Achmad Djajadiningrat

Ketika Bocah-Bocah di Sekolah Kolonial Meledakkan "Bom"

Oleh: Petrik Matanasi - 22 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Semasa bersekolah di Jakarta, Achmad Djajadiningrat adalah siswa yang nakal dan pernah meledakan petasan di sekolah.
tirto.id - Ketika usia belasan, banyak remaja yang suka melawan semuanya, ingin mengesankan diri sebagai pemberani dan jagoan. Termasuk melawan polisi sekalipun. Salah satunya adalah Achmad Djajadiningrat, anak Bupati Pandeglang.

Ketika sekolah menengah di HBS Koning Willem III, Batavia, pria kelahiran 16 Agustus 1877 itu beranggapan terlihat jagoan dan pemberani, bahkan jahat, akan lebih baik ketimbang diremehkan. Untuk itu, dia tak segan melawan siapapun, termasuk polisi dan pejabat sekolah.

Achmad ikut klub mendayung. Suatu malam, bersama kawan-kawannya, Achmad ikut mendayung menyusuri Sungai Ciliwung. Sasaran mereka adalah pondokan para gadis-gadis.

“Kami sedang hendak membangunkan gadis-gadis itu sambil mengetuk pintu belakang rumah penginapan mereka, tiba-tiba kami dikepung oleh beberapa agen polisi yang dikepalai seorang Schout (kepala polisi)," ujar Achmad.

Polisi tak langsung menyeret para pelajar sekolah menengah kolonial itu, hanya mencatati nama-nama mereka. Beberapa hari kemudian, mereka menghadap ke Asisten Residen Meester Cornelis (Jatinegara). Achmad terancam menghadap Jaksa dan akan diseret polisi. Namun Achmad cukup kebal hukum, sebab dia anak penggede. Jaksa kesal, dan hanya bisa memarahi Achmad habis-habisan.

Tentu saja Achmad punya kawan nakal, seorang peranakan Belanda yang dia kenal sejak sebelum bersekolah di HBS. Dalam Memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat (1996:94-99), Achmad tidak menyebut dengan jelas siapa nama kawannya itu, hanya disebut inisialnya saja: GB.

GB memang bukan Belanda totok. Ayahnya seorang Belanda yang menjadi komisi pengawas HBS KW III, beristrikan seorang perempuan pribumi biasa. Meski bukan Belanda murni, GB bisa dibilang bocah sempurna. Di mata Achmad, GB encer otaknya dan bokapnya tajir hingga bisa foya-foya. Hal terpenting bagi Achmad yang pribumi, GB tidak pilih-pilih teman berdasarkan ras. Mereka berdua tidak tinggal berjauhan.



“Di rumahnya (GB) ada sebuah laboratorium untuk belajar kimia. Ada banyak zat-zat kimia yang dicurinya dari laboratorium HBS untuk melengkapi laboratoriumnya. Yang dicurinya tidak hanya barang yang murah, bahkan sampai natrium dan sebagainya dibawanya pulang,” tulis Achmad.

Selain itu, blangko untuk rapor pun pernah dicuri dan dibagikannya ke kawan-kawannya, lumayan untuk bikin rapor palsu. Tida hanya itu, data seorang guru pun pernah dimanipulasi GB berkat kunci palsu miliknya. Achmad termasuk yang nilai minusnya bisa dijadikan plus oleh GB. Mau tidak mau, Achmad pun akrab dengan GB.

Meski Achmad bisa dibilang anak badung, dia bisa takut juga pada GB. Saat itu Achmad tak sengaja melihat GB sedang bersama beberapa penjahat Indo pengacau keamanan kota Batavia. Suatu malam, GB bahkan terlihat dengan pakaian pribumi ikut pesta tayuban di sebuah kampung orang asing.

Suatu waktu, sekolah HBS KW III akan berulang tahun ke 30. Beberapa siswa mengusulkan acara perayaan berupa pesta. Namun direktur sekolah menolaknya. GB pun mengorganisir siswa-siswa untuk melakukan protes terhadap direktur.

“Protes akan dijalankan dengan menggemparkan seisi sekolah dengan bom,” tulis Achmad.

Infografik Pangeran Achmad Djajadiningrat
Infografik Pangeran Achmad Djajadiningrat


Tiap siswa pun dipungut iuran 10 sen per orang. Tak butuh lama uang untuk bikin "bom" pun sudah terkumpul, dan tentu saja GB yang akan membelinya.

Namun salah satu murid yang ikut menyumbang itu ketakutan. Dalam benaknya, bom yang akan disulut oleh GB adalah seperti yang dipakai kaum Anarki Rusia dalam revolusi. Akhirnya siswa itu membocorkan rencana "kerusuhan" itu ke ayah GB yang jadi komisi pengawas sekolah.

Pada hari yang ditentukan, Achmad mendapat tugas membawa bom yang dia tutupi pembungkus roti. Meski bom sudah ditutup, Achmad tetap merasa tidak tenang. Apalagi persiapan aksi itu membuat Achmad telat masuk kelas. Sialnya Direktur HBS sudah di dalam kelas juga. Kepada para murid, direktur mengatakan bahwa dia telah menerima surat kaleng soal siswa-siswa yang hendak menggemparkan sekolah dengan bom dan direktur berharap agar siswa kelas 4 mencegahnya.

“Dalam kegugupan, 'bom' yang saya genggam itu terjatuh. Karena takut terlihat oleh direktur, saya sepak ke bawah bangku,” aku Achmad.

Bom itu kemudian diamankan oleh salah satu kawan Achmad, dan dipindah ke bawah tiang listrik. Ketika istirahat, Achmad menemui kawan-kawan komplotannya dan meminta mereka meledakan bom itu secara terang-terangan, karena rencana mereka sudah ketahuan direktur. Sialnya, ketika Achmad membicarakan itu, bom meledak.

“Tiba-tiba terdengar suara bunyi letusan yang sangat diiringi suara retakan kaca dan pecahan botol,” tulis Achmad.

Untungnya, bom yang dimaksud Achmad bukan bom dengan daya ledak besar, hanya seperti petasan. Penyelidikan pun dilakukan. Achmad pun pilih mengaku. Para siswa yang terlibat pun kena skors, termasuk si pribumi Achmad. Setelahnya, Achmad pun menjauh dari GB.

Achmad bukan satu-satunya anak sekolah yang nakal di Jakarta pada masa lalu. Pada 1940, berpuluh tahun setelah Achmad lulus, anak sekolah yang nakal juga ada di Batavia. Koran Kaoem Moeda (01/03/1940) memberitakan polisi menangkapi bocah-bocah pencuri di perpustakaan umum, yang di antaranya anak sekolah di Betawi. Mereka menamakan perkumpulan itu sebagai: De Wrekende Hand (Tangan Setan).

Selepas lulus dari HBS KW III, Achmad mulai berkarir di pangrehpraja dengan magang di kantor kejaksaan Serang lalu kantor residen Serang. Kariernya lalu merangkak naik jadi asisten wedana, pada 1901 jadi Bupati Serang, dan pada 1918 dia jadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) Hindia Belanda.


Lalu bagaimana dengan GB, kawan Achmad yang punya pikiran bebas dan berani melawan banyak hal? Sayangnya, seperti ditulis Achmad (1996:94), GB “dihukum mati karena membunuh orang.” Jika menebak-nebak, orang terkenal dengan inisial GB yang dihukum mati pada zaman itu adalah Gemser Brinkman.

Gemsar Brinkman didakwa membunuh seorang pelacur Indo bernama Fientje de Feniks. Seperti ditulis Rosihan Anwar, dalam Sejarah Kecil, "Petite Histoire" Indonesia, Volume 1(155), disebut Brinkman sering membayar Fientje untuk berkencan. Ada yang sebut, Gemsar bernafsu menjadikan Fientje sebagai gundiknya, tapi Fientje menolak jika dirinya hanya untuk Gemsar semata. Namun belum sempat vonis dilaksanakan, Brinkman keburu bunuh diri.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nuran Wibisono