanya 650 ton perhari, lalu pada 1990-an mencapai 9.500 ton perhari. Mesin gilingnya didatangkan dari Jerman Barat, sementara gandumnya didatangkan dari Australia.

Dalam Anggaran Dasar Bogasari tahun 1970, seperti dicatat Richard Robison dalam Indonesia: The Rise of Capital (2009:323), disebutkan bahwa 26 persen keuntungan Bogasari diserahkan kepada Yayasan Harapan Kita (dipimpin oleh Nyonya Siti Hartinah Soeharto) dan Yayasan Dharma Putra (milik Kostrad yang pernah dipimpin Soeharto).

Ketika baru didirikan, Bogasari mendapat pinjaman dana dari bank sebesar Rp 2,8 miliar. Jika Bogasari sebagai pabrik penggilingan gandum, maka Bulog bertindak sebagai importir gandum dan distributor tepung terigu.

Bogasari resmi beroperasi sebagai pabrik penggilingan gandum pada 29 November 1971 yang berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mereka meluncurkan tiga merek produk perdana yaitu Cakra Kembar, Segitiga Biru, dan Kunci Biru. Setahun berikutnya, pabrik Bogasari di Tanjung Perak, Surabaya berdiri. Demi kelancaran bisnis, pada 1977 didirikan pabrik kantong terigu yang berlokasi di Citeureup, Jawa Barat.





Pada tahun 1980-an, Bogasari dianggap memonopoli bisnis tepung terigu di Indonesia. Selain Bogasari, perusahaan lain yang didirikan oleh Liem Sioe Liong dan dianggap melakukan monopoli adalah PT Indocement Tunggal Perkasa. Atas kejayaan usaha Liem Sioe Liong itu Soeharto sempat berkata, “Itu bukan kolusi saya dengan Om Liem.”

Kolusi atau bukan, nyatanya adik sepupu daripada Soeharto, yakni Sudwikatmono pernah memimpin Bogasari. “Dwi (Sudwikatmono) adalah wajah Cendana di dunia bisnis,” tulis Richard Borsuk dan Nancy Chng (2016:103). Ia juga pernah memimpin Indocement dan Indofood.

Industri tepung gandum Bogasari terkait erat dengan Indofood yang dikenal sebagai salah satu produsen mie instan. Ketika terjadi kelangkaan beras pada tahun 1970-an, seperti diungkapkan Piet Yap dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto (2016:301), pemerintah meminta Bogasari untuk mempromosikan terigu sebagai pengganti beras. Produksi mie instan itu salah satunya untuk memasok bahan pangan para PNS dan prajurit ABRI.

Kejayaan Salim Group dalam bisnis tepung terigu dan olahan gandum lainnya membuat menu makanan orang Indonesia tidak lagi sekadar nasi. Konsumsi mie instan dan roti yang terbuat dari tepung terigu semakin meningkat. Dan impor gandum terus berjalan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight