tirto.id - Rhabdomyolysis dapat terjadi karena kerusakan jaringan otot akibat olahraga ekstrem tanpa diimbangi istirahat cukup. Selain itu, bisa disebabkan kecelakaan, kelelahan ekstrem, trauma, dan obat-obatan tertentu. Gejala Rhabdomyolysis umumnya berupa pembengkakan otot, kelemahan otot, serta otot terasa nyeri dan sakit saat disentuh.
Rachel Apa (24 tahun), asal Lewisberry, Pennsylvania, dilaporkan meninggal dunia setelah mengikuti Maraton Kota New York pada Minggu sore (3/11/2026). Sebelum meninggal, ia jatuh pingsan sekitar 3 kilometer sebelum garis finis.
Perempuan yang baru pertama kali mengikuti maraton ini sempat ditangani oleh tim medis, lalu dibawa ke rumah sakit terdekat. Berdasarkan hasil diagnosa dokter yang disampaikan kepada ayahnya, Rachel Apa meninggal akibat Rhabdomyolysis.
Rhabdomyolysis terjadi ketika otot mengalami kerusakan akibat aktivitas fisik berlebihan. Penyakit ini menyebabkan komponen beracun dari serat otot masuk ke dalam aliran darah dan ginjal. Akibatnya, ginjal tidak mampu mengeluarkan zat beracun tersebut hingga terjadi komplikasi. Rhabdomyolysis juga memengaruhi detak irama jantung.
Rhabdomyolysis yang parah dapat menyebabkan kecacatan permanen hingga menyebabkan kematian. Namun, jika ditangani dengan cepat, penderita bisa sembuh dan dapat beraktivitas kembali.
Mengenal Rhabdomyolysis dan Faktor Penyebabnya
Rhabdomyolysis (rhabdo) termasuk penyakit langka yang bisa membahayakan nyawa. Rhabdomyolysis bisa terjadi karena kerusakan jaringan otot akibat olahraga ekstrem tanpa diimbangi istirahat cukup.
Saat otot rusak, ia akan melepas mioglobin, kreatin fosfokinase (CPK), elektrolit, dan protein sarkoplasma ke dalam sistem sirkulasi darah. Proses ini dapat menyebabkan komplikasi sistemik.
Zat berbahaya ini mengalir ke darah, kemudian disaring ginjal. Ginjal sebenarnya telah bekerja untuk menyaring dan dibuang melalui urine. Namun, karena jumlah zat berbahaya terlalu besar, maka ginjal tidak mampu membuang limbah dalam waktu cepat. Pada akhirnya, ginjal mengalami kerusakan hingga terjadi gagal ginjal.

Selain karena olahraga berat, Rhabdomyolysis juga dapat terjadi karena kecelakaan, kelelahan ekstrem, trauma, hingga obat-obatan tertentu. Adapun gejala Rhabdomyolysis umumnya berupa pembengkakan otot, kelemahan otot, atau otot terasa nyeri dan sakit saat disentuh, sebagaimana dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention.
Penyakit ini juga dapat terlihat dari warna urine yang cenderung gelap seperti cokelat, merah, atau menyerupai warna teh. Selain itu, penderita Rhabdomyolysis bisa mengalami dehidrasi, mual, jarang buang air kecil, hingga kehilangan kesadaran.
Melansir laman Cleveland Clinic, penyakit Rhabdomyolysis disebabkan oleh sejumlah faktor. Pertama, cedera atau trauma otot yang menyebabkan serat otot rusak. Hal ini terjadi ketika permukaan tubuh terbakar, tersetrum listrik, atau tertindih.
Kedua, olahraga intensitas tinggi. Seseorang yang melakukan olahraga berat tanpa waktu istirahat yang cukup, otot terkadang tidak mampu untuk menanggung.
Ketiga, dehidrasi ekstrem dan suhu tubuh tinggi. Suhu tubuh panas dapat menyebabkan kerusakan otot yang lebih cepat. Sebab, ginjal tidak dapat membuang limbah tubuh tanpa asupan cairan yang cukup.

Keempat, konsumsi obat-obatan yang merusak otot. Seperti obat antipsikotik, antidepresan, antivirus, dan golongan obat statin. Kelima, seseorang yang tidak bergerak dalam waktu lama juga bisa memicu terjadi kerusakan otot.
Terakhir, kondisi medis tertentu juga dapat meningkatkan risiko Rhabdomyolysis, seperti penyakit McArdle dan distrofi otot Duchenne. Berikutnya, kondisi metabolik atau kelainan mitokondria tertentu semakin meningkatkan risiko terjadi Rhabdomyolisis.
Benarkah Rhabdomyolysis Bisa Picu Kematian Mendadak?
Saat terjadi Rhabdomyolysis, zat berbahaya dalam otot akan segera menyebar ke aliran darah. Pada situasi ini, ginjal memiliki peran penting untuk menetralisir dan membersihkan zat tersebut.
Secara medis, penanganan cepat Rhabdomyolysis sebenarnya bisa meminimalisir risiko kerusakan ginjal permanen. Sayangnya, Rhabdomyolysis dapat memicu terjadi komplikasi, seperti gagal ginjal akut, gangguan elektrolit, ketidakseimbangan zat kimia tubuh, pembengkakakan otot, hingga nekrosis tubular akut.
Menukil laman Centers for Disease Control and Prevention, kerusakan otot juga menyebabkan sindrom kompartemen, beberapa otot berkelompok di dalam selubung atau lapisan tipis berserat. Kondisi ini bisa saja menghambat aliran darah ke otot, yang menyebabkan kematian jaringan otot.

Apabila tidak segera ditangani, maka dapat menyebabkan kecacatan permanen bahkan kematian. Sindrom kompartemen lebih berisiko dialami oleh pasien dengan cedera remuk (crush injury). Lonjakan zat kalium yang dilepaskan otot juga bisa memicu gangguan detak irama jantung hingga menyebabkan detak jantung berhenti tiba-tiba dalam hitungan jam.
Laporan National Library of Medicine menyebutkan, diagnosis rhabdomyolysis dapat dilihat berdasarkan kadar kreatin fosfokinase (CPK) dalam serum. CPK menjadi parameter laboratorium untuk mendeteksi cedera otot.
Kendati begitu, tidak ada ambang batas kadar CPK spesifik yang ditetapkan untuk diagnosis. Beberapa dokter menggunakan ambang batas 3 hingga 5 kali lipat dari batas atas nilai normal ( 100–400 Unit/Liter)atau sekitar 1000 U/L. Namun, tingkat peningkatan kadar CPK tidak menentukan derajat keparahan kerusakan otot maupun cedera ginjal.

Metode Pengobatan dan Apakah Bisa Sembuh?
Saat Rhabdomyolysis belum terlalu parah, dokter akan memberikan cairan bikarbonat untuk mencegah kerusakan ginjal, baik melalui infus maupun cuci darah untuk membuang zat-zat berbahaya serta kadar elektrolit yang terlalu tinggi. Apabila produksi urine cukup, dokter akan memberi obat-obatan tertentu untuk menyelamatkan ginjal.
Pada kasus ringan, penderita Rhabdomyolysis dapat beraktivitas kembali. Namun, sebagian orang mungkin terus mengalami keluhan berupa kelelahan dan nyeri otot. Tindakan-tindakan medis tersebut tergantung pada keparahan ginjal.
Mengutip laman National Library of Medicine, pasien dengan Rhabdomyolisis akut yang disertai cedera ginjal akut, hiperkalemia, sindrom kompartemen, hipotensi, atau aritmia, harus dirawat di unit perawatan intensif yang didukungan ventilasi.

Apabila Rhabdomyolisis tidak terlalu parah dan segera mendapat pertolongan dokter, maka penyakit ini dapat disembuhkan dan pasien bisa beraktivitas kembali dalam beberapa waktu tertentu. Namun, sebagian pasien mengalami Rhabdomyolisis berulang hanya dengan trauma atau aktivitas fisik ringan.
Jika terjadi demikian, segera datang ke dokter untuk mendeteksi adanya kelainan genetik. Sebab, seseorang yang memiliki sifat sel sabit berisiko mengalami Rhabdomyolisis. Oleh karena itu, tindakan pencegahan khusus perlu diterapkan saat berpartisipasi dalam kegiatan olahraga terorganisasi maupun aktivitas fisik yang berat.
Perubahan pola makan terkadang dapat membantu menangani gejala miopati genetik. Adapun kunci meminimalkan cedera ginjal adalah menjaga kelancaran urine serta menjaga tingkat keasaman urine agar tidak terbentuk endapan.
Apabila mengalami otot kaku atau nyeri yang disertai dengan penurunan jumlah urine atau urine berwarna pekat, segera periksa ke dokter. Penanganan yang cepat turut memengaruhi peluang sembuh dan kembali beraktivitas.

Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id

































