18 April 1955

Kisah Albert Einstein dari Fisikawan ke Pesohor

Oleh: Uswatul Chabibah - 18 April 2021
Dibaca Normal 4 menit
Einstein adalah ikon fisika pada awal abad ke-20. Pada dekade-dekade selanjutnya, ia menjadi pesohor.
tirto.id - Pada April 2007, Mariah Carey merilis album berjudul E=MC2, yang terinspirasi dari rumus persamaan energi dan massa yang dicetuskan Albert Einstein. E=MC2 Mariah Carey artinya “emansipasi Mariah Carey untuk kali kedua”. Sesuai 'potensi energi' materi di dalamnya, E=MC2 meledak di beberapa negara.

Apakah Mariah Carey seorang pengagum Einstein atau penggemar teori-teori fisika?

“Teori Einstein? Fisika? Saya? Ya, ampun! Saya ujian remedial matematika saja enggak lulus. Saya enggak akan lulus ujian matematika anak kelas tujuh di kelas paling bawah bersaing dengan anak paling bodoh sekalipun,” demikian pengakuan sang diva ketika ditanya NME tentang asal-muasal nama albumnya.

Kemasyhuran Albert Einstein melampaui teori-teori fisikanya yang mengubah pemahaman tentang energi, massa, waktu, ruang, dan gravitasi. Einstein mengumumkan teori relativitas khusus pada 1905, teori relativitas umum pada 1915, dan baru pada 1921 memperoleh Hadiah Nobel untuk fisika atas jasanya dalam bidang fisika teori dan hukum fotoelektrik. Sebagaimana dicatat The New Encyclopedia Britannica, Volume 18, 1992 (hlm. 156) teori relativitas yang ketika itu masih kontroversial tidak disebut-sebut oleh panitia Nobel.

Tak mudah berteori di Jerman yang saat itu tengah berlaga dalam Perang Dunia I. Kelaparan melanda seluruh negeri akibat blokade. Einstein bahkan sempat terbaring sakit. Teori relativitas umum yang ia publikasikan pada 1915 bertahun-tahun terperangkap di Jerman. Waktu itu, tak seorang pun tertarik pada gagasan ilmuwan Jerman, musuh negara-negara Sekutu (Britania Raya, Rusia, Prancis).

Adalah Willem de Sitter, seorang ahli fisika dan astronomi Belanda—negeri netral dalam Perang Dunia I—yang rajin mengirimkan surat dan makalah teori relativitas umum Einstein kepada Arthur Eddington di Inggris. Eddington adalah sekretaris Royal Astronomical Society dan seorang Plumian Professor di Cambridge. Sebagai penganut Quaker, Eddington antikekerasan. Baginya, perang serta permusuhan tidak pantas menghalangi produksi ilmu pengetahuan.

Pada 1919, Eddington mulai menggalang dukungan Inggris dan komunitas sains internasional demi membuktikan teori relativitas umum. Gagasan mengenai ruang-waktu yang dicetuskan ilmuwan negara musuh jelas tidak menarik di tengah gempuran kapal selam Jerman yang menenggelamkan kapal-kapal logistik Inggris. Tetapi Eddington bersikeras membuktikan teori Einstein, bahwa seberkas cahaya akan mengalami pelengkungan lintasan bila melalui medan gravitasi, misalnya matahari. Teori ini bisa diuji dengan memotret bintang-bintang selama terjadi gerhana matahari. Pengujiannya harus dilakukan ketika terjadi gerhana matahari total karena ketika tidak terjadi gerhana, matahari terlalu terang menerangi atmosfer sehingga bintang-bintang di dekat cakram matahari tidak tampak.

Untungnya, terjadi gerhana matahari total pada 29 Mei 1919. Fenomenanya hanya bisa terlihat jelas di belahan bumi selatan. Royal Astronomy pun mengumpulkan peralatan dan dana untuk membiayai ekspedisi astronomi ke belahan bumi selatan. Dua ekspedisi astronomi diberangkatkan, satu tim ke Brazil, dan satu tim lagi yang dipimpin Eddington menuju Pulau Principe di Afrika Barat. Hampir-hampir Eddington tidak dapat berangkat karena terancam masuk penjara akibat pandangan politiknya yang antiperang.

Di belahan bumi selatan, ketika langit gelap total selama enam menit itulah para astronom Inggris anggota ekspedisi memotret pembelokan lintasan bintang, yang teorinya dicetuskan oleh ilmuwan dari negeri musuh. Hasil pembuktian ini kelak mengubah selamanya pemahaman kita akan alam semesta dan gravitasi yang telah bertahan selama dua abad. Einstein yang sedang terbaring sakit di Berlin tidak mengetahui tentang ekspedisi dan pembuktian ini. Baru pada 22 September 1919, sebuah telegram pendek dari Belanda tiba di rumah Einstein dan mengabarkan ekspedisi Eddington yang mengkonfirmasi teorinya.


Sebagaimana ditulis Paul Harpern dalam "Albert Einstein, Celebrity Physicist" (Physics Today, 2019), Setelah beberapa bulan melakukan pengukuran intensif atas hasil pemotretan bintang-bintang kala gerhana, pada 6 November 1919, Eddington mengumpulkan ilmuwan terkemuka dan jurnalis untuk mengkonfirmasi kebenaran teori Einstein. J.J. Thomson, Presiden Royal Society, menyatakan teori itu sebagai “salah satu pencapaian tertinggi dalam pemikiran manusia”. Keesokan harinya, Times London memuat beritanya di halaman depan dengan judul besar “Revolusi dalam Sains. Teori Baru Alam Semesta: Gagasan Newton Terjungkal”.

Berita itu menyebar ke seluruh dunia yang tengah mencoba pulih dari perang. Berturut-turut pada 9 dan 10 November 1919, New York Times melaporkan hasil pembuktian Eddington. “Di langit, cahaya bersinar miring: para ilmuwan gembira dengan hasil observasi gerhana. Bintang-bintang ternyata tidak sedekat itu....” Keesokan harinya pada 11 November, untuk pertama kalinya New York Times menggunakan istilah “teori relativitas”. Selama sebulan, terbit puluhan artikel tentang Einstein, teori, dan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak saat itu, hidup Einstein tak lagi sama.

Kekuatan Media dan Pilihan Diksi

Ketika Perang Dunia I usai pada akhir 1918, pemberitaan sains mendapat tempat secara dramatis di media-media di Amerika Serikat—yang baru bergabung dalam Perang Dunia I pada April 1917 sebagai Sekutu melawan Jerman.

Penggunaan senjata kimia dan peralatan perang hasil kemajuan sains serta teknologi mendorong para ilmuwan AS untuk memberitakan sisi baik sains dan teknologi. Pada 1919, The American Chemical Society membuka biro berita yang rutin mengeluarkan rilis untuk melaporkan kemajuan di bidang kimia. Dua tahun kemudian, masih dari catatan Harpern, juragan media E.W. Scripps dan biolog William Ritter mendirikan Science Service yang bertujuan membangun citra positif sains melalui berita dan foto. Pada 1927, New York Times bahkan mempekerjakan seorang editor sains, Waldemar Kaempffert. Jurnalisme sains pun jadi bergengsi karenanya. Einstein muncul bertepatan ketika masyarakat Amerika Serikat begitu haus akan pemberitaan sains.

