Obituari

Kisah Bisnis Karmaka Surjaudaja Bermula Kala Selamatkan Bank Mertua

Karmaka Surjaudaja. FOTO/Istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 18 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Karmaka Surjaudaja masuk ke dunia perbankan saat ekonomi Indonesia sedang bermasalah. Niatan awalnya hendak menyelamatkan bank milik mertua.
Kwee Tjie Kui adalah seorang guru di Hokja, Fujian, daratan Tiongkok. Ketika pengusaha Tionghoa bernama The Tjie Tjoen memberi tawaran mengajar di Bandung, Kwee Tjie Kui pun tergiur. Dia pergi lebih dulu, lalu istrinya menyusul bersama bayi berusia 10 bulan yang dinamai Kwee Tjie Hoei. Dalam pelayaran yang tak mudah itu, si bayi kena diare dan nyaris tak boleh masuk Hindia Belanda. Berkat jaminan The Tjie Tjoen, bayi itu bisa tinggal di Hindia Belanda dan diarenya perlahan sembuh.

Pada 4 April 1941, kala Kwee Tjie Hoei berumur 6 tahun, seperti dicatat Laporan Tahunan 2018 Bank OCBC NISP (2019: 50, PDF), Gustaaf Adolf van Haastert, Otto Richard Wermuller von Elg, dan Erich Wademar Emanuel Denniger mendirikan sebuah bank bernama NV Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank (NISP). Bank itu didirikan dengan Akta No. 6 yang dibuat di hadapan Notaris Th. J. Indewey Gerlings tanggal 4 April 1941 dan disahkan pemerintah kolonial.

Bank tersebut adalah bank simpan pinjam dan termasuk sebagai salah satu yang tertua di Indonesia. Setelah masa pendudukan Jepang dan Revolusi Indonesia bergolak, seluruh saham bank itu pindah tangan ke Lim Khe Tjie pada 1948.


Dari Guru hingga Bankir

Beberapa tahun setelah Lim Khe Tjie jadi pemilik NISP, Kwee Tjie Hoei menjadi guru di Bandung. Sejak 1954 hingga 1958 Kwee Tjie Hoei mengajar sekolah dasar dan menengah Nan Hua. Semasa jadi guru itulah dia berkenalan dengam Liem Kwei Ing, anak dari Liem Khe Tjie. Mereka berdua pun kian dekat dan akhirnya menikah pada 1959.

Setelah menikah, Kwee Tjie Hoei berhenti jadi guru. Sang mertua kemudian memperkenalkannya kepada Tan Lin Tjik, pemilik pabrik tekstil NV Padasuka di Majalaya. Tan Lin Tjik pun lalu mempekerjakan Kwee Tjie Hoei.

Dahlan Iskan dalam Tidak Ada yang Tidak Bisa (2013: 58) menggambarkan kehidupan Kwee Tjie Hoei dengan dramatis: “Karena lokasi pabrik ini ada di Majalaya, maka tiap hari Karmaka harus menempuh perjalanan jauh. Pukul 05.00 dia sudah harus berada di dekat alun-alun Bandung, tepatnya di depan bioskop Radio City. Di situ dia menunggu truk tentara yang lewat yang biasanya mau dinunuti (ditumpangi) secara gratis ke Majalaya.”

Setelah beberapa tahun bekerja di sana, Kwee sempat menjadi wakil pimpinan pabrik. Kemudian dia pindah kerja dan sempat menjadi direktur PT Dharma Kusuma di Cimahi.

Suatu kali pada 1959 Lim Khe Tjie dan istrinya berangkat ke makam orang tuanya di Hokja. Sialnya, mereka dicekal dan tak bisa pulang ke Indonesia. Terpaksa, Lim Khe Tjie dan istrinya tinggal di Hongkong. Liem Khe Tjie lalu mengalami kesulitan mengurus NISP. Akhirnya dia minta tolong kepada Kwee untuk menyelamatkan bank tersebut. Kwee duduk sebagai direktur operasional NISP. Tapi statusnya yang masih warga negara asing sempat jadi hambatan.

“Sungguh tidak saya duga bahwa kewarganegaraan saya keluar dengan tekenan (tanda tangan) Presiden Sukarno,” aku Kwee Tji Hoei yang akhirnya memakai nama Karmaka Surjaudaja.


Dokumen kewarganegaraan Kwee dan seorang pastur adalah yang terakhir ditandatangani Sukarno sebelum kejatuhannya sebagai presiden. Sedangkan istri Kwee, Lim Kwei Ing, akhirnya memakai nama Lelarati Lukman. Anak-anak mereka pun kemudian memakai nama belakang Surjaudaja.

Suatu kali, seperti diceritakan Dahlan dalam buku tentang Kwee dan film Love and Faith (2015), Karmaka berjuang keras mempelajari dan menyelesaikan masalah di bank milik mertuanya. Salah satunya dengan memperbaiki kepercayaan para nasabah.

Karmaka kerap terancam nyawanya. Dia bahkan sempat diculik, namun bisa melarikan diri. Ketika melarikan diri, tempat yang dituju adalah rumah Jenderal Sutoko, seperti pesan mertuanya. Dari Sutoko, Karmaka diberi tahu bahwa mertuanya adalah seorang pro-Republiken di era Revolusi. Sutoko pun mengerahkan anak buahnya untuk melindungi Karmaka.


Ujian sebagai Bankir

Meski sudah membersihkan banknya dari orang-orang yang merugikan, bukan berarti NISP tak bebas masalah. Pada 13 Desember 1965 pemerintah melakukan devaluasi atau sanering yang membuat uang seribu rupiah menjadi satu rupiah. Banyak nasabah menarik uang dari NISP. Banyak pula pekerja bank yang hendak diberhentikan. Di sinilah Karmaka diuji sebagai bankir. Ratusan bank ditutup pada waktu itu. Tahun-tahun sulit, era 1960-an, akhirnya bisa dilewati tanpa harus kehilangan NISP yang dititipkan mertuanya.

NISP jalan terus bersama Karmaka Surjaudaja. Pada 1967 NISP pun menjadi bank komersial. Sejak 1972 singkatan NISP berubah menjadi Nilai Inti Sari Penyimpan. Enam tahun kemudian NISP bukan lagi menjadi singkatan, melainkan nama bank, yakni Bank NISP.

Posisi Karmaka di bank jadi semakin penting. Karmaka adalah Presiden Direktur untuk periode 1971 hingga 1997 dan Presiden Komisaris pada periode 1997 hingga 2008. Sementara Lelarati Lukman menjadi komisaris antara 1997 hingga 2011. Pada 1990 NISP menjadi bank devisa.

NISP menjadi lebih besar lagi ketika Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC) Bank dari Singapura masuk sebagai pemegang saham, setelah melalui serangkaian akuisisi dan penawaran sejak 2004. OCBC bukan bank kemarin sore. Bank ini tergolong tua juga di Asia. OCBC terbentuk sebagai bank gabungan di era sulit pasca-depresi ekonomi dunia pada awal 1930-an. Tak hanya melewati krisis ekonomi, tapi juga melalui masa pendudukan Jepang (Perang Dunia II) yang merusak ekonomi rakyat Singapura. Sejak 2008, setelah penggabungan, nama bank berubah menjadi OCBC NISP dengan logo yang berganti pula.

Baca juga artikel terkait OCBC NISP atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight