Ketika AS Nelangsa Karena Perang Dagang dengan Cina

Oleh: Dea Chadiza Syafina - 17 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Babak baru perang dagang antara AS dengan Cina memukul sektor pertanian di Negeri Paman Sam.
tirto.id - "Tarif akan membuat Negara kita JAUH LEBIH KUAT, bukan lebih lemah. Duduk dan saksikan saja! Sementara itu, Cina seharusnya tidak menegosiasikan kembali kesepakatan dengan AS pada menit terakhir. Ini bukan Pemerintahan Obama, atau Sleepy Joe, yang membiarkan Cina lolos dengan "pembunuhan!".

Seruan itu ditulis Presiden Amerika Serikat (AS), Donald J. Trump di akun twitternya @realDonaldTrump pada Jumat (10/5) lalu sekaligus menandai babak baru perang dagang antara AS dengan rival utamanya Cina, negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Ironisnya, pernyataan Trump dilontarkan pasca pertemuan terakhir untuk pembicaraan mengakhiri perang dagang yang dilakukan oleh Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dengan Wakil Perdana Menteri Cina, Liu He di Washington, AS.

Imbasnya, bursa saham berguguran. Pelaku pasar masih terus waspada akan kelanjutan negosiasi dagang kedua negara. Pada Selasa (14/5), indeks acuan Hang Seng ambruk 2,1 persen pada pembukaan perdagangan. Shanghai Composite Index jatuh 1,51 persen, diikuti oleh Straits Times yang melemah 0,89 persen dan indeks Kospi yang terpangkas 0,9 persen.

Ketegangan meningkat setelah Trump menyatakan bahwa industri teknologi AS berada dalam kondisi 'darurat nasional' dan memutuskan untuk mengeluarkan mandat yang membatasi ruang gerak perusahaan teknologi raksasa Cina, Huawei dan ZTE Corp pada Rabu, (15/5). Ia telah menandatangani surat yang menyatakan kedua perusahaan tersebut tidak dapat melakukan bisnis dengan perusahaan AS tanpa izin khusus.


Bursa saham di Benua Kuning kemudian kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (16/5). Indeks acuan Hang Seng anjlok 0,53 persen, Straits Times turun 0,19 persen, Nikkei 225 terkoreksi 0,17 persen, dan indeks Shanghai dibuka stagnan.

Imbas perang dagang juga melanda bursa AS. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJI) kehilangan 457 poin pada sesi pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (13/5), menyusul sikap tegas Cina mengenakan tarif balasan untuk produk impor AS. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing juga terkoreksi 1,5 persen dan 2,2 persen. Sepanjang pekan ini, indeks Dow Jones dan S&P 500 mengalami pelemahan masing-masing sebesar 1,6 persen. Nasdaq, sementara itu, terpangkas 2,3 persen.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak pelak mengalami pukulan telak. IHSG terus melemah sepanjang pekan dan mulai menjauhi titik psikologis 6.000. Pada Rabu, IHSG ditutup di posisi 5.980,885 poin. Pada penutupan perdagangan sesi pertama di hari Kamis, IHSG berada di posisi 5.917,787 atau terpangkas 1,06 persen.

Balasan Cina

Pemerintah Cina sendiri menyambut dingin deklarasi perang dagang Trump. Melalui pernyataan tertulis, Kementerian Perdagangan Cina menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan dalam menghadapi penetapan kenaikan tarif bea masuk impor ini.

"AS telah menaikkan tarif terhadap barang-barang ekspor Cina senilai 200 miliar dolar AS dari 10 persen menjadi 25 persen. Cina merasa sangat menyesal atas hal itu. Jika langkah-langkah tarif AS diterapkan, Cina harus mengambil tindakan penanggulangan yang diperlukan," tulis Kementerian Perdagangan Cina dalam laman resminya.

Langkah 'penanggulangan' Cina terhadap sanksi AS adalah dengan menaikkan pula tarif bea masuk bagi importasi produk asal AS senilai 60 miliar dolar AS dari 5 persen dan 10 persen menjadi 20 persen dan 25 persen. Pemerintah Cina menjadikan berbagai produk agrikultur atau pertanian AS sebagai sasaran empuk.