Infografik Mozaik Einstein
Infografik Mozaik Einstein


Ketika “teori relativitas” muncul di media, Einstein merasa bahwa itu bukan istilah yang tepat. “Prinsip kovarians” adalah istilah yang benar, tapi “teori relativitas” sudah kadung kondang. Jika Einstein bersikeras merevisi nama teorinya menjadi “prinsip kovarians”, bisa jadi teori itu tidak sebeken teori relativitas. Teori relativitas memungkinkan masyarakat awam membayangkan bahwa ruang dan waktu bukanlah perkara mutlak yang statis. “Mulai hari ini dan seterusnya, ruang dan waktu hanyalah bayangan belaka,” demikian penjelasan Einstein yang kemudian dijuluki "penghancur ruang dan waktu".

Bagaimana teori relativitas bisa terbukti melalui observasi sederhana dalam gerhana matahari total juga berbekas dalam ingatan publik. Ketika biasanya suatu teori ilmiah muncul melalui pengamatan panjang dan pengumpulan data yang membutuhkan waktu lama, teori relativitas dibuktikan melalui sebuah fenomena alam. Terlebih, teori Einstein tidak menggunakan istilah-istilah teknis fisika yang sulit dieja seperti “kuantum”, “kuark”, atau “double helix”. Sebagaimana dituturkan Marshall Missner dalam “Why Einstein Became Famous in America?”, Social Studies of Science (1985), teori relativitas menggunakan bahasa sehari-hari seperti ruang dan waktu, semesta yang melengkung, cahaya yang dibelokkan, atau empat dimensi. Diksi-diksi itu akrab di telinga, meskipun kombinasinya membuat dahi berkerut juga: seperti apakah rupa ruang yang melengkung? Dimensi apalagi di jagat raya ini selain panjang, lebar, dan tinggi? Saking mengganggunya, pertanyaan-pertanyaan itu pun diingat.

Pada 1921, Einstein diundang ke Amerika Serikat sebagai bagian dari rombongan Zionis. Tetapi media-media utama AS lebih tertarik meliputnya sebagai fisikawan. Para jurnalis sudah siap menyambut kedatangan seorang profesor fisika yang dianggap menyeramkan dan serius. Yang mereka temui sebaliknya: seorang pria dengan pakaian sederhana, informal, rambut tak terurus, yang kelak menjadi salah satu ikon kultural abad ke-20 dan sumber kutipan menarik yang tak ada habisnya. Foto Einstein pertama yang beredar di media-media utama AS menggambarkan sang ilmuwan memegang biola dan mengenakan jas berpotongan jelek—Einstein adalah pemain biola yang hebat sejak usia 6 tahun.

Ketika meninggalkan AS pada musim panas 1921, Einstein resmi menjadi pesohor--hingga hari ini. Einstein kemudian tersematkan pada banyak hal, mulai dari mainan anak-anak, prangko, mata uang, sampul majalah, dan hingga benda apapun yang bisa dipasangi fotonya.

Kematian pada 18 Maret 1955 sama sekali tidak menyurutkan nama Einstein sebagai ikon kejeniusan. Einstein telah menjelma strategi marketing. Sebuah katalog produk kaos kaki dan stoking wanita dari Pennaco Hosiery mengeluarkan koleksi musim gugur-dingin 1979 dengan judul “The Theory of Relativity Fall-Winter 1979”. Katalog yang menandai 100 tahun kelahiran Einstein itu (14 Maret 1879) tak lupa menyelipkan kalimat “Terima kasih atas teorinya, Mr. Einstein, dan selamat uang tahun ke-100!”.

Jelas tak ada hubungannya antara stoking dengan teori relativitas—mungkin pemakainya bisa menjadi relatif seksi. Tak perlu menjadi jenius juga untuk menggunakan produk-produk yang menyandang nama Einstein. Tetapi Mariah Carey, meskipun tidak mengerti matematika anak kelas tujuh, begitu awas melihat inisial namanya dalam formula E=MC2.

Dan itulah kejeniusan Mariah Carey.

Baca juga artikel terkait FISIKA atau tulisan menarik lainnya Uswatul Chabibah
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Uswatul Chabibah
Editor: Windu Jusuf
DarkLight