Sebagai informasi, Cina membeli 60-65 persen impor kedelai dunia dan AS mengekspor hampir setengah dari produksi kedelai mereka ke negara di kawasan Asia. Para petani kedelai AS sendiri menaruh harapan besar terhadap permintaan ekspor kedelai dari Cina.


Melansir Investing.com, kedelai berjangka AS mencapai level terendah dalam 11 tahun dengan harga di bawah 8 dolar AS per gantang pada awal pekan ini. Kombinasi tarif bea masuk impor yang tinggi dan harga komoditas pertanian yang tertekan, membuat tekanan terhadap petani AS meningkat.

Ekspor kedelai AS yang pada 2017 bernilai 12 miliar dolar AS menjadi komoditas yang terpukul paling parah. Nilainya menyusut menjadi 3,14 miliar dolar AS pada 2018, sejak Trump pertama kali mengumumkan perang dagang. Per September hingga pertengahan Desember 2018, ekspor kedelai AS ke Cina hanya berjumlah 341 ribu ton. Angka itu turun jauh dibandingkan dengan 18 juta ton pada periode yang sama 2017. Padahal, petani AS telah memanen kedelai dengan rekor mencapai 125 juta ton.

Infografik Ekspor Komoditas AS Terbesar ke Cina
Infografik Ekspor Komoditas AS Terbesar ke Cina. tirto.id/Fuad

Rintihan Petani AS

Melansir BBC, Davie Stephens, Presiden American Soybean Association (ASA) dan petani kedelai di Kentucky bagian barat, AS, mengatakan bahwa petani di AS dalam "situasi putus asa."

"AS telah berada di meja perundingan dengan Cina sebanyak 11 kali sekarang dan masih belum mencapai kesepakatan. Bagi petani kedelai, ini artinya kita kalah. [Kita] Kehilangan pasar yang berharga, kehilangan harga yang stabil, kehilangan kesempatan untuk mendukung keluarga dan komunitas kita," ujar Davie, dikutip dari laman resmi ASA.

"Kami membutuhkan waktu lebih dari 40 tahun untuk membangun dan mengembangkan pasar kedelai di Cina. Ketika konfrontasi ini berlanjut, pasar kedelai akan makin sulit untuk pulih."

Selain ASA, asosiasi petani lain seperti Asosiasi Nasional Penanam Gandum (National Assocation of Wheat Growers/ NAWG) dan juga Asosiasi Penanam Jagung Nasional (National Corn Growers Association/ NCGA) pun turut mengecam keputusan Donald Trump. Sebagai catatan, kedelai, gandum dan juga jagung merupakan tiga komoditas utama yang mewakili sekitar 171 juta hektare lahan pertanian di AS.


Presiden NAWG yang sekaligus petani gandum asal Texas, Ben Scholz, mengungkapkan bahwa keputusan mengenai kenaikan tarif tambahan akan terus menekan pasar ekspor produk pertanian termasuk gandum dan mengancam perkembangan pasar selama beberapa dekade.

Keluhan juga dilontarkan oleh Presiden NCGA, Lynn Chrisp yang menyatakan bahwa harga komoditas jagung terus turun di tengah ancaman tarif yang sedang berlangsung. Padahal, sudah banyak petani jagung di AS yang saat ini tidak bisa menanam di musim semi lantaran cuaca yang basah sehingga tidak mendukung produksi jagung.

"Meminta Cina untuk bertanggung jawab atas perilaku yang tidak menyenangkan adalah tujuan yang patut dikagumi. Tetapi, efek riaknya menyebabkan kerugian bagi petani dan masyarakat pedesaan. Pertanian membutuhkan kepastian, bukan tarif," ungkap Lynn, masih dari laman resmi ASA.

Kenaikan tarif juga mengancam kinerja perbankan. Sebab, para petani akan melakukan restrukturisasi pinjaman utang untuk bertahan dari harga komoditas yang rendah. Will Snell, Ekonom Pertanian dari Universitas Kentucky, AS, mengatakan, kenaikan tarif membuat tekanan yang lebih buruk bagi situasi ekonomi petani AS.

"Bukan hanya petani yang menderita tetapi juga pemberi pinjaman. Ini karena kita memiliki tantangan arus kas dan likuiditas dalam beberapa tahun terakhir," ucap Will, dilansir WFPL News.

Baca juga artikel terkait PERANG DAGANG AS-CINA atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